
Gambar dari digitalpower.huawei.com
Oleh: Sigit Darmawan
Di era teknologi ini, hidup kita tidak lagi hanya bergantung pada tanah, udara, dan air—tetapi juga pada kabel serat optik, server, dan pusat data. Di tempat itulah jutaan identitas kita disimpan, berbagai keputusan dianalis, dan arah peradaban disusun oleh angka dan algoritma.
Data tidak lagi hanya sebuah informasi. Ia sudah menjadi fondasi kekuatan baru. Negara yang mampu menguasai data dan infrastrukturnya, mereka punya kekuatan untuk mendorong arah dunia.
Laporan Data Center Map (April 2025) menngungkap peta kekuatan yang sedang mengubah dunia. Amerika Serikat menjadi pusat kekuatan informasi dengan 3.648 pusat data (data center). Ini menjadi cermin terhadap kekuatan infrastruktur yang menopang kekuasaan ekonomi digitalnya: Amazon, Microsoft, Google.
Di beberapa langkah di belakang, China juga sedang membangun jalan kekuasaan digitalnya. Mereka memiliki 346 pusat data, yang tertaut dengan Alibaba, Tencent, dan Huawei. Seluruh data-data rakyatnya mereka jaga agar tetap berada di dalam pagar kedaulatan mereka.
Namun di tengah derasnya arus data global, banyak negara hanya menjadi terminal. Mereka tidak memiliki tempat tinggal untuk menyimpan data milik sendiri. Bahkan tidak ada pagar yang menjaga keluarnya data-data.
Salah satunya Indonesia. Kita belum termasuk dalam dua belas besar pemilik data center dunia. Padahal, kita menghasilkan ratusan juta jejak digital setiap hari. Mulai dari transaksi, percakapan, hingga citra wajah. Dan seluruh jejak digital itu sebagian besar tersimpan di dalam server-server yang tidak bisa kita jangkau.
Infrastruktur: Simbol Ketimpangan Baru?
Pusat Data adalah jantung dari cloud. Disinilah segala bentuk kecerdasan buatan dilatih, diolah, dianalisis, dan ditentukan algoritmanya. Data center menjadi simbol ketimpangan kekuasaan global yang tidak kita sadari. Negara-negara dengan ratusan data center mampu mengendalikan lalu lintas informasi global. Sementara negara lain hanya menjadi penumpang.
Kita memasuki sebuah realitas baru global: ketimpangan digital. Ketimpangan tidak hanya berarti tidak memiliki lahan atau air, tetapi juga tempat tinggal untuk menyimpan data sendiri.
China lebih awal menyadari hal tersebut. Mereka tidak hanya membangun pusat-pusat data dalam skala besar, tetapi juga menutup pintu keluar data nasionalnya. Bagi China, data adalah aset penting yang dijaga, dikelola, dan dilindungi.
Karena itu China telah menyiapkan infrastruktur untuk mendukung pembangunan data center. Dari pusat-pusat energi, sumber daya manusia yang kuat, dan kebijakan negara yang berpihak kepada kepentingan jangka panjang.
Ketika Rasio Menentukan Arah
Membangun pusat data tidak sekadar soal menambah server. Ada parameter penting lainnya, yaitu: rasio kebutuhan ruang dalam aktivitas digital. Rasio ini terkait dengan besaran jumlah data yang dihasilkan oleh masyarakat, dan ukuran ruang yang tersedia untuk menampungnya.
Membangun pusat data juga tidak hanya terkait hal-hal teknis, tapi tentang tanggung jawab untuk menjaga setiap data yang ada dalam setiap klik, transaksi, atau unggahan dari masyarakatnya. Itu adalah kehidupan bangsa yang dititipkan.
Kebutuhan ini diukur dan diperhatikan oleh negara-negara yang serius dengan masa depan digital mereka. Singapura adalah salah satu negara yang telah memenuhi kebutuhan daya untuk pusat data sampai ratusan kilowatt untuk setiap 100 ribu penduduknya.
Singapura memiliki ratio tertinggi di dunia dengan lebih dari 180 watt per orang, diikuti Amerika Serikat dengan sekitar 105 watt. Dua negara ini memiliki strategi digital paling agresif dan terstruktur (Mordor Intelligence, 2025).
Eropa berada di kisaran 16 watt, China 3 watt, dan Vietnam 5 watt. Sementara itu, Indonesia masih tertinggal di angka 1,8 watt per orang. Angka rasio kita ini mencerminkan ketidaksiapan kita dalam membangun infrastruktur digital.
Kebalikan dari negara-negara diatas, kita masih belum memiliki jumlah server yang memadai. Sementara disisi lain, ekosistem digital kita terus berkembang pesat dan makin kompleks, maka sudah seharusnya kita ruang yang memadai untuk data kita sendiri.
Yang perlu kita sadari adalah bahwa data bukan hanya milik industri atau pemerintah. Ia juga milik rakyat. Maka jika kita kekurangan pusat data untuk menampung semua data yang kita hasilkan, maka data itu akan terbawa ke tempat yang tidak bisa kita kendalikan. Meskipun kita masih bisa mengakses dan memanfaatkan datanya, tetapi kita tidak bisa menjamin keamanan datanya.
Kita perlu titik tolak baru dalam melihat situasi ini. Pusat data bukan sekedar sebagai fasilitas teknologi. Itu adalah fondasi kedaulatan digital masa depan. Layaknya sebuah rumah, pusat data harus dibangun dengan ukuran yang cukup, pondasi yang kuat, dan status kepemilikan yang jelas. Dengan demikian data kita tidak lagi menjadi tamu di rumah orang lain
Refleksi
Dahulu kita menitipkan masa depan kepada para pemimpin atau keapda kekuatan militer. Kini, kita mulai menitipkannya kepada server di pusat-pusat data.
Maka kita perlu bertanya apakah kita tahu di mana server tempat menyimpan data itu berada? Siapa yang menjaganya? Untuk siapa ia bekerja?
Dan jika masa depan kita dititipkan kepada fasilitas yang tidak kita miliki, maka itu bukan masa depan kita. Dan mungkin, bukan pula masa depan yang kita kehendaki.