AI Paradox #1: AI dan Gelombang Pemutusan Kerja Baru


Oleh: Sigit Darmawan

Kecerdasan buatan (AI) sedang tumbuh secara eksponensial. Teknologi ini tidak hanya mengubah pola konsumsi digital. AI kini juga mulai menyusun ulang lanskap ketenagakerjaan global.

Sejak awal 2024 hingga pertengahan 2025, ribuan pekerja dari berbagai perusahaan teknologi besar kehilangan pekerjaan. Bukan karena krisis keuangan, tetapi akibat efisiensi sistem yang digerakkan oleh AI.

Fenomena ini bukan gejala sesaat. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi adalah bagian dari transisi strategis. Dunia kerja tengah bergerak menuju era AI-first organization.

AI tak lagi sekadar alat bantu. Kini ia menjadi fondasi. Peran-peran rutin dan administratif yang dulu dijalankan manusia, kini diambil alih mesin.

Dinamika Pemutusan Kerja Terkini

Laporan TrueUp.io mencatat, hingga Juli 2025 telah terjadi lebih dari 96.000 kasus PHK di sektor teknologi global. Jika dihitung sejak awal 2024, totalnya melampaui 150.000 kasus.

Microsoft, pemimpin industri AI, memangkas sekitar 9.000 pekerja. Ini dilakukan dalam beberapa tahap. Tujuannya adalah restrukturisasi besar-besaran demi mendukung ekspansi Azure AI dan Copilot (TrueUp.io).

Scale AI juga melakukan langkah serupa. Perusahaan rintisan yang menyediakan data untuk sistem generatif ini memberhentikan 14% karyawannya. Padahal, mereka baru saja mendapat investasi strategis dari Meta.

CEO Scale AI, Alexandr Wang, menyebut mereka “terlalu cepat membangun kapasitas AI.” Namun belum memiliki model bisnis yang seimbang (The Verge, 2025).

IBM juga tak ketinggalan. Ribuan posisi di bidang SDM dan keuangan dialihkan ke sistem otomatis. Laporan Global Trade Magazine menyebutkan bahwa sejak 2024, lebih dari 8.000 jabatan administratif telah digantikan oleh sistem AI (GlobalTradeMag, 2025).

Gelombang ini juga menyentuh perusahaan perangkat lunak seperti Salesforce, Dell, dan Google. Yang menarik, PHK ini bukan karena kerugian atau menurunnya kinerja keuangan. Justru sebaliknya.

Perusahaan-perusahaan ini sedang tumbuh. Namun, mereka memilih struktur organisasi baru. Lebih ramping dan berorientasi pada otomasi cerdas.

Bukan Krisis, Melainkan Koreksi Struktur

Krisis 2008 mendorong PHK karena likuiditas yang mengetat. Pandemi 2020 menyebabkan PHK karena pembatasan operasional. Tapi gelombang saat ini berbeda.

Pemicunya adalah perubahan model kerja. Perusahaan mulai mengidentifikasi peran yang bisa diotomatisasi. Lalu menggantinya dengan sistem digital berbasis pembelajaran mesin.

Pertama, layanan pelanggan, rekrutmen, dan pengelolaan data banyak yang sudah dialihkan ke chatbot atau algoritma pembuat keputusan.

Kedua, struktur organisasi tradisional dianggap usang. Jenjang supervisi yang panjang dinilai tidak responsif terhadap perubahan data real-time.

Ketiga, banyak unit pendukung yang dulunya penting kini digabung atau dihapus. Perannya digantikan oleh sistem digital yang lebih efisien.

Dengan kata lain, AI sedang melakukan reorganisasi besar-besaran atas peran manusia dalam organisasi.

Bayangan dan Peluang

Situasi ini menimbulkan ketidakpastian. Tapi tidak sepenuhnya bersifat distopik.

Mantan Wakil Presiden SDM Microsoft, Chris Williams, mengatakan bahwa gelombang ini justru membuka ruang baru. Profesi seperti spesialis tata kelola AI, perekayasa prompt, dan pengembang produk berbasis pembelajaran mesin makin dibutuhkan (Business Insider, 2025).

Laporan World Economic Forum (2025) juga mendukung hal ini. Sekitar 40% pemberi kerja global sedang meninjau kembali struktur tenaga kerjanya. Banyak yang memperkirakan akan mengganti sebagian besar peran otomatisasi dalam tiga tahun ke depan.

Namun, profesi baru juga terus bermunculan. Beberapa bahkan belum dikenal lima tahun lalu.

Inilah paradoks AI. Ketika mesin menggantikan manusia, pada saat yang sama, mesin juga membuka ruang kerja baru. Tapi hanya untuk manusia yang bersedia beradaptasi.

Refleksi

Tantangan utama kini bukan lagi mempertahankan pekerjaan lama. Tapi menyelaraskan kompetensi dengan kebutuhan baru.

Kemampuan seperti empati, berpikir kritis, pemecahan masalah kompleks, dan kolaborasi lintas disiplin kini jadi kunci. Ini adalah nilai utama dalam era kerja berbasis AI.

Daripada mempertahankan jabatan yang bisa digantikan, lebih baik kita bersiap. Menjawab pertanyaan yang lebih besar: apa yang hanya bisa dilakukan oleh manusia? Dan bagaimana kita mempertajam nilai itu?

Dunia kerja sedang disusun ulang. Ketika peran lama sirna, yang tersisa bukan sekadar pekerjaan baru. Yang tersisa adalah cara berpikir baru.

Ini bukan semata-mata soal teknologi. Ini soal kesiapan kita untuk berubah.

#AIParadox #FutureWork #LayOff #Reskilling #Upskilling #TransformasiDigital

Leave a comment