Api dari Nepal: Avishkar Raut dan Kebangkitan Generasi Z




Oleh: Sigit Darmawan

“Suara anak muda bisa menjadi bara kecil yang menyalakan api perubahan besar.”

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan; ia menemukan buktinya di Nepal, Maret 2025. Seorang pelajar SMA bernama Avishkar Raut berdiri di mimbar sekolahnya, menyampaikan pidato yang awalnya sederhana. Namun, rangkaian ucapannya yang menyala-nyala berubah menjadi suluh nasionalisme baru.

Video pidato itu meluas, memicu gelombang demonstrasi generasi muda, hingga akhirnya berperan dalam jatuhnya Perdana Menteri Nepal.



Avishkar Raut, siswa 16 tahun dari Holy Bell English Secondary School (Everlasting Imperial Institute), tidak pernah menyangka pidato sekolahnya akan menjadi titik balik sejarah. Dengan sapaan “Jai Nepal!”, ia menegaskan keresahan generasinya: pengangguran, korupsi, dan permainan politik yang menjerat masa depan.

Pidato itu tidak hanya bergema di aula sekolah, melainkan juga di ruang digital. Video rekamannya ditonton lebih dari 5 juta kali di YouTube dalam dua pekan pertama dan sarat komentar dari warga Nepal, baik di dalam maupun di luar negeri.

Media internasional seperti Republic World, IndiaTimes, dan South China Morning Post mengutip potongan pidatonya, menyebutnya “Greta Thunberg dari Nepal” karena gaya retorikanya yang membangkitkan kesadaran kaum muda.

(Greta Thunberg adalah seorang aktivis lingkungan remaja asal Swedia yang menjadi simbol gerakan global “Fridays for The Future“. Ia terkenal karena aksi protesnya dan pidato-pidatonya yang terus terang menuntut tindakan segera menangani krisis iklim dari para pemimpin dunia.)

Tagar #JaiNepalSpeech sempat menjadi tren di Twitter dan TikTok Asia Selatan, serta dibicarakan di acara bincang televisi Nepal dan kolom opini media internasional.

Dalam pidatonya, Raut menyerukan: “We are the fire that will burn away the darkness.” Ucapan ini menyentuh denyut nadi generasi Z Nepal, yang jenuh dengan janji kosong dan politik korup.

Avishkar tidak berhenti di mimbar. Ia turun langsung ke jalan, menggenggam pengeras suara, memimpin barisan muda dalam aksi-aksi protes di Kathmandu.

Gelombang protes yang dipicu Avishkar menjalar cepat. Media sosial menjadi bahan bakar yang menyebarkan pidatonya ke seluruh negeri. Generasi Z, yang tadinya dianggap apatis, justru tampil di garis depan menuntut pertanggungjawaban dan pembaruan.

Demonstrasi ini tidak sekadar simbol. Kerusuhan meletus, korban jiwa berjatuhan, dan akhirnya Perdana Menteri KP Sharma Oli mundur dari jabatannya.

Banyak pihak menilai Avishkar sebagai bukti bahwa satu suara dapat memicu pergeseran rezim di era media sosial. Bukti bahwa generasi digital mampu mempercepat krisis legitimasi negara ketika pemerintah abai terhadap tuntutan publik.

Lalu, bagaimana Indonesia membaca suara anak muda? Kisah Avishkar Raut memberikan pelajaran penting, terutama bagi Indonesia:

Pertama, kekuatan suara generasi muda. Anak muda kerap dipandang belum matang untuk politik. Namun, pengalaman Nepal memperlihatkan energi, keberanian, dan idealisme mereka justru bisa mengubah arah bangsa. Di Indonesia, potensi itu ada pada 69 juta generasi Z yang kini memasuki usia produktif.

Kedua, media sosial sebagai panggung politik baru. Meluasnya pidato Raut menunjukkan ruang digital mampu mengubah keluhan pribadi menjadi gerakan bersama. Peneliti media digital keturunan Turki-Amerika, Zeynep Tufekci, menegaskan bahwa “platform daring bukan hanya sarana komunikasi, melainkan mesin penggerak.” Konteks ini relevan bagi Indonesia yang akrab dengan politik media sosial.

Ketiga, narasi yang menggugah lebih kuat daripada angka. Raut tidak menampilkan deret data panjang. Ia berbicara dengan bahasa yang menyala—narasi yang membangunkan harapan.

Inilah yang hilang di Indonesia. Kita sering larut dalam perdebatan teknis, jargon kebijakan, atau angka yang sulit dipahami publik. Padahal dalam masyarakat majemuk, bahasa yang sederhana justru lebih sanggup menembus batas identitas dan mempersatukan.

Keempat, pentingnya ruang aman untuk ekspresi. Nepal membuktikan, ketika jalur politik resmi tertutup, generasi muda menciptakan jalannya sendiri.

Di Indonesia, ruang ekspresi anak muda memang terbuka luas di media sosial, tetapi kerap terjerat dalam perdebatan dangkal, polarisasi politik, atau sekadar tren sesaat yang segera meredup. Narasi besar tentang masa depan bangsa sering tersisih oleh isu ringan, sensasi selebritas, atau perang tagar yang hanya menguntungkan kalangan elite politik.

Indonesia kini bersiap menuju 2045 dengan cita-cita menjadi negara maju. Namun pertanyaannya: apakah generasi mudanya akan puas hanya menjadi “pendengung” dan penonton layar, atau berani tampil sebagai penggerak yang melampaui sekadar konten viral?

Suara-suara kritis seperti Avishkar Raut seharusnya dipandang sebagai vitamin moral, bukan ancaman. Anak muda Indonesia pun bisa mengambil peran serupa: menyalakan api perubahan dengan sikap jujur, terbuka, dan penuh tanggung jawab. Bukan semata melalui unggahan singkat di TikTok atau Instagram, melainkan lewat gerakan nyata di masyarakat.

Avishkar mengingatkan kita bahwa satu pidato mampu mengguncang kursi kekuasaan. Tetapi api itu dapat padam jika tidak dijaga dan diarahkan. Tantangan bagi Indonesia hari ini adalah bagaimana menjadikan bara suara anak muda bukan sekadar letupan emosional, melainkan tenaga perubahan yang berkesinambungan.

Maka, pertanyaan yang relevan bagi kita: “Apakah anak muda Indonesia siap mengubah energi digitalnya menjadi kekuatan sosial-politik yang membakar kegelapan ketidakadilan, atau akan terus hanyut dalam pengalihan dan hiburan semu?”

Leave a comment