
Gambar: builtincolorado.com
Oleh: Sigit Darmawan
Salemba. Senin siang. 22 Desember 2025
Dunia hari ini bergerak cepat. Terlalu cepat, bahkan. Disrupsi datang dari berbagai arah—ekonomi yang tidak stabil, teknologi yang berubah tanpa jeda, tekanan sosial yang kian kompleks, hingga geopolitik yang sulit diprediksi. Dalam situasi seperti ini, organisasi nir laba sering berada di posisi paling rapuh.
Mereka harus tetap relevan. Harus bertahan secara finansial. Harus adaptif. Namun pada saat yang sama, mereka tidak boleh kehilangan jati diri. Tidak boleh menjauh dari panggilan awal yang melahirkan organisasi itu sendiri.
Refleksi ini terasa sangat nyata bagi saya setelah pertemuan dan diskusi panjang bersama sahabat yang saya hormati, Dr. Sigit Triyono, Sekretaris Umum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Percakapan itu bukan sekadar pertemuan formal. Ia menjadi ruang perenungan tentang kepemimpinan, ketahanan, dan arti bertahan tanpa kehilangan arah.
Dalam perjumpaan tersebut, saya juga menyerahkan buku Trade War 2.0. Buku yang lahir dari kegelisahan atas geopolitik dan rantai pasok global. Namun justru dari sana, dialog kami melebar. Tidak lagi soal pabrik, tarif, atau logistik, melainkan tentang organisasi, nilai, dan daya lenting manusia di tengah perubahan zaman.
Hampir dua jam kami berdiskusi. Dan dari sana muncul satu kesimpulan sederhana, tetapi mendalam:
organisasi nir laba tidak bertahan karena sistem yang canggih atau dana yang besar. Mereka bertahan karena kepemimpinan yang dipandu oleh misi.
Ketika krisis datang, misi menjadi kompas. Ia menjaga arah. Ia menahan organisasi agar tidak tergelincir ketika tekanan semakin besar.
Misi sebagai Penopang di Tengah Ketidakpastian
Dalam Managing the Non-profit Organization (1990), Peter F. Drucker pernah mengingatkan bahwa kekuatan utama organisasi nir laba justru terletak pada kejelasan misinya. Bukan pada ukuran organisasi, bukan pula pada kecanggihan manajemennya.
Ketika misi kabur, profesionalisme bisa berubah menjadi jebakan. Efisiensi menjadi tujuan. Keberlanjutan finansial perlahan menggantikan panggilan pelayanan.
Krisis sering memaksa pemimpin mengambil keputusan cepat. Di titik inilah misi bekerja sebagai jangkar. Ia membantu membedakan mana adaptasi yang sehat dan mana kompromi yang pelan-pelan menggerus identitas. Tanpa misi yang hidup, organisasi mungkin selamat secara ekonomi, tetapi kehilangan ruhnya.
LAI: Menjaga Arah, Bertumbuh Tanpa Kehilangan Diri
Dalam percakapan saya dengan Dr. Sigit Triyono, prinsip ini terasa nyata. Bukan sekadar teori. Di bawah kepemimpinannya, LAI berupaya membangun ketahanan organisasi secara bertahap dan kontekstual.
Secara internal, fokus pada mandat utama tetap dijaga. Tata kelola diperkuat agar akuntabel dan transparan, namun tidak kaku. Ada ruang untuk belajar. Ada kelenturan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan sosial, teknologi, dan demografi. Transformasi dilakukan bukan untuk menjadi korporasi, melainkan agar pelayanan tetap relevan.
Jejaring juga dirawat dengan sungguh-sungguh. Gereja, lembaga pendidikan, komunitas lokal, dan mitra strategis tidak diposisikan sekadar sebagai pendukung program, tetapi sebagai bagian dari ekosistem misi yang saling menopang.
Dari sisi pembiayaan, LAI secara sadar menempuh jalan yang tidak mudah: memperkuat kemandirian lokal. Ketergantungan pada donasi luar negeri dikurangi secara bertahap. Proses ini tidak instan. Namun justru di sanalah ketahanan dibangun—berbasis kepercayaan publik domestik dan partisipasi komunitas sendiri. Pengalaman ini kerap dipandang sebagai pembelajaran berharga dari konteks Indonesia bagi organisasi sejenis di negara lain.
Godaan Komersialisasi yang Mengintai
Dalam dua dekade terakhir, banyak organisasi nir laba tergoda mengadopsi praktik dunia usaha. Tidak semuanya keliru. Namun risikonya nyata. Para peneliti menyebutnya mission drift—ketika logika pasar perlahan menggantikan logika pelayanan.
Di tengah tekanan pendanaan dan tuntutan hasil cepat, ukuran keberhasilan bisa menyempit menjadi angka, laporan, dan visibilitas. Tanpa kepemimpinan yang berakar pada misi, organisasi bisa bertahan secara finansial, tetapi kehilangan makna dan kepercayaan.
Diskusi kami kembali menegaskan satu hal: adaptasi memang perlu, tetapi arah tidak boleh kabur.
Kepemimpinan berbasis misi bukan penolakan terhadap profesionalisme. Justru sebaliknya. Organisasi yang sehat memadukan disiplin manajerial dengan kesetiaan pada tujuan inti. Bedanya terletak pada urutan: misi lebih dulu, sistem menyusul. Nilai menjadi fondasi, alat hanyalah sarana.
Pemimpin yang matang berani berkata “tidak” pada peluang yang menggiurkan, tetapi berpotensi menjauhkan organisasi dari mandatnya. Mereka tahu, tidak semua pertumbuhan adalah kemajuan.
Bertahan dengan Utuh
Pelajaran ini tidak hanya relevan bagi organisasi nir laba. Di era Trade War 2.0, ketika dunia usaha pun dilanda krisis kepercayaan dan disrupsi berlapis, kepemimpinan berbasis tujuan menjadi semakin penting.
Organisasi nir laba mengingatkan kita bahwa bertahan tidak selalu berarti menyerupai korporasi. Relevan tidak selalu berarti tunduk pada logika pasar.
Kepemimpinan misi bukan romantisme masa lalu. Ia adalah strategi ketahanan jangka panjang. Dan di tengah dunia yang terus berguncang, mungkin justru itulah kepemimpinan yang paling dibutuhkan hari ini.
Terima kasih Dr Sigit Triyono untuk pertemuan dan diskusi bernasnya.
Selamat Natal 2025!