Menutup Tahun, Membaca Dunia: Dua Bulan Perjalanan Trade War 2.0


(Titik Senja Dieng. Selasa pagi. 30 Desember 2025.)

Dua bulan terakhir di penghujung 2025 terasa berbeda bagi saya. Beragam percakapan telah saya jalani. Sejak November hingga Desember, buku Trade War 2.0 tidak hanya berpindah dari satu tangan ke tangan lain, tetapi juga berpindah dari satu ruang pemikiran ke ruang pemikiran yang lain.

Saya berjumpa dengan pemimpin industri, pelaku bisnis, pengurus asosiasi, akademisi, birokrat, hingga para profesional dari beragam sektor—manufaktur, oil & gas, FMCG, otomotif, transportasi, asuransi, pembiayaan, ritel, layanan, pendidikan, energi, teknologi, organisasi nir laba, dan sebagainya. Dan sudah ratusan buku sampai di tangan mereka.

Ada diskusi santai di sela pertemuan informal. Ada pula forum resmi, talkshow, dan konferensi dengan ratusan peserta. Setiap ruang memiliki konteksnya sendiri. Namun ada benang merah yang terasa kuat di semua percakapan itu: dunia sedang berubah lebih cepat dari yang kita duga, dan banyak organisasi belum sepenuhnya siap membacanya.

Dalam setiap diskusi, saya semakin menyadari bahwa Trade War 2.0 bukan dipersepsikan sebagai buku tentang tarif atau konflik antarnegara semata. Ia dibaca sebagai cermin tentang ketidakpastian global yang nyata—tentang bagaimana geopolitik memengaruhi keputusan investasi, rantai pasok, kebijakan energi, pembiayaan, ketahanan bisnis, hingga strategi sumber daya manusia.

***
Banyak pemimpin yang awalnya merasa isu trade war 2.0 “terlalu global” justru menemukan relevansinya ketika kami berbicara tentang kenaikan biaya material, gangguan logistik, tekanan regulasi, atau perubahan perilaku pasar.

Saya melihat sendiri bagaimana topik-topik dalam buku ini—fragmentasi global, regionalisasi, nearshoring, digitalisasi, dan ketahanan—diterjemahkan secara berbeda oleh tiap sektor. Di industri manufaktur dan otomotif, percakapan banyak berputar pada kerapuhan dan ketergantungan pasokan global. Diversifikasi pemasok dan penataan ulang basis produksi kini menjadi kebutuhan strategis, bukan lagi pilihan.

Di sektor energi dan oil & gas, isu ketahanan energi, transisi, dan geopolitik komoditas menjadi isu utama. Di dunia pembiayaan dan asuransi, fokusnya bergeser pada manajemen risiko, ketidakpastian jangka panjang, dan implikasi terhadap model bisnis. Sementara di ritel, logistik, dan FMCG, isu kecepatan, visibilitas, dan keandalan pasokan menjadi perhatian utama.

Kesempatan berbicara dalam event nasional di hadapan ratusan profesional dan para pemimpin eksekutif organisasi, memberi saya perspektif lain. Banyak peserta tidak mencari jawaban instan. Mereka mencari kerangka berpikir. Mereka ingin memahami mengapa dunia berubah, bagaimana perubahan itu saling terhubung, dan apa yang bisa dilakukan secara realistis di organisasi masing-masing.

Di titik inilah saya semakin yakin bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada kurangnya teknologi atau data, tetapi pada cara kita membaca perubahan dan membangun kesiapan manusia di dalam organisasi.

***
Perjalanan dua bulan ini juga mengajarkan satu hal penting: dialog lintas sektor jauh lebih kaya dibandingkan diskusi yang terkotak-kotak. Ketika pelaku industri berbicara dengan akademisi. Ketika birokrat berdialog dengan profesional korporasi. Ketika pengusaha bertukar pandangan dengan praktisi risiko. Disitu muncul pemahaman yang lebih utuh tentang kompleksitas dunia hari ini.

Trade war, geopolitik, dan rantai pasok ternyata tidak berdiri sendiri. Ia bersinggungan dengan kepemimpinan, budaya organisasi, kebijakan publik, dan keberanian mengambil keputusan jangka panjang.

Menjelang akhir 2025, saya menutup perjalanan ini dengan rasa syukur dan refleksi. Buku Trade War 2.0 mungkin lahir dari analisis dan data, tetapi ia tumbuh melalui percakapan.

Setiap diskusi memperkaya maknanya. Setiap pertanyaan mengasah ulang argumennya. Dan setiap pertemuan mengingatkan saya bahwa tujuan utama buku ini bukanlah memberi jawaban final, melainkan membantu para pemimpin membaca zaman dengan lebih jernih.

Menutup 2025, saya percaya satu hal: masa depan tidak akan ramah pada mereka yang menutup mata, tetapi akan memberi ruang bagi mereka yang mau membaca peta dunia dengan rendah hati dan bertindak dengan bijaksana.

Sebagai kelanjutan dari perjalanan ini, saya sedang menyusun serial tulisan populer yang membahas isu-isu Trade War 2.0 dari beragam perspektif—kepemimpinan, human capital, energi, pembiayaan, kebijakan publik, hingga refleksi praktis lintas industri—sebagai pelengkap dari buku trade war 2.0 saya tersebut.

Jika tertarik untuk serial tersebut, saya mengundang rekan-rekan untuk subscribe newsletter saya Smart Insight: Lead or Get Disrupted”. Sejak April 2025, newsletter saya telah diikuti hampir 300 pemimpin eksekutif dari berbagai sektor dan industri.

Newsletter ini telah menjadi ruang dialog berkelanjutan untuk membaca perubahan global dan implikasinya bagi pengambilan keputusan strategis.

Silahkan ikuti link berikut:

https://bit.ly/lead-or-get-disrupted

Selamat mempersiapkan tahun 2026 !

Leave a comment