Natal Dan Qurban


Bukan suatu kebetulan, jika hari raya Natal tahun ini berdekatan dengan hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban. Namun ada pesan yang perlu kita renungkan dengan kedekatan dua hari raya ini bagi kehidupan kita sebagai umat manusia beragama, khususnya di Indonesia. Dalam pandangan Islam, Idul Qurban adalah simbol pengorbanan dan ketaatan untuk pembebasan harkat manusia, ketika Nabi Ibrahim mewujudkan cinta kasihnya kepada Tuhan dengan ketaatan mengorbankan Ismail untuk diserahkan kepada Tuhan, yang kemudian digantikan dengan seekor domba. Ketaatan dan pengorbanan karena cinta adalah makna sentral dalam perayaan Idul Adha. Idul Qurban ini juga dimaknai oleh penganut Islam sebagai sebuah perenungan dan ajakan untuk berbagi dan berkorban bagi sesama. Di luar Indonesia, perayaan Idul Qurban dirayakan lebih meriah dibandingkan dengan Idul Fitri, karena kedalaman maknanya tersebut.

Natal juga berbicara tentang kasih, pengorbanan, dan ketaatan; tentang Tuhan yang rela dan bersedia menjadi manusia, karena cinta kasihNya kepada manusia sebagai sebuah upaya untuk mengembalikan harkat dan citra manusia yang sudah berdosa. Kedatangan Tuhan, melalui kelahiran Yesus Kristus, adalah wujud kepedulianNya akan penderitaan manusia yang terperosok dalam kenistaan dosa, yang membuatnya tidak mampu lagi menghargai manusia, selalu dalam konflik dengan sesamanya, dan selalu memberontak terhadap Sang Pencipta nya. KelahiranNya sebagai simbol cinta dan pengorbananNya kepada manusia adalah rahmat bagi umat manusia. IA memulihkan citra manusia, peduli dengan pergumulan manusia, dan hadir dalam setiap persoalan manusia.

Natal dan Idul Qurban memberikan pesan mendalam dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Sembilan tahun sejak reformasi bergulir, kita belum mampu keluar dari kesulitan kita di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Bangsa kita makin terpuruk dalam berbagai hal: kemiskinan, ketidakadilan sosial dan ekonomi, persaingan global, ketidakpastian hukum, kualitas sumber daya manusia, tidak terselesaikannya berbagai persoalan HAM dan sebagainya. Kita menjadi bangsa yang terus menurun kualitasnya dan “terlecehkan” oleh bangsa lain. Solidaritas bangsa dan kerelaan berkorban sebagai sebuah modal berharga bagi kebangkitan kehidupan bangsa kita, jauh dari kita miliki. Momen Natal dan Idul Qurban seharusnya menjadi momen perekat bagi kita dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan kita sebagai bangsa, karena nilai-nilai kebersamaan yang terkandung dalam kedua perayaan tersebut.

Semangat cinta kasih, pengorbanan, penghargaan martabat manusia haruslah kita pikirkan pengejawantahannya dalam praksis kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kita perlu menahan diri untuk hidup dalam kesederhanaan, karena jutaan masyarakat masih berhadapan dengan persoalan kemiskinan. Sikap ini diperlukan supaya kita tidak “melukai” masyarakat lainnya yang masih bergelut kemiskinan tersebut. “Berbagi” adalah salah satu bentuk solidaritas dan kesetiakawanan yang amat dibutuhkan dalam mengatasi berbagai persoalan sosial tersebut. Dalam berbagai bentuknya (tenaga, pikiran, dana dan sebagainya), “berbagi” adalah sebuah pemberdayaan masyarakat untuk keluar dari persoalan yang tidak mampu diselesaikan sepenuhnya oleh pemerintah. Membangun komunitas-komunitas sosial yang baru untuk mengalang potensi masyarakat, mendorong tumbuhnya kesetiakawanan, mensosialisaikan nilai-nilai kemanusiaan akan sangat penting dalam membangun dan membangkitkan kembali ketangguhan kita sebagai bangsa. Semoga semangat Natal dan Qurban tahun ini mampu merubah hasrat, kehendak, niat, keseriusan, dan kesungguhan kita sebagai bangsa untuk berubah dalam perjuangan panjang mensejahterakan manusia Indonesia.

One response to “Natal Dan Qurban

  1. Pembahasan yang menyatukan umat beragama dan memacu semangat saling memberi manfaat.
    Great !

Leave a reply to Happy Tjahyono Cancel reply