Melihat yang Kita Miliki: Pendekatan Baru Mengubah Organisasi Lewat Appreciative Inquiry


Oleh: Sigit Darmawan

Dua orang berdiri di ujung tebing. Yang satu menatap gunungan hasil kerja keras, tersenyum sambil berkata, “Lihat apa yang sudah kita capai!” (Asset Based).
Yang lain menunjuk ke seberang, ke lubang kosong, sambil mengeluh, “Kita belum punya ini dan itu.” (Deficit Focused)

I.
Dua sudut pandang berbeda. Dua cara mengelola perubahan. Dan hasilnya bisa sangat berbeda.

Jumat 13 Juni 2025 lalu saya menghadiri peluncuran buku “Manajemen Strategis: Model Roket ST” yang ditulis oleh kawan saya, Dr. Sigit Triyono, Sekum LAI di gedung LAI. Buku itu ditulis sebagai panduan bagaimana organisasi nirlaba menyusun peta jalan perubahan yang komprehensif, tetap bertahan, serta berkembang dalam berbagai tantangan jaman dan multi krisis.

Salah satu konsep yang menarik dan menjadi bagian dari model Roket ST adalah Appreciative Inquiry (AI) atau Penjelajahan Apresiatif. Saya coba mendalami kembali konsep tersebut, tetapi dengan perpektif yang berbeda ketika diterapkan di organisasi.

Ketika sebuah organisasi menghadapi kemandegan, bahkan kemunduran dalam aktivitasnya, ada sebuah pertanyaan kritikal untuk dijawab: Kenapa banyak perubahan-perubahan yang telah dilakukan di organisasi tidak pernah sampai ke tujuan?

Seringkali ketika menghadapi masalah, stagnasi, atau kemunduran, organisasi segera menggelar pertemuan dan mulai mengajukan pertanyaan:

“Apa yang salah? Siapa yang harus bertanggung jawab? Apa yang perlu kita evaluasi ulang?”

Cara ini memang wajar dan logis, tapi seringkali justru membuat orang-orang di organisasi akan merasa tertekan. Karena fokusnya hanya pada kekurangan, dan lupa melihat hal-hal yang sebenarnya berjalan baik.

AI menawarkan cara pandang baru. Alih-alih berfokus pada masalah, kita diajak melihat kekuatan yang kita miliki. Apa hal-hal terbaik yang pernah dilakukan organisasi, keberhasilan yang pernah dicapai organisasi, dan bagaimana bisa mengembangkannya ke depan.

AI bukan sekadar metode atau alat bantu manajemen. Ia adalah cara melihat organisasi dengan kacamata yang berbeda. Kalau biasanya kita bertanya: “Apa yang salah dengan sistem ini?”. Maka dengan AI, kita bertanya:

“Kapan terakhir kali tim kita benar-benar bekerja dengan semangat tinggi? Dan apa yang membuat itu terjadi?”

AI berangkat dari keyakinan bahwa setiap organisasi pasti punya kekuatan— cerita, pengalaman, keberhasilan, nilai— yang bisa dijadikan fondasi untuk tumbuh.

II.
Ada lima prinsip utama AI yang mengubah cara pandang kita. Itu semuanya berangkat dari satu pemikiran: kata-kata dan cerita selalu punya kekuatan besar.

(1). Segalanya Dimulai dari Cerita. Apa yang kita bicarakan setiap hari, itulah yang membentuk kenyataan di organisasi. Kalau yang kita obrolkan dan diskusikan cuma masalah atau konflik, maka energi kita habis untuk itu. Tapi kalau kita rutin membicarakan keberhasilan dan hal-hal positif, maka arah organisasi akan bergerak ke sana.

(2). Pertanyaan Itu Menentukan Arah. Seringkali, pertanyaan pertama yang kita ajukan saat memulai sebuah proyek atau evaluasi program, tanpa sadar menjadi penentu arah diskusi selanjutnya.

(3). Kisah Baik Layak Diperbesar. Organisasi itu seperti buku terbuka. Kita bisa memilih bab mana yang ingin kita teruskan. AI mengajak kita melanjutkan cerita yang penuh makna, bukan terus-menerus cerita yang melemahkan. Kita harus melihat hal-hal baik dari setiap krisis, agar organisasi bisa diarahkan ke perbaikan kearah positif

(4). Masa Depan Dimulai dari Imajinasi. Apa yang kita bayangkan tentang masa depan, memengaruhi langkah kita hari ini. Ketika harapan dibangun bersama, semangat kolektif muncul. Organisasi harus terus-menerus membangun harapan, agar semangat membangunnya bisa berkembang.

(5). Optimisme Itu Menular. Ketika orang merasa dihargai, didengar, dipercaya, dan diperhatikan, maka muncul energi baru untuk berkontribusi dalam organisasi.

III.
Covenant Health – Menyembuhkan dari Dalam (Sebuah Studi Kasus)

Watkins & Mohr dalam bukunya “Appreciative Inquiry: Change at the Speed of Imagination” (2001) menyebutkan Covenant Health System (CHS) adalah contoh transformasi budaya di sistem layanan kesehatan berbasis spiritual melalui AI.

CHS di Texas pernah mengalami masa ketika semangat pelayanan perlahan memudar. Bukan karena minimnya alat medis atau krisis pasien, tapi karena suasana kerja yang makin kering. Staf rumah sakit mulai merasa jenuh, apatis, komunikasi jadi formal, dan nilai-nilai spiritual yang dulu menjadi roh organisasi terasa menjauh.

Alih-alih membuat kebijakan baru, pimpinan rumah sakit memilih mendengarkan. Semua staf—dari dokter hingga petugas kebersihan—diundang duduk bersama. Mereka hanya diminta berbagi satu hal: “kapan mereka merasa paling berarti bekerja di Covenant”?

Sesi-sesi itu membuka ruang jujur dan hangat. Ada kisah perawat yang melihat pasien kembali tersenyum, atau petugas logistik yang bangga bisa mengantar alat medis ke rumah sakit kecil di tengah badai.

Dari cerita-cerita itulah Covenant menemukan kembali semangat dan nilai-nilainya. Meskipun tidak ada grafik yang mencatat perubahan, tapi suasana mulai berubah: relasi antartim membaik, rasa saling percaya tumbuh, dan semangat melayani muncul lagi.

Bagi mereka, proses ini bukan strategi manajemen– melainkan proses penyembuhan yang dimulai dari keberanian untuk saling mendengar.

IV. Refleksi:
Appreciative Inquiry mengingatkan kita bahwa organisasi bukan hanya soal struktur dan target. Ia juga soal rasa bangga, makna, dan cerita yang kita bawa bersama.

Di tengah tekanan, problem, dan tuntutan perubahan di organisasi kita, model AI mengajak kita untuk tidak terburu-buru bertanya: “Apa masalah kita?”

Tapi untuk berani duduk bersama dan bertanya:

“Apa kekuatan terbaik kita yang layak dibawa ke masa depan? Apa yang sudah berjalan baik di tempat ini, dan bagaimana kita bisa menjadikannya lebih besar?”

Sering kali, perubahan besar justru dimulai dari obrolan sederhana—yang mengingatkan kita pada: siapa kita sebenarnya, dan apa pernah dan yang bisa kita lakukan bersama. Bagaimana dengan organisasi pelayanan anda?

Leave a comment