
Oleh: Sigit Darmawan
Selama puluhan tahun, perusahaan memuja satu mantra: lean. Kata itu identik dengan merampingkan proses, memangkas pemborosan, dan mengefisiensikan biaya. Di ruang rapat, lean supply chain menjadi jargon sakti. Prinsipnya tampak sederhana: semakin ramping rantai pasok, semakin kompetitif perusahaan.
Namun alam permainan berubah. Krisis chip, pandemi, perang Rusia–Ukraina, serta ketegangan antara Amerika dan Tiongkok memperlihatkan satu hal jelas — ramping saja tidak memadai. Rantai pasok yang terlalu kurus justru mudah rapuh. Maka muncul gagasan baru: The New Lean — rantai pasok yang tidak hanya kurus, melainkan juga rampak, lincah, dan berdaulat.
Dari Lean ke The New Lean
Asal muasal lean dikenal lewat industri otomotif Jepang, khususnya Toyota. Filosofinya: buang kegiatan yang tidak bernilai, fokus pada aliran kerja yang lancar (Womack, Jones & Roos, The Machine That Changed the World, 1990). Hasilnya dramatis: biaya turun, mutu naik, kecepatan meningkat. Banyak perusahaan meniru.
Tetapi sisi gelapnya nyata. Stok ditekan seminimal mungkin demi efisiensi. Pemasok dipilih berdasarkan biaya. Jarak distribusi memanjang karena upah murah di beberapa negara. Seluruh sistem berjalan baik—sampai yang kecil tersendat. Saat itu, efeknya besar.
The New Lean menjaga semangat merampingkan pemborosan, tapi menambahkan dua dimensi penting: resiliensi dan kedaulatan. Kyle Toppazzini dalam bukunya The New Lean (2024) menekankan bahwa lean modern tidak cukup hanya efisien, melainkan harus menjadi sistem yang adaptif, tangguh, dan mampu bertahan dalam tekanan krisis global. Sejalan dengan itu, Gartner menyebut pergeseran ini dari Just in Time ke Just in Case: menggabungkan efisiensi dengan kesiagaan (Gartner Supply Chain Resilience Report, 2022).
Lean Boleh, Rapuh Jangan
Contoh konkret ada banyak. Industri otomotif global terhenti pada 2021 akibat kekurangan chip. Pabrik yang mengandalkan just in time harus menghentikan lini produksi berbulan-bulan (McKinsey, 2021). Di Indonesia, pabrikan elektronik kesulitan memenuhi permintaan karena antrian chip di jalur global (Kompas, 2021). Dampaknya nyata: promosi terganggu, pesanan mundur.
Di sektor energi, PLN menghadapi dilema serupa. Program transisi energi butuh panel surya dan baterai; tetapi sebagian besar komponen masih impor. Jika pasokan terputus, agenda hijau melambat. Pada sektor farmasi, Bio Farma mengakui sebagian besar bahan baku obat masih diimpor, khususnya dari India dan Tiongkok (Kemenkes, 2022). Ketergantungan itu membuat tanggapan darurat menjadi sulit.
Pilar The New Lean
Pertama: Rampak (synergized)— Kokoh dan Kolaboratif. Rantai pasok harus kuat karena kolaborasi, bukan hanya efisiensi semata. Telkom misalnya membangun data center Nusantara untuk mengurangi ketergantungan pada server asing (Telkom Annual Report, 2023). Langkah seperti ini bukan sekadar bisnis; ini strategi kedaulatan digital.
Kedua: Lincah — Gesit (Agile) dan Adaptif. Bukan lagi sistem bak mesin jam yang kaku. Sekarang dibutuhkan kelincahan. JNE mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk merencanakan distribusi sehingga dapat cepat mengalihkan rute saat terjadi hambatan (Bisnis Indonesia, 2024). Kecepatan menyesuaikan diri kini bernilai tinggi.
Ketiga: Berdaulat — Strategis dan Mandiri. Kedaulatan menjadi inti. Hilirisasi nikel, misalnya, bukan hanya soal nilai tambah ekspor. Ia soal mengamankan posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik (Kementerian ESDM, 2023). Jika kita tidak menguasai bagian strategis, posisi kita sebagai pemain hanya sementara.
Pergeseran Global dan Pelajaran Lokal
Negara-negara besar sudah bergerak. Amerika meluncurkan CHIPS Act untuk memproduksi semikonduktor di dalam negeri (White House, 2022). Uni Eropa mengajukan kebijakan bahan baku strategis agar tidak bergantung sepenuhnya pada satu sumber. Jepang dan Korea memperkokoh ekosistem baterai. Semua menyadari: efisiensi global tidak boleh meniadakan kedaulatan nasional.
Indonesia juga belajar. PLN berupaya melokalkan pasokan biomassa untuk mendukung co-firing PLTU dan program PLTS. Bio Farma mulai mendorong produksi bahan aktif farmasi dalam negeri. Telkom memperkuat jaringan Palapa Ring untuk menjaga kedaulatan data. Initiatif tersebut adalah contoh nyata penerapan The New Lean di lapangan.
Jalan menuju the new lean tidak mulus. Ada dilema klasik: bagaimana menyeimbangkan efisiensi dan kesiagaan? Menumpuk stok menambah biaya. Proteksi berlebih bisa mengusir investor. Sebaliknya, keterbukaan mutlak membuat kerentanan tinggi.
Solusinya bukan memilih salah satu ekstrem. Christopher dan Peck (2004) menekankan bahwa resiliensi rantai pasok adalah kemampuan beradaptasi di tengah tekanan tanpa kehilangan integritas. Maka diperlukan kebijakan jangka panjang, investasi infrastruktur, dan kolaborasi publik-swasta.
Mengapa Ini Penting untuk Indonesia?
Indonesia berada di persimpangan strategis. Kita memiliki sumber daya alam melimpah, pasar domestik besar, dan lokasi yang penting bagi jalur perdagangan global. Namun kita juga memiliki risiko: ketergantungan impor, keterbatasan teknologi, dan fragmentasi rantai pasok domestik.
Jika tetap mengandalkan lean versi lama, kita berisiko tergelincir saat krisis. Tetapi dengan mengadopsi The New Lean, kita berpeluang menjadi pemain utama. Kasus hilirisasi nikel yang menarik investasi industri baterai dari perusahaan besar adalah bukti bahwa strategi kedaulatan dapat melahirkan nilai dan mitra strategis (BKPM, 2023).
Penutup: Dari Kurus ke Tangguh
Rantai pasok serupa tubuh manusia: terlalu gemuk menyulitkan gerak; terlalu kurus membuat rentan. Yang diperlukan adalah tubuh ramping, berotot, dan sehat. Begitu pula supply chain: ramping, tetapi kuat.
The New Lean menawarkan visi itu. Rantai pasok yang rampak karena kolaborasi; lincah saat menghadapi ketidakpastian; dan berdaulat demi kepentingan strategis. Kini giliran kita bertanya: masihkah kita memuja efisiensi semata, atau berani membangun rantai pasok yang tahan banting?
Karena dalam dunia penuh gejolak ini, kurus saja tidak memadai. Kita butuh ramping yang tangguh.
#thenewlean #transformasidigital #inovasi #industri40 #leansupplychain