
Oleh Sigit Darmawan
Perang dagang generasi baru—yang belakangan dikenal sebagai Trade War 2.0—tidak lagi berdiri semata sebagai sengketa tarif antara dua kekuatan ekonomi. Bentuknya telah meluas menjadi pertarungan geopolitik, persaingan teknologi, hingga perebutan pusat produksi global yang memengaruhi hampir seluruh sektor industri. Dampaknya nyata, bergerak cepat, dan terasa hingga ke jantung rantai pasok dunia.
Di antara banyak industri yang terdampak, sektor otomotif menjadi salah satu yang paling merasakan guncangannya. Alasannya sederhana: industri otomotif masa kini bukan hanya merakit mobil. Ia merangkai ribuan komponen elektronik, sistem perangkat lunak, ekosistem energi baru, hingga jaringan logistik lintas benua yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan global. Sekali ada simpul yang terputus, seluruh mesin produksi dapat berhenti.
Karena itu, ketika arsitektur ekonomi dunia bergeser ke dalam blok-blok geopolitik baru, industri otomotif tidak memiliki pilihan selain beradaptasi. Dan adaptasinya tidak kecil; ia akan menentukan wajah industri ini dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang—periode yang oleh banyak analis disebut sebagai dekade paling menentukan dalam 50 tahun terakhir.
- Chip Menjadi Jantung Industri — dan Titik Lemah Paling Rawan
Satu kendaraan modern membutuhkan sedikitnya 1.000 hingga 3.000 chip. Mulai dari sensor keselamatan, modul baterai, radar, kontrol mesin, hingga sistem infotainment, semuanya bergantung pada semikonduktor. Artinya, chip bukan sekadar komponen; chip adalah “detak jantung” kendaraan modern.
Ketika Amerika Serikat membatasi ekspor chip canggih ke Tiongkok, dan Tiongkok membalas dengan pembatasan ekspor bahan baku seperti galium dan germanium, industri otomotif langsung tersentak. Tahun 2021, kekurangan chip memaksa banyak pabrik berhenti produksi bahkan ketika semua komponen lain tersedia.
Menurut laporan McKinsey, krisis tersebut menyebabkan lebih dari 10 juta unit kendaraan gagal diproduksi. Toyota, Ford, Volkswagen, Hyundai, dan GM merasakan dampak serupa: pabrik tutup berminggu-minggu hanya karena satu microcontroller tidak tiba tepat waktu.
Krisis chip itu adalah peringatan keras. Industri otomotif tidak boleh bertumpu pada satu pusat produksi—terutama ketika peta geopolitik tengah berubah cepat.
- Dari “Global Supply Chain” ke “Regional Supply Chain”
Selama beberapa dekade, industri otomotif mengandalkan model “satu pabrik raksasa untuk pasar global.” Model itu efisien dan murah. Namun, pandemi, ketidakpastian logistik, serta rivalitas AS–Tiongkok telah mengguncang fondasinya.
Kini, hampir semua perusahaan otomotif besar mengubah haluan. Mereka mengembangkan jaringan multi-hub regional, masing-masing melayani pasar terdekat:
ASEAN untuk Asia Pasifik,
India untuk Asia Selatan,
Meksiko untuk Amerika Utara,
Turki dan Eropa Timur untuk kawasan Eropa.
Laporan OECD (2024) mencatat bahwa lebih dari 52% perusahaan otomotif global telah menjadikan “ketangguhan rantai pasok” sebagai prioritas utama—menggeser pengejaran efisiensi ekstrem yang dominan selama 30 tahun terakhir.
Di sinilah posisi Indonesia menjadi sangat strategis. Kita memiliki peluang besar: ekosistem kendaraan listrik dan baterai, kapasitas produksi komponen tier-1 hingga tier-3, pasar domestik yang besar, lokasi strategis di jalur Indo-Pasifik.
Namun peluang besar datang bersama risiko besar. Thailand, India, dan Vietnam bergerak cepat dengan kebijakan industrial yang agresif. Jika Indonesia melambat, arus investasi yang potensial akan beralih ke negara lain.
- Daya Saing Baru Ditentukan oleh Ketangguhan, Bukan Semata Efisiensi
Dulu, perusahaan otomotif memenangkan pasar karena kapasitas besar dan biaya produksi rendah. Kini, ukuran keberhasilan berubah. Yang unggul adalah yang tahan banting, adaptif, dan mampu merespons risiko secara cepat.
Ada empat indikator baru yang kini menjadi pembeda:
- Diversifikasi pemasok — tidak lagi bergantung pada satu negara.
- Keamanan logistik — terutama jalur pelayaran strategis.
- Reliabilitas pemasok tier-2 dan tier-3 — titik yang sering terlupa.
- Kemampuan membaca risiko geopolitik — menjadi kompetensi baru manajer rantai pasok.
BCG (2024) bahkan menyebut bahwa “ketangguhan operasional kini menjadi keunggulan biaya yang baru.” Artinya, biaya mungkin sedikit lebih tinggi, tetapi risiko berhentinya produksi jauh lebih rendah—dan itu lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
- EV War = Trade War
Perang kendaraan listrik (EV) kini menjadi bagian tak terpisahkan dari Trade War 2.0. Amerika memberlakukan tarif sangat tinggi untuk EV dan baterai asal Tiongkok, sementara Uni Eropa menambah beban tarif hingga hampir 40 persen untuk beberapa produsen.
Dampaknya sangat luas dan langsung: Produsen Tiongkok seperti BYD dan Chery mengalihkan investasi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Amerika mendorong pembangunan rantai pasok EV di negara-negara sekutu. Sementara, Tiongkok tetap memimpin produksi baterai dunia dengan 70% kapasitas global.
Dengan demikian, kompetisi EV bukan hanya persaingan antar-merek. Ini adalah persaingan antarnegara, antarblok geopolitik, dan antarstrategi energi. Konsekuensinya jelas: ASEAN, termasuk Indonesia, berada di tengah gelanggang perebutan investasi EV terbesar dalam sejarah.
- Kemitraan Pemerintah–Industri Menjadi Kunci Penentu
Transformasi industri otomotif tidak mungkin berhasil bila berjalan sendiri. Negara yang mampu memadukan kebijakan yang tepat, eksekusi cepat, dan kemitraan industri yang kokoh akan berada di garis depan.
Studi IMF (2025) menunjukkan bahwa negara yang memenangkan investasi otomotif memiliki pola yang sama: strategi industrial yang konsisten, infrastruktur logistik yang mumpuni, tenaga kerja terampil, ekosistem riset dan manufaktur yang berkembang,
dan regulasi yang mendukung kelincahan bisnis.
Indonesia memiliki modal untuk bersaing. Namun yang menentukan bukanlah potensi, melainkan keberanian mengambil keputusan dan ketepatan langkah kebijakan.
Dalam konteks inilah pandangan para pemimpin industri menjadi sangat penting. Sebagaimana disampaikan oleh bapak Hamdhani D. Salim, Direktur PT Astra Internasional dan Presiden Direktur PT Astra Otoparts Tbk.:
“Trade War 2.0 bukan hanya membedah dampak perang dagang tetapi juga menawarkan lensa strategis terhadap disrupsi rantai pasok akibat geopolitik, fragmentasi regional, hingga revolusi digital yang tengah mengubah wajah industri secara sistemik”
Penutup: Dekade Penentu bagi Otomotif Indonesia
Lima hingga sepuluh tahun ke depan akan menjadi periode paling kritis bagi industri otomotif nasional. Dunia sedang bergerak ke arah baru. Trade War 2.0 membuka peluang dan tekanan dalam waktu yang sama.
Di momentum penting ini, keberhasilan Indonesia ditentukan oleh: keberanian membaca risiko, kemampuan mengamankan pasokan, ketepatan memperkuat ekosistem EV dan baterai, kualitas kolaborasi antarinstansi, dan kecepatan transformasi industri.
Buku Trade War 2.0 saya tulis sebagai kompas navigasi bagi para pemimpin industri yang ingin melihat lebih jauh, membaca arah perubahan, dan menyiapkan organisasi menghadapi dunia yang terus berubah.
Kita berada di tikungan sejarah. Pertanyaannya sederhana namun menentukan: Apakah kita siap mempercepat langkah — atau membiarkan negara lain mengambil peluang yang seharusnya menjadi bagian dari masa depan kita?