Category Archives: Bisnis dan Ekonomi

Algorithmic Leadership: Dari “Know-it-All” ke “Learn-it-All” – Evolusi Kepemimpinan

Gambar diambil dari Amazon.com

Oleh: Sigit Darmawan

I.
Di banyak ruang rapat hari ini, kita masih sering melihat pemimpin yang merasa harus punya semua jawaban. Seolah menjadi pemimpin berarti menjadi pusat pengetahuan.

Tapi zaman berubah. Dan kini, yang kita butuhkan bukan lagi pemimpin yang tahu segalanya, melainkan pemimpin yang tahu cara bertanya.

Kita memasuki dunia yang semakin sunyi dari kepastian, tapi penuh oleh data. Dunia yang tidak lagi membutuhkan suara yang keras, melainkan telinga yang mampu mendengarkan—termasuk mendengarkan suara algoritma.

Continue reading

Algorithmic Leadership: Dunia Berubah, Pemimpin Harus Reboot

Gambar diambil dari aha.org

Oleh: Sigit Darmawan

I.

Saya pernah duduk berhadapan dengan seorang pemimpin senior perusahaan yang sangat disegani. Bicaranya perlahan, tapi dalam. Matanya menyimpan kegelisahan yang tak ia ucapkan. Setelah hening cukup lama, ia berkata: “Dulu saya tahu apa yang harus saya lakukan. Sekarang, saya tidak yakin.”

Saya tidak menyela. Karena saya tahu, banyak pemimpin lain diam-diam merasakan hal yang sama. Dunia berubah begitu cepat. Dulu yang menjadi keunggulan, kini hanya jadi kenangan. Kita hidup dalam dunia yang tidak lagi sama.

Continue reading

Dari Inovasi ke Registrasi: Ketika AI Menjadi Aset Geopolitik

Oleh :Sigit Darmawan

Gambar diambil dari website “The New Zeland Herald”

I.

Kita hidup di era ketika algoritma mengatur banyak aspek—dari bisnis, kesehatan, hingga kebijakan negara. Namun, di balik semua itu, muncul medan perang baru: bukan di medan tempur, tapi di ruang sidang kekayaan intelektual— paten.

Di sinilah AI bukan lagi sekadar alat. Ia berubah menjadi senjata strategis. Dari inovasi menuju registrasi, paten AI kini jadi tolok ukur kekuatan negara.

Continue reading

Rantai Pasok FMCG Indonesia: Tangguhkah Hadapi Guncangan Global?

Oleh: Sigit Darmawan

Kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 3 April 2025, dalam narasi Liberation Day, menjadi pemicu ketidakpastian baru terhadap stabilitas rantai pasok global. Indonesia ikut terdampak, termasuk sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dan ritel modern yang selama ini menopang konsumsi rumah tangga secara nasional.

Continue reading

Nissan: Raksasa yang Rapuh – Pelajaran Kepemimpinan Bisnis

Oleh: Sigit Darmawan

I. Kebangkitan dan Kerapuhan

Dalam dua dekade, Nissan dikenal sebagai raksasa otomotif yang tak terkalahkan — salah satu simbol kebangkitan industri otomotif Jepang. Mereka menjadi pelopor mobil listrik dengan Nissan Leaf yang revolusioner. Namun hari ini, Nissan bagai raksasa yang limbung dan sedang berjuang untuk bertahan dalam krisis. Mereka tersandung oleh masalah yang sebenarnya bisa dihindari.

Continue reading

“Hari Pembebasan” Trump: Saat Dunia Mulai Menata Ulang Meja Perdagangan

Oleh: Sigit Darmawan

I. Trump 2.0 dan Kebijakan Tarif Baru AS

Pada 3 April 2025, dunia kembali diguncang. Trump—yang menduduki Gedung Putih untuk periode kedua—mengumumkan paket tarif besar-besaran atas barang impor ke Amerika Serikat. Kali ini lebih sistematis, lebih agresif, dan menyasar hampir seluruh mitra dagang utama AS, termasuk Indonesia. Donald Trump menyebutnya sebagai Liberation Day. Sebuah hari kemenangan. Tapi untuk siapa?

Continue reading

Human-Centered Business: Peran Manusia di Era Teknologi dan Otomasi

Oleh: Sigit Darmawan

I.
Tulisan saya tentang “Dark Factory: Revolusi Manufaktur Tanpa Sentuhan Manusia” telah memunculkan beragam pertanyaan yang ditujukan kepada saya. Muara pertanyaannya sama: bagaimana situasi manusia dengan semua perubahan akibat teknologi tersebut? Tulisan saya ini adalah respon atas pertanyaan yang (mungkin) menjadi kegelisahan, sekaligus kecemasan kita semua.

Continue reading

Dark Factory : Revolusi Manufaktur Tanpa Sentuhan Manusia

Oleh: Sigit Darmawan

I.
China dikenal sebagai pusat manufaktur global (factory of the world), tempat jutaan pekerja memenuhi pabrik-pabrik raksasa, merakit produk dengan kecepatan luar biasa. Tapi itu sekarang berubah. Upah naik, tenaga kerja menyusut, persaingan semakin ketat. China memilih jalan paling radikal: menghilangkan manusia dari pabrik.

Continue reading