Category Archives: Sosial Politik

Ketika Satire Menjadi Alarm Sosial: Catatan Pribadi Menonton Mens Rea

Oleh: Sigit Darmawan

Saya menonton Mens Rea bukan dengan niat mencari hiburan semata. Awalnya justru karena rasa ingin tahu. Mengapa begitu banyak orang ribut? Mengapa satu panggung komedi bisa memicu reaksi dan kontroversi yang sedemikian keras di beragam media sosial—dari tawa lepas sampai kemarahan terbuka?

Dalam beberapa bagian, saya tertawa. Refleks. Lalu, di beberapa bagian lain tanpa sadar, saya mulai diam. Tawa terasa tertahan. Bukan karena tidak lucu, tetapi karena terasa dekat. Terlalu dekat.

Continue reading

Ketika Generasi Z Bergerak, Dunia Ikut Berubah

Gambar: dw.com

(Catatan dari Bulgaria dan suara anak muda lintas dunia)

Oleh: Sigit Darmawan

Dalam beberapa tahun terakhir, saya makin sering menemukan pola yang sama ketika membaca berita dunia. Negara berbeda. Budaya berbeda. Sejarah politik berbeda. Namun ada satu kesamaan yang terus berulang: ketika Generasi Z bergerak, peta kekuasaan ikut bergeser.

Perubahan itu tidak selalu datang dengan letupan besar. Tidak selalu dramatis. Tetapi dampaknya nyata.

Continue reading

Predictive Government: Era Baru Mengelola Krisis

Oleh: Sigit Darmawan

“Masyarakat tidak langsung marah. Mereka memberi tanda. Hanya saja, sering kali tak terbaca.” Bagaimana membaca sinyal krisis di era digital? Di zaman digital, kemarahan publik tidak lagi meledak tiba-tiba. Ia muncul perlahan dari balik layar—lewat unggahan video, meme satir, hingga komentar yang menyebar dalam hitungan menit. Semuanya isyarat bahwa ada yang tidak beres. Namun, banyak pemangku kuasa masih terpaku pada pola lama: menunggu laporan resmi, bertumpu pada jalur birokrasi, dan baru bergerak setelah konflik meledak.

Contohnya nyata. Dalam lima hari demonstrasi bulan Agustus 2025 yang lalu, gelombang protes meluas di sejumlah kota di Indonesia. Isunya telah ramai dibahas tiga minggu sebelumnya di media sosial. Tagar penolakan muncul saban hari, video kritik dibagikan ribuan kali, dan keresahan publik begitu gamblang di ruang digital.

Continue reading

Api dari Nepal: Avishkar Raut dan Kebangkitan Generasi Z



Oleh: Sigit Darmawan

“Suara anak muda bisa menjadi bara kecil yang menyalakan api perubahan besar.”

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan; ia menemukan buktinya di Nepal, Maret 2025. Seorang pelajar SMA bernama Avishkar Raut berdiri di mimbar sekolahnya, menyampaikan pidato yang awalnya sederhana. Namun, rangkaian ucapannya yang menyala-nyala berubah menjadi suluh nasionalisme baru.

Video pidato itu meluas, memicu gelombang demonstrasi generasi muda, hingga akhirnya berperan dalam jatuhnya Perdana Menteri Nepal.

Continue reading

Pejabat Nir-Komunikasi: Saat Suara Rakyat Dibiarkan Menggema

Gambar dicuplik dari Buku Nurudin

Oleh: Sigit Darmawan

Saya mengamati salah satu kelemahan terbesar pejabat publik di negeri ini bukan hanya soal kebijakan yang keliru, tapi soal komunikasi yang mandek. Banyak pejabat baru bersuara ketika demonstrasi sudah meledak menjadi kerusuhan, namun diam seribu bahasa ketika keluhan rakyat masih bisa ditangani sejak dini.

Dalam era keterbukaan, nir-komunikasi bukan sekadar kekurangan gaya, melainkan kegagalan kepemimpinan.

Di tengah maraknya keluhan publik—dari harga kebutuhan pokok, kenaikan pajak, hingga kenaikan tunjangan anggota parlemen, sampai terjadinya demontrasi—pejabat sering kali memilih sikap diam. Tidak ada klarifikasi, tidak ada empati, tidak ada penjelasan.

Continue reading

Salsa Erwina: Suara Jernih dari Generasi yang Enggan Membisu

Oleh: Sigit Darmawan

Di tengah hiruk-pikuk politik, kericuhan media sosial, dan sikap pasrah masyarakat, satu suara perempuan muda menembus layar kita dengan bening dan tegas:

Kalau Anda tidak bisa mendengarkan kami, rakyat kecil, debatlah saya.”

Nama perempuan itu: Salsa Erwina Hutagalung. Ia bukan pejabat, bukan pesohor, bukan pula aktivis jalanan. Ia lulusan Universitas Gadjah Mada, penggagas siniar (podcast) Jadi Dewasa 101, dan kini berkiprah sebagai profesional di Aarhus, Denmark.

Continue reading

Politik Balas Budi: Jabatan Sebagai Hadiah



Oleh: Sigit Darmawan

Bayangkan sebuah panggung orkestra. Seorang konduktor menunjuk pemain baru yang tidak bisa membaca partitur untuk memimpin biola utama. Hasilnya sudah dapat ditebak: nada fals, irama kacau, dan seluruh harmoni runtuh.

Begitu pula dalam politik. Jabatan publik adalah orkestra yang menentukan irama sebuah negara. Namun, di banyak tempat, kursi strategis justru diberikan bukan pada musisi terbaik, melainkan pada orang yang sekadar dekat dengan penguasa.

Continue reading

Creative Minority: Kekuatan Kecil yang Mengubah

Oleh: Sigit Darmawan

“The creative minority are the agents of change in any civilization, and it is they who give the culture its direction.”
— Arnold J. Toynbee, A Study of History

I..
Maret lalu, saya diminta berbicara di sebuah diskusi pembinaan staf dan alumni Perkantas Jawa Barat. Kami membahas tagar yang ramai di medsos: #IndonesiaGelap dan #KaburAjaDulu. Isunya adalah soal harapan dan realitas bangsa hari ini. Dari diskusi itu, saya ingin mengangkat salah satu tema kecil untuk dituliskan disini: creative minority (minoritas kreatif). Sebuah istilah yang diangkat oleh Arnold J. Toynbee dalam bukunya “A Study of History”.

Continue reading