Selamat Jalan Gus Dur, Guru Bangsaku

Selamat Jalan Gus Dur

Bangsa ini akan selalu mengenangmu selalu.

Sang tokoh yang menghargai kemajemukan dengan pikiran, karya, dan tindakannya

Sang Demokrat sejati yang pernah dimiliki bangsa ini.

Yang setia kepada prinsip dan cita-cita kemanusiaan yang luhur

Semoga teladanmu menginspirasi bangsa ini dari jaman ke jaman

Pertumbuhan Diri

Life is not advancement. It is growth. It does not move upward, but expands outward, in all directions.”  (Russell G. Alexander , Father, Human Being, Recovering Philosopher, 1954)

Kalimat diatas sangat menarik jika kita berbicara tentang pertumbuhan diri (Personal Growth), karena pertumbuhan diri pada hakekatnya adalah pengembangan kualitas hidup dalam semua aspek yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Pertumbuhan di salah satu aspek hidup mempengaruhi pertumbuhan di aspek hidup yang lain. Karena itu pertumbuhan diri haruslah dipahami dan dihayati sebagai sebuah kehidupan yang terintegrasi, dan bukan bukan terpisah-pisah.

Secara natur manusia harus bertumbuh dan berkembang. Kapabilitas dan kapasitasnya harus terus-menerus diasah untuk agar mampu memberdayakan kehidupannya dan alam sekitarnya menjadi lebih berkualitas. Mengapa kita perlu bertumbuh dan berkembang? Prinsip apa yang melandasinya?

Pertama, bahwa pertumbuhan diri itu adalah sebuah proses transformasi hidup. Perubahan atau transformasi ini terjadi melalui pembaharuan akal budi dan pikiran manusia. Tujuannya agar manusia memiliki kapabilitas untuk membedakan hal yang benar dan tidak benar, baik dan tidak baik. Transformasi akal budi dan pikiran tersebut dimaksud untuk mendorong perubahan kualitas hidup manusia.

Kedua, bahwa kita harus mengembangkan apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Berapapun yang dipercayakan Tuhan kepada kita, haruslah kita kembangkan secara optimal sebagai bentuk pertanggungjawaban  kepda Tuhan. Bukan masalah barapa banyak talenta yang kita miliki, tetapi apakah kita mengasah, melatih, dan mengembangkannya dengan baik seluruh talenta yang dipercayakan kepada kita.

Ketiga, prinsip pertumbuhan selalu dikaitkan dengan kualitas. Bertumbuh berarti menghasilkan kualitas yang baik, dan sebaliknya. Karena itu prinsip “bekerja dan mengusahakan yang terbaik” adalah esensi dari prinsip pertumbuhan ini.

Keempat, prinsip pertumbuhan diri haruslah didasarkan pada: kasih kepada Allah dan kepada manusia. Esensi dari prinsip ini adalah bahwa pertumbuhan diri tidak boleh bersifat egoistis. Tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri,  tetapi supaya bisa melayani orang lain secara optimal dalam berbagai bidang kehidupan kita.

Keempat prinsip inilah landasan kita dalam perencanaan pertumbuhan diri kita. Proses bertumbuh adalah proses sepanjang kehidupan kita. Pribadi yang bertumbuh dan berkualitas adalah pribadi yang dibentuk melalui proses panjang dalam kehidupan. Diperlukan mentalitas pembelajaran diri (self learning) dalam proses ini.

Pembelajaran Diri

Pembelajaran diri dapat di gambarkan melalui 3 unsur dalam segi tiga pertumbuhan berikut.

 Gambar 1. Tiga Unsur Pembelajaran Diri

Triangle

Unsur pertama adalah tujuan atau visi hidup. Ini sangat fundamental jika  kita berbicara tentang pembelajaran diri.  Tanpa visi atau tujuan hidup tidak mungkin ada upaya pembelajaran, karena tidak ada hal yang dituju dan dikejar dalam kehidupan. Kita perlu memiliki visi dan tujuan kehidupan, karena itulah yang akan memandu perjalanan kehidupan kita.

Unsur kedua adalah peluang, tantangan dan perubahan yang ada di sekitar kita. Kita selalu berhadapan dengan perubahan-perubahan di sekitar kita. Perubahan itu bisa menjadi peluang dan tantangan bagi kita untuk belajar, bertumbuh, dan berkembang. Bagaimana sikap kita dalam berespon terhadap tantangan dan peluang tersebut sangat menentukan pengembangan diri kita.

Unsur ketiga adalah sumber daya yang dimiliki. Setiap orang punya resources dasar yang dimilikinya: bakat, talenta, kecerdasan, kompetensi dan lain-lain. Ada yang dipercayakan banyak, ada yang sedikit. Tetapi faktor sumberdaya ini bukanlah faktor dominan yang menjadi penentu dalam proses pertumbuhan kita.  Ada pengikat ketiga unsur tersebut dalam proses pembelajaran diri, yaitu pola pikir (mind set)

Mind set adalah pola pikir yang terkait dengan kepercayaan dasar yang kita miliki. Ia akan mempengaruhi  sikap, perilaku, dan tindakan kita.  Segala sesuatu dimulai dari proses kita berpikir.

Gambar berikut menjelaskan tentang yang mempengaruhi mind set kita, dan apa yang bisa dipengaruhinya.

Gambar 2. Apa Yang Mempengaruhi Mind Set

MIND SET - APA SAJA YANG MEMPENGARUHINYA

Gambar 3. Apa yang Dipengaruhi Mind Set

MInd set - apa yang mempengaruhinya

 Bagaimana membentuk mindset?

Mind set perlu dibentuk melalui berbagai aktivitas yang mendukungnya. Pola pikir kita harus diberikan “nutrisi” yang tepat agar sehat, jernih, dan optimal. Aktivitas apa yang positif dalam membentuk mind set kita?

Pertama, kita perlu belajar dari buku sumber hikmat dan kehidupan, yaitu kitab-kitab yang menjadi sumber kepercayaan kita sebagai orang beriman. Tidak saja untuk memahami dan mempelajarinya, namun sampai kepada tindakan menghayati dan melakukannya. Firman Tuhan dalam kitab-kitab tersebut kaya akan kebenaran yang bisa memandu kita dalam berpikir, berperilaku, dan bertindak

Kedua, membaca buku-buku yang baik dan berkualitas akan berguna untuk: membentuk cara pandang kita dalam melihat berbagai persoalan; mempeluas wawasan berpikir kita; dan merubah cara berpikir kita.

Ketiga, melatih pikiran kita melalui proses berdiskusi dengan berbagai orang atau komunitas di sekitar kita agar terbentuk mind set yang positif dan kritis. Pikiran yang terlatih akan membentuk mind set yang baik.

Keempat, belajar kepada orang-orang yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih dibandingkan kita. Proses belajar ini bisa melalui berbagai cara : mendengarkan ceramah, membaca tulisan-tulisan mereka, berinteraksi secara positif dengan mereka, dan sebagainya. Jangan pernah malu untuk bertanya hal yang kita tidak tahu.

Jika kita melakukan tindakan-tindakan sederhana ini, maka kita sedang melatih mind set kita dengan benar.

Bagaimana merencanakan pertumbuhan diri?

Pertumbuhan diri adalah sebuah proses yang seharusnya bisa direncanakan. Peningkatan kualitas dan kapabilitas kehidupan kita bisa jadi adalah hasil dari sebuah proses yang terjadi secara tidak terencana maupun terencana. Namun merencanakan pertumbuhan diri akan memiliki dampak yang lebih terukur dan berkesinambungan. Bagaimana caranya?

1. Memulai dengan identifikasi: Peluang-peluang apa saja yang dapat kita gunakan untuk  berkembang   hari ini? Untuk diri kita? Profesi kita? Untuk orang orang di sekitar  kita? Kelemahan-kelemahan apakah yang perlu kita tingkatkan (berkaitan dengan profesi, karakter, kompetensi, ketrampilan dan sebagainya)?

 2.   Menyusun sebuah rencana. Kapan, dimana, dan bagaimana saya akan memulai rencana kita? Rencana ini perlu dibuat secara terukur dan bisa dievaluasi dan diidentifikasi kemajuannya.

 3.  Jika menemui rintangan dan kemunduran, maka pikirkan dan renungkan apa yang menjadi kendala, kesulitan, dan masalahnya. Jika kita sudah menemukannya, maka susun lagi rencana tindakan: Kapan, dimana, dan bagaimana kita akan melaksanakan rencana kita?

 4.  Jika berhasil, pikirkan untuk mempertahankannya Apa yang harus kita lakukan untuk mempertahankan dan melanjutkan perkembangan dan keberhasilan kita? Setiap upaya peningkatan kapabilitas kita, perlu dipertahankan agar terus menghasilkan keluaran dan dampak positif dalam kehidupan kita.

 5.  Proses perencanaan ini harus selalu dilakukan evaluasi dengan meminta umpan balik dari orang lain.

Penutup

Pertumbuhan adalah sebuah proses hidup untuk mentransformasi kehidupan, baik secara revolusioner maupun evolusioner. Kemampuan kita untuk meresponi setiap tantangan dan peluang dalam kehidupan kita  sangat tergantung dari pola pikir yang kita miliki. Karena itu membangun pola pikir yang baik, kritis, dan positif adalah hal utama yang harus kita lakukan. Mari mentransformasi diri!

Menyikapi Krisis Global

 Pendahuluan

 “When written in Chinese, the word “crisis” is composed of two characters-one represents danger, and the other represents opportunity” (John Fitzgerald Kennedy, American 35th US President)

Krisis keuangan global yang sekarang kita hadapi ini dipicu oleh krisis financial sub prime mortgage di Amerika Serikat yang mengakibatkan runtuhnya berbagai perusahaan besar, seperti: Lehman, General Motor, Citicorp, Merryl Linch dan Bank of America

Krisis ini berkembang menjadi krisis global yang dampaknya terjadi tidak hanya di Amerika, tetapi juga di seluruh dunia. Dunia kita terhubung satu dengan lainnya, seperti mata rantai. Peristiwa di satu tempat akan berpengaruh kepada peristiwa  di tempat lain. Dan ada kalanya dampaknya jauh lebih bersar dibanding dengan tempat ketika krisis itu mulai terjadi.

Krisis keuangan 1998 yang dipicu dari jatuhnya mata uang di Thailand, berimbas kepada Indonesia. Dan negara kita menghadapi dampak terparah dari krisis tersebut. Bukan hanya di sektor ekonomi, tetapi juga kehidupan social, politik, dan hukum. Kerusuhan SARA, jatuhnya Suharto, pengangguran masif, ambruknya perbankan, pelanggaran HAM, dan sebagainya..

Krisis global yang  sekarang dihadapi oleh dunia, sudah terasa dampaknya.  Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan jumlah pengangguran di seluruh dunia akan bertambah 20 juta orang sepanjang tahun 2009 ini.. Di Indonesia, angka pengangguran diperkirakan meningkat menjadi 8.87 %.

Continue reading

Change or Die

Saya membaca sebuah buku yang menarik dari seorang penulis senior Malajah Fast Economy, Alan Deutschman, yang berbicara tentang proses perubahan dan bagaimana kita bisa melakukannya. Baik dalam konteks pribadi, organisasi, bisnis, dan masyarakat.

“Change or Die” mengulas tentang tiga kunci penting yang harus dilakukan agar perubahan bisa terjadi dalam individu dan organisasi. Ketiga kunci penting itu dinamakan ” 3 R : Relate, Repeat, Reframe”.

Ketiga kunci ini akan membantu kita untuk membuat perubahan-perubahan positif yang diperlukan baik bagi setiap individu , organisasi bisnis, komunitas, maupun sosial. Alan Deutschman menyatakan bahwa pada dasarnya setiap orang bisa dan mampu untuk melakukan perubahan-perubahan secara revolusioner.

Relate — berkaitan dengan upaya untuk membangun sebuah relasi baru, komunitas baru yang memungkinkan perubahan-perubahan yang sedang dilakukan bisa terjadi karena ada: dukungan, motivasi, dorongan, teguran, kedisiplinan, dan kebersamaan dari orang-orang yang menjadi bagian dari relasi atau komunitas baru tersebut. Artinya perubahan itu tidak mungkin dilakukan dalam relasi atau komunitas yang lama. Menciptakan relasi baru adalah langkah mendasar untuk memulai perubahan.

Repeat — adalah semangat untuk mengulang kebiasaan, perilaku, maupun ketrampilan yang baru secara kontinu dalam sebuah komunitas yang mendukung perubahan itu. Perubahan pada dasarnya adalah menciptakan kebiasaan baru, perilaku yang baru, memiliki ketrampilan yang baru, cara berpikir yang baru. Karena itu “repeat” adalam kunci untuk memastikan bahwa pengulangan yang konsisten dan kontinu akan mendorong perubahan yang revolusioner dalam setiap individu

Reframe — adalah membingkai ulang proses perubahan yang sudah dilakukan dengan pola berpikir dan bertindak dalam sebuah kerangka yang baru, yang berbeda dengan pola berpikir dan bertindak yang lama. Reframe (pembingkaian ulang) hanya terjadi jika kebiasaan baru, perilaku baru, dan ketrampilan yang baru mulai bisa dikuasai karena pengulangan yang dilakukan dalam relasi yang baru.

Kegagalan dalam melakukan 3 R ini, akan membawa sebuah proses kematian diri kita karena: kita tidak mampu mengembangkan diri secara utuh, terpenjara dalam sebuah pola pikir dan bertindak yang lama, tidak mampu melakukan perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan untuk kemajuan, tidak memiliki ketrampilan-ketrampilan baru yang diperlukan untuk memaksimalkan potensi diri kita dan sebagainya. Jadi semestinya tantangannya adalah bukan “Change or Die” tetapi “Change and Strive”.

Selamat Untuk Obama

Barrack Hussein Obama telah dilantik menjadi presiden Amerika Serikat yang ke-44, sekaligus presiden AS pertama dari keturunan Afro-Amerika.  Pelantikan Obama sebagai presiden merupakan simbol pengakuan akan kesetaraan ras dan hak-hak manusia yang menginspirasi seluruh komunitas international. Bahwa manusia tidak bisa dinilai dari warna kulit, agama, keyakinan, maupun suku, namun dari kemampuan dan potensi dirinya. Dan Obama membuktikan itu, sekaligus merealisasikan mimpi dari Martin Luther King akan kesetaraan ras yang selalu menjadi persoalan besar di Amerika Serikat dalam beberapa dekade.

Ekspektasi masyarakat International terhadap Obama sangat tinggi, karena janji perubahan yang diusungnya untuk: menciptakan sebuah tatanan dunia yang baru dengan mereposisi wajah diplomasi Amerika yang semakin tidak disukai di tataran kehidupan global karena kebijakan-kebijakannya, menjadi sebuah “New America” yang lebih bersahabat. Wajarlah dunia berharap, karena Obama adalah sebuah simbol yang mewakili keberagaman internasional. Dilahirkan dari pasangan Kenya dan Amerika, pernah tinggal di Asia, dan memiliki nama tengah berbau timur tengah “Hussein”. Karena itu pelantikannya sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 menyedot perhatian seluruh masyarakat dunia.

Slogan “Yes, We Can”  yang menjadi ikon perubahan yang diusungnya selama masa kampanye menjadi trendsetter dalam berbagai proses perubahan di segala bidang. Slogan ini memberikan inspirasi kepada masyarakat, bahwa segala sesuatu mungkin dilakukan, jika ada kebersamaan, kemauan, kerja keras, dan kepercayaan dimanapun dan di situasi apapun. Ya, Obama memang menjadi inspirator dunia saat ini. Selamat untuk Obama!

Kesetiaan Kepada Nurani

Ketika saya sedang membaca kembali cerita epos mahabarata-baratayudha, betapa tertegunnya saya ketika mendapati bahwa ada sisi-sisi kebaikan yang terlihat di dalam diri sebagian para kurawa. Namun kebaikan itu terbentur kepada skenario keserakahan mayoritas para Kurawa yang ingin menguasai kerajaan Hastinapura  dengan cara-cara yang tidak jujur, yang sejatinya bukan merupakan hak mereka.

Raden Yuyutsu adalah seorang Kurawa, anak Raja Drestarata, yang memiliki kepekaan nurani ketika kakaknya yang sulung, Duryudana sang Raja Hastinapura, bertindak culas kepada Pandawa dalam permainan dadu sehingga Pandawa terbuang dari kerajaan Hastinapura dan harus mengembara selama tiga belas tahun lamanya. Perasaannya terusik menyaksikan ketidakadilan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya kepada para Pandawa,  yang adalah saudara mereka juga. Continue reading

Adakah Kebaikan Dalam Diri Kurawa?

Jika kita mengenal cerita pewayangan, khususnya cerita Mahabarata dan Baratayudha, maka kita mengenal dua kelompok yang saling berseteru, berselisih, bersaing, dan akhirnya berperang dalam legenda perang besar di padang Kurusetra untuk memperebutkan kerajaan Hastinapura. Kedua kelompok manusia itu dikenal sebagai Kurawa dan Pandawa.

Pandawa selalu digambarkan sebagai kelompok ksatria berjumlah lima orang yang memiliki: budi pekerti , tatakrama, dan karakter yang luhur, serta berwatak ksatria, penuh tanggung jawab, tidak menindas dan tidak serakah. Walaupun dalam beberapa cerita pewayangan para ksatria Pandawa ini juga memiliki kelemahan dan keburukan–sehingga sering diingatkan oleh para Punakawan– namun cerita tentang kebaikan dan keluhuran budinya jauh lebih  kuat bergema dibanding kelemahannya.

Continue reading

Pidato Kemenangan Obama

Pidato kemenangan obama yang memberikan inspirasi tentang kejayaan, kemenangan, dan keberhasilan selalu diperoleh dari sebuah perjuangan panjang yang tanpa kenal lelah.

————————————————————————————————————————–

Hello, Chicago.

If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.

It’s the answer told by lines that stretched around schools and churches in numbers this nation has never seen, by people who waited three hours and four hours, many for the first time in their lives, because they believed that this time must be different, that their voices could be that difference.

It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled, Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a collection of red states and blue states. Continue reading