Mary, Sang Perempuan Iman: Refleksi dari Layar Netflix 2024

Oleh: Sigit Darmawan

(Catatan Kecil dari Film Mary)

Netflix baru saja meluncurkan sebuah film barunya yang berjudul Mary di penghujung tahun 2024. Saya berkesempatan menonton film ini beberapa hari lalu. Film ini disutradarai oleh D.J. Caruso dan ditulis oleh Timothy Michael Hayes. Dalam proses produksinya, film ini disebut melibatkan beberapa produser terkenal.

Film ini menggambarkan kisah Maria, ibu Yesus, dengan perspektif yang manusiawi, penuh perasaan, dan menawarkan pendekatan berbeda dari sekadar kisah Alkitab yang selama ini kita kenal.

Film Mary bukan hanya bicara tentang Maria sebagai sosok kudus yang sering dilukiskan dalam ikon-ikon gereja. Netflix mencoba untuk menghadirkan sebuah realitas kehidupan seorang perempuan muda di tengah tradisi Yahudi kuno. Dari sejak kelahiran sampai masa mudanya ketika panggilan Ilahi itu datang.

Continue reading

Ketika Olok-olok Menjadi Luka di Tengah Kemiskinan

Oleh: Sigit Darmawan

(Tulisan ini sekaligus sebagai refleksi diri)

Seorang anak kecil duduk di trotoar, memeluk perut kosongnya sambil menatap ibunya yang berjualan di pinggir jalan. Sang ibu menjual sebungkus nasi atau segelas teh manis. Pemandangan ini mungkin terlalu biasa bagi kita. Tetapi di balik itu ada perjuangan yang tak pernah kita rasakan.

Lalu datanglah kita, yang hidup lebih nyaman, entah sebagai pejabat, tokoh, atau siapa saja yang merasa lebih tinggi derajatnya. Dengan santai kita melempar candaan.

Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, ketika seorang utusan khusus Presiden mengolok-olok penjual es teh. “Es tehmu masih banyak gak? Masih? Ya sana jual g*bl*k !” katanya, sambil tertawa. Penjual es teh itu hanya terdiam penuh kelu.

Continue reading

Green Theology: Respon Kekristenan Terhadap Krisis Lingkungan

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika membahas teologi, kita kerap terjebak dalam labirin teori dan doktrin. Namun, teologi seharusnyalah nyata, membumi, dan relevan. Ia bukan hanya konsep di menara gading, tetapi pelita yang menuntun hidup kita, termasuk saat menghadapi salah satu tantangan terbesar zaman ini: krisis lingkungan.

Krisis lingkungan bukan sekadar soal cuaca ekstrem atau rusaknya ekosistem. Ini juga soal iman kita, soal tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Tuhan.

Indonesia, misalnya, menghadapi masalah besar seperti deforestasi, polusi plastik, dan krisis air. Ini bukan hanya masalah lokal, tetapi cerminan dosa kolektif manusia terhadap alam—keserakahan, ketamakan, dan pengabaian terhadap harmoni ciptaan.

Continue reading

70 Wajah Torah: Sebuah Cermin Kehidupan untuk Dunia Modern

Oleh: Sigit Darmawan

(Catatan kecil yang tertinggal dari webinar tentang “Bethlehem atau Migdal Eder”)

70 Wajah Torah adalah salah satu konsep yang paling mendalam dalam tradisi Yahudi. Sebuah prinsip yang mengingatkan kita bahwa Firman Tuhan adalah sebuah permata dengan banyak sisi.

Setiap sudutnya memantulkan cahaya yang berbeda tergantung bagaimana kita melihatnya. Tetapi meskipun berbeda, setiap pantulan tetap berasal dari sumber yang sama.

Dalam masyarakat modern yang penuh keberagaman—di tempat kerja, gereja, atau bahkan di ruang makan keluarga—kebenaran sering kali terlihat berbeda tergantung dari sudut pandang siapa kita mendengarkannya. Dan 70 Wajah Torah akan menjadi lebih relevan dari sebelumnya.

Continue reading

Web 3.0: Melintasi Perbatasan Baru Transformasi Digital

Oleh : Sigit Darmawan

Kita (mungkin) sudah mendengar tentang Web 3.0, Generasi ketiga Internet. Sering disebut sebagai masa depan internet, bahkan masa depan bisnis. Apakah ini hanya sekadar kehebohan (hype), atau memang ada potensi nyata di sana?

Kita perlu melihat perjalanan internet. Web 1.0 adalah era sederhana. Pengguna hanya bisa membaca informasi—tak ada yang bisa dilakukan selain mengonsumsi. Internet menjadi ensiklopedia digital.

Era Web 2.0, membawa perubahan besar. Pengguna mulai bisa membuat konten, berinteraksi, dan berbagi. Facebook, Youtube, Instagram, e-commerce, blog tumbuh dan berkembang.

Continue reading

Hening Tapi Cerdas: Mengungkap Potensi Ambient Invisible Intelligence

Oleh: Sigit Darmawan

Kita sering berpikir teknologi itu harus terlihat, harus terasa canggih di depan mata. Layar besar atau suara yang serba otomatis. Tapi ada teknologi yang tak kasat mata. Teknologi kecerdasan yang bekerja diam-diam namun terasa dampaknya – Ambient Invisible Intelligence.

Mungkin teknologi yang kita kenal mungkin masih bersifat “menunggu perintah.” Kalau ingin menyalakan lampu, maka memencet saklar. Kalau mau mengubah, maka putar pengaturannya. Tapi kita berada di era kecerdasan baru yang beroperasi dalam senyap. Tak perlu disuruh, tak perlu diatur setiap saat. Teknologi ini tahu apa yang kita butuhkan, bahkan sebelum kita sadari.

Continue reading

Joker dan Dunia Pelayanan: Menavigasi Kekacauan dengan Tujuan yang Jelas

Oleh: Sigit Darmawan

“The only sensible way to live in this world is without rules.” – Joker, The Dark Knight

Joker selalu muncul sebagai simbol kekacauan. Dia adalah antitesis dari keteraturan dan kedamaian. Seseorang yang bergerak tanpa rencana yang jelas, atau setidaknya tampak begitu.

Ironisnya, justru dari Joker, kita bisa belajar banyak tentang pentingnya kejelasan tujuan dalam dunia pelayanan.

Tawanya menggema di kegelapan kota Gotham. Mengapa Joker bertindak seperti itu? Jawabannya adalah kekosongan tujuan. Joker adalah cerminan seseorang yang terjebak dalam lingkaran keputusasaan. Dia melihat dunia sebagai tempat yang tidak masuk akal. Tanpa visi dan arah. Dia mengabaikan sistem dan tatanan, dan membiarkan kekacauan menjadi pemandu.

Continue reading

Great Reallocation: Pergeseran Poros Manufaktur Global

Oleh: Sigit Darmawan

Fenomena “Great Reallocation” menjadi salah satu topik hangat di kalangan industri global beberapa tahun terakhir. Istilah ini merujuk pada pergeseran besar dalam rantai pasok global, khususnya perpindahan basis produksi dari China ke negara-negara di Asia Tenggara dan India. Beberapa faktor kunci yang memicu fenomena ini adalah perang dagang antara Amerika Serikat dan China, disrupsi rantai pasok akibat pandemi COVID-19, serta peningkatan ketergantungan perusahaan pada sumber pasokan tunggal dari China.

China, yang dalam beberapa dekade terakhir dianggap sebagai “Factory of the World“, kini mulai kehilangan dominasinya. Banyak perusahaan multinasional memutuskan untuk mengalihkan operasi manufakturnya dari China. Sebuah langkah yang dikenal sebagai strategi “China + 1” atau “China +”. Strategi ini menekankan perlunya memiliki basis produksi tambahan di luar China untuk mengurangi risiko ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu negara.

Continue reading