Tag Archives: kemiskinan

Squid Game: Ketika Hidup Menjadi Arena Kompetisi “Brutal”

by: Sigit Darmawan

I.
Squid Game adalah fenomena global. Sejak pertama kali dirilis pada 7 September 2021 di Netflix, serial asal Korea Selatan ini telah menjadi serial Netflix paling populer sampai sekarang.

Film ini telah ditonton 142 juta rumah tangga dalam 4 minggu pertama, dan menghasilkan pendapatan sebesar $900 juta USD. Jauh dari biaya produksinya yang hanya $21 juta USD.

Musim kedua dari serial Squid Game yang ditayangkan 26 Desember 2024 juga menuai kesuksesan yang sama. Dan penggemarnya sedang menantikan serial musim ketiga sebagai serial terakhir di pertengahan tahun 2025

Continue reading

Ketika Olok-olok Menjadi Luka di Tengah Kemiskinan

Oleh: Sigit Darmawan

(Tulisan ini sekaligus sebagai refleksi diri)

Seorang anak kecil duduk di trotoar, memeluk perut kosongnya sambil menatap ibunya yang berjualan di pinggir jalan. Sang ibu menjual sebungkus nasi atau segelas teh manis. Pemandangan ini mungkin terlalu biasa bagi kita. Tetapi di balik itu ada perjuangan yang tak pernah kita rasakan.

Lalu datanglah kita, yang hidup lebih nyaman, entah sebagai pejabat, tokoh, atau siapa saja yang merasa lebih tinggi derajatnya. Dengan santai kita melempar candaan.

Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, ketika seorang utusan khusus Presiden mengolok-olok penjual es teh. “Es tehmu masih banyak gak? Masih? Ya sana jual g*bl*k !” katanya, sambil tertawa. Penjual es teh itu hanya terdiam penuh kelu.

Continue reading

Kemiskinan, Pemiskinan, Dan Peran Jemaat

Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari  yang paling hina ini,kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. (Matius 24:45)

Paradoks Kemiskinan

Dalam bukunya yang berjudul “Dibalik Kemiskinan dan Kemakmuran” (Beyond Poverty & Affluence), Bob Goudzwaard dan Harry de Lange mengemukakan beberapa paradoks menarik yang terjadi dalam pembangunan di dunia modern ini.

Pertama adalah paradoks kelangkaan. Pembangunan ekonomi sekarang ini merupakan paradoks antara kekayaan dan kelangkaan. Di tengah-tengah kekayaan ekonomi dunia terjadi kelangkaan yang diakibatkan oleh tidak terdistribusikannya kekayaan dan hasil-hasil proses ekonomi atau produksi secara adil dan merata. Ketika  produksi makanan melimpah di suatu tempat, di tempat lain terjadi kelangkaan bahan makanan dan kelaparan. Krisis bahan makanan dunia yang kita hadapi sekarang ini adalah sebuah gejala paradoksial pembangunan dunia. Continue reading

Enrique’s Journey

Enrique’s Journey adalah buku yang ditulis oleh Sonia Nazario, orang Argentina, yang menceritakan tentang kisah nyata petualangan seorang anak Amerika Latin diatas kereta api maut demi bersatu kembali dengan ibunya.

Sonia Nazario menuliskan kisah perjalanan yang menggetarkan ini dan meraih penghargaan Pulitzer tahun 2003. Dia melakukan perjalanan selama lebih dari 6 bulan seperti yang dilewati oleh anak anak latin itu. Termasuk ancaman bahaya yang mengintai mereka sepanjang Honduras, Meksiko dan AS.

Sonia mewancarai banyak imigran, para medis, pastor, biarawati, perwira polisi, petugas imigrasi untuk mendapatkan gambaran tentang perjalanan anak-anak amerika tengah itu, dan mengikuti jejak perjalanan berbahaya Enrique.

Bahaya dan ketakutan yang dijumpai Sonia itu bahkan membuatnya harus menjalani terapi berbulan-bulan supaya bisa tidur nyenyak lagi.

*

AS mengalami gelombang imigrasi terbesar dalam sejarahnya. Setiap tahun kira-kira 700.000 imigran memasuki AS secara ilegal. Dan sejak tahun 2000, kira-kira 1 juta imigran yang datang secara legal dan menjadi penduduk legal.

Gelombang imigran ke AS ini terbagi dua. Gelombang pertama, ketika para orang tua -pada umumnya para bapak yang disebut sebagai pekerja tamu Meksiko atau braceros — datang ke AS dan meninggalkan anak-anaknya bersama ibu mereka.

Gelombang imigran yang kedua adalah ketika terjadi peningkatan angka perceraian dan perpecahan keluarga di amerika latin. Hal ini menyebabkan banyak ibu tunggal tanpa sarana apapun untuk membesarkan anak-anaknya.

Tingkat pertumbuhan ibu-ibu tunggal di Amerika Latin ini setara dengan masa ketika semakin banyak wanita AS mulai bekerja di luar rumah. Dan karenanya ada kebutuhan yang besar akan pekerja sebagai pengasuh anak.

Gelombang imigrasi ibu-ibu tunggal Amerika Latin dalam jumlah besar terjadi tahun 1960 – 1970 an. Rata-rata para ibu pergi ke AS karena berharap bisa memberi anak-anaknya jalan keluar dari kemiskinan yang menggilas dan masuk dalam pertaruhan yang kejam.

Mereka pergi melalui jasa penyelundup untuk membawa mereka ke AS, dan menempuh perjalanan yang penuh bahaya ribuan mil sebelum sampai ke AS untuk bekerja sebagai tenaga kerja illegal.

Hari demi hari, para ibu melewatkan saat saat penting dalam kehidupan anak-anaknya. Dan ketidakhadirannya meninggalkan luka yang teramat dalam bagi anaknya. Banyak ibu-ibu Amerika Latin yang akhirnya tidak pernah bertemu dengan anak-anak mereka selama lebih dari belasan tahun.

Hal ini mendorong ribuan anak yang ditinggalkan ibunya sejak kecil itu pergi melakukan perjalanan yang sangat berbahaya di atas kereta barang. Hanya karena ingin bertemu ibunya.

*

Enrique adalah satu dari mereka yang terpisah dari ibunya ketika kecil, dan berhasrat melakukan perjalanan berbahaya tersebut hanya untuk bertemu dengan ibunya yang telah meninggalkannya karena mencari kerja di AS.

Enrique berasal dari pinggiran kota Tegucipalga, Honduras. Ibunya Lourdes meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil, Enrique 5 tahun dan Belky kakaknya 7 tahun, untuk bekerja di AS.

Kemiskinan membuat Lourdes memutuskan untuk mencari harapan ke AS. Harapan bisa menghasilkan uang, mengirimkan balik kerumah, dan kemudian membawa anak-anaknya untuk tinggal bersamanya kelak.

Ternyata ibunya tidak akan pernah kembali. Sebagai remaja yang masih belasan tahun, akhirnya Enrique bertolak ke AS seorang diri untuk mencari ibunya.

Dan Enrique akan menjadi salah satu dari kira-kira 48.000 anak yang memasuki AS dari Amerika Tengah dan Meksiko setiap tahun, secara ilegal dan tanpa orang tuanya.

Perjalanan Enrique melintasi 13 dari 31 negara bagian Meksiko dan menempuh jarak lebih dari 1600 mil, separuhnya di atap kereta api yang mereka sebut sebagai Al Train De La Muerte atau Kereta Api Maut.

Banyak anak-anak yang akhirnya ditangkap oleh Patroli perbatasan AS-Meksiko, dan di tampung di tempat penampungan dan gereja di meksiko. Sedangkan yang lainnya ditahan oleh INS (Dinas Keimigrasian dan Naturalisasi AS) di tempat penahanan di California dan Texas

Hampir 75 persen anak-anak – yang tertangkap dan berada di tempat penahanan imigran anak di texas- ingin mencari ibunya. Anak-anak ini membawa foto ketika dalam pelukan ibunya. Banyak juga yang pergi menempuh bahaya hanya sekedar mencari tahu apakah ibunya masih mencintainya atau tidak.

Perjalanan yang keras, illegal, dan berbahaya bagi anak-anak amerika tengah tersebut terjadi di sepanjang meksiko. Separuh dari mereka mendapatkan bantuan dari penyelundup dengan membayar sejumlah uang, separuhnya lagi melakukan perjalanan sendiri.

Sepanjang perjalanan mereka dihantui oleh ancaman pemerasan, pemukulan, pemerkosaan bahkan pembunuhan. Mereka kedinginan, kelaparan selama berhari-hari, dan tidak berdaya. Diburu seperti binatang oleh polisi-polisi korup, diperas dan diperdaya oleh para bandit dan anggota geng.

Mereka berangkat tanpa uang atau dengan sedikit uang, dengan menumpang kereta barang berpegangan di sisi kanan kiri atau di atap kereta. Untuk menghindari polisi dan otoritas imigrasi meksiko, mereka melompat dan berlarian dari gerbong satu ke gerbong lain yang sedang melaju kencang, dan tidak jarang banyak yang terperosok jatuh dan kehilangan anggota tubuhnya.

Semua perjalanan berbahaya ini rela dilakukan oleh mereka karena rasa rindu akan ibunya yang telah meninggalkannya ketika mereka masih kecil. Menemukan ibu mereka bagaikan pencarian akan “cawan suci”.

*

Enrique akhirnya berhasil memasuki AS dan bertemu kembali dengan ibunya. Setelah berulang kali mencoba, tertangkap, dan dikembalikan ke daerah asalnya. Dan setelah ia melakukan lebih dari 30 perjalanan dengan kereta api.

Namun pertemuan dengan ibunya tidak serta merta menyelesaikan seluruh masalah kehidupannya. Ribuan anak-anak yang berhasil bertemu dengan ibunya di AS mengalami goncangan psikologis, karena mereka menghadapi pertempuran emosional yang tidak mudah terdamaikan.

Goresan luka emosional membuat hubungan dengan orang tuanya menjadi sulit untuk diperbaiki. Banyak anak-anak ketika bertemu dengan ibunya sering mempersalahkan ibunya yang berbohong, tidak mencintai mereka, dan meninggalkannya.

Sebagian besar mereka menuntut ibunya untuk mengaku salah dan meminta maaf karena meninggalkan mereka. Sementara para ibu memikul kepedihan, karena meninggalkan anak-anaknya, dan bekerja keras untuk mengirim uang. Dan menuntut rasa hormat dari anak-anaknya atas pengorbanan mereka.

Banyak yang kerusakan hubungan ini berlanjut selama sisa hidup mereka, dan tidak bisa diperbaiki. Namun ada juga yang berhasil memperbaiki hubungan mereka dengan ibunya, walaupun memakan waktu bertahun-tahun.

Harapan untuk memiliki keluarga yang bahagia ketika bersatunya anak dan ibu, ternyata justru berkebalikan. Para keluarga menghadapi saling penolakan dan pertengkaran yang terus-menerus yang semakin sulit, sekalipun telah bersama.

Hanya 1 dari 10 anak imigran itu yang akhirnya bisa menerima orang tuanya dan mengesampingkan kebencian yang dirasakannya kepada orang tua mereka.

Mereka yang bertahan hidup, seperti Enrique, mencoba menutupi masalah dengan ibunya, dan memfokuskan perhatian kepada apa yang baik bagi masa depan mereka dan bekerja untuk memastikan cinta mereka kepada ibunya mengatasi kebencian yang juga mereka rasakan di dalam.

Imigrasi memang meninggalkan suka dan duka bagi negara yang ditinggalkan maupun yang didatangi. Eksodus imingran ke negara maju memang menjadi katup pelarian bagi negara-negara dengan masalah ekonomi yang besar, seperti Honduras dan Meksiko.

Aliran pekerja keluar telah mencegah pengangguran meningkat lebih tinggi, meningkatnya aliran uang tunai yang membentuk 15 % dari PDB perekonomian negara, meningkatnya ketrampilan pekerja yang kembali.

Namun akibat imigrasi adalah kehancuran keluarga. Perpisahan anak dan orang tua mempunyai konsekuensi negatif yang abadi.

“Ayah, ibu. Anak-anakmu membutuhkanmu. Tinggalah disini, ada peluang untuk maju. Temukanlah peluang itu ! ”

Bunyi sebuah iklan layanan masyarakat yang diluncurkan di Honduras tahun 2002 ketika negara itu tengah menghadapi kerusakan yang diakibatkan oleh perpisahan keluarga tersebut.

Kesadaran Kapitalisme – Conscious Capitalism

Patricia Aburdene dalam bukunya yang terkenal “Megatrend 2010” memperkenalkan tentang suatu ide dan inovasi dalam kepemimpinan global yang menjadi sebuah kecenderungan berbagai korporasi dalam mengelola bisnis. Salah satu isu penting adalah “Kesadaran Kapitalisme” atau Conscious Capitalism, yaitu sebuah ide multidimensi tentang pengelolaan korporasi dengan mentransformasikan dan mengintegrasikan nilai social, ekonomi dan spiritual dalam bisnis. Continue reading

Tahun Balon

“Tahun balon” begitu kata pengamat ekonomi Rizal Ramli, ketika merujuk kepada fenomena ekonomi balon (bubble economic) yang gejala-gejalanya mulai terlihat, seperti ketimpangan pertumbuhan sektor finansial dan sektor perdagangan, dan aliran modal spekulatif yang melambungkan nilai saham di bursa efek. Dunia juga berada dalam ambang krisis ekonomi global yang dipicu oleh ancaman resesi ekonomi yang sedang melanda Amerika Serikat. Dampak resesi yang sedang melanda Amerika ini akan berdampak luas kepada perekonomian Indonesia. Continue reading

Menggugat Sekolah Unggulan 89 Milyar

Pemda DKI sedang membangun sekolah unggulan berfasilitas mewah senilai 89 milyar dengan dana APBD DKI Jakarta Sekolah tersebut direncanakan untuk dibangun di kawasan seluas 3.75 ha di cipayung. Sekolah yang rencananya memiliki fasilitas peralatan olah raga, mini stadion, kolam renang, laboratorium, dan ruang astronomi tersebut diperuntukan untuk anak-anak dengan intelegensia (IQ) tinggi. Salah satu alasan yang dikemukakan oleh Sutiyoso, calon presiden 2009, ini adalah Indonesia kekurangan sumber daya manusia yang unggul dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura. Continue reading