Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka,”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (dikutip dari Injil Lukas 14:25-26).
Perintah Kristus dalam nats ini sering dianggap sebagai sebuah perintah yang bersifat kontradiktif. Bagaimana tidak kontradiktif, jika syarat untuk menjadi murid Kristus adalah membenci bapaknya, ibunya, bahkan nyawanya sendiri. Berbagai penjelasan dan tafsiran tentang ayat ini berusaha untuk memberikan jawaban terhadap kontradiksi ini. Ada yang berpendapat bahwa bukan tindakan kebencian yang dimaksudkan Yesus, tetapi tentang prioritas hidup. Jika ingin menjadi murid Kristus, maka ketaatan kepada Tuhan adalah segala-galanya. Lebih tinggi dari segala sesuatu yang kita miliki.
Tidak mudah tentu saja membuat pendamaian antara perintah mengasihi dan membenci. Apalagi ketika perintah mengasihi itu diperhadapkan dengan sesuatu yang menjadi milik kita. Kita menjadi tidak rela dan cenderung untuk mempertahankan kepemilikan kita atas “apa yang kita anggap milik kita” itu. Kita merasa berhak untuk mengelolanya secara “utuh” dan “penuh” dengan tanpa berkurang sedikitpun status kepemilikan itu. Pola pikir semacam inilah yang dikecam oleh Yesus, ketika berbicara kepada orang yang berduyun-duyun mengikutiNya. Sesungguhnya kita tidak punya hak atas kepemilikan (onwership) “segala sesuatu” yang ada pada kita. Kita hanyalah seorang penatalayan (stewardship) atas apa yang dipercayakan Allah dalam hidup kita. Karena itu, apa yang kita miliki tidak boleh menghambat kita dalam menaatiNya. “Demikian pulalah tiap-tiap orang diantara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu”.
Ketika kita berpikir bahwa kita bukanlah pemilik, tetapi penatalayan dari sesuatu yang ada pada kita, maka ketika Tuhan meminta kita untuk menempatkan ketaatan kepadaNya sebagai prioritas utama, tidak akan tejadi konflik antara kepentingan diri kita dengan ketaatan kepada Dia. Dengan rendah hati kita akan tunduk kepada pimpinanNya dan tidak mempermasalahkan ketika Dia juga meminta kita untuk melepaskan diri dari apa yang ada pada kita untuk dipakai bagi rencanaNya.
Melepaskan diri dari keterikatan terhadap milik kita, ternyata tidak mudah. Sifat dan keinginan manusia untuk memiliki sangat besar. Karena itu ajakan menjadi murid Kristus diikuti dengan perintah agar kita mampu untuk menyalibkan keinginan berkuasa terhadap milik kita, dan menyerahkan hasrat berkuasa itu kepada Dia, Sang Pemiliknya. Dan ketika Dia sudah berkuasa atas segala yang kita miliki, maka kita tidak akan berkeras mempertahankan apa yang bukan menjadi hak kita. Kalau tahapan ini sudah kita lalui, maka antara perintah mengasihi dan membenci menjadi sesuatu yang tidak berkonflik lagi, tidak kontradiktif, dan menjadi perintah yang penuh kewajaran dan kemudahan.
Ada beberapa langkah-langkah penting yang harus kita lakukan dalam proses tersebut, supaya kita mampu untuk sampai kepada tahapan tersebut:
1]. Kita perlu menekankan perubahan paradigma kita dalam memandang apa yang kita miliki. Kita hanyalah seorang “steward” dalam mengelola milikNya yang diberikan atau dipercayakan kepada kita.
Godaan terbesar muncul karena paradigma kepemilikan ini tidak kita resapi dan hayati dengan sungguh-sungguh dalam pola pikir hidup kita.
2]. Paradigma seorang “steward” adalah rasa tanggung jawab yang besar untuk mengelola, memelihara, dan mengusahakan apa yang dipercayakan kepadanya.
Paradigma ini menuntut kemampuan kita untuk secara serius dan sungguh-sungguh mengelola milik kita dengan lebih bijaksana dan bertanggung jawab untuk sesuatu yang bermanfaat, berdaya guna — seperti perumpamaan talenta — dan berkembang secara maksimal. Seorang “steward” tidak boleh mengurangi apa yang dipercayakannya.
3]. Karena pola pikir dan hati seorang “steward” adalah “mengelola kepercayaan”, maka ketika milik itu diambil oleh Sang Empunya, maka tidak ada rasa kehilangan yang muncul. Yang ada adalah sebuah pertanggungjawaban yang harus disampaikan kepada Sang Pemilik tersebut. Seorang “steward” yang sudah melaksanakan tugasnya dalam pengelolaan dan pemeliharaan, tentunya sebagai konsekuensi logis akan diberikan kepercayaan yang lebih besar lagi. Hukum ini berlaku secara universal dalam berbagai bidang kehidupan kita. “Barangsiapa setia kepada perkara kecil, ia setia kepada perkara yang besar” (Lukas 16:10).
4]. Sebagai seorang “steward”, kita tidak boleh menggunakan “apa yang bukan hak dan milik kita” itu untuk sesuatu yang bertentangan dengan tujuan Sang Pemilik. Tugas kita adalah mendayagunakan dan memberikan manfaat sesuai dengan tujuanNya. Sehingga penting bagi seorang “steward” untuk tahu apa tujuan dan maksud Sang Pemilik tersebut, supaya dalam proses penatalayanan selalu “selaras” dengan kepentingan dan kehendakNya.
Sekali lagi tidak mudah proses mengelola “apa yang kita miliki” saat ini. Jika kita tidak berhasil melakukan beberapa langkah tersebut, maka perintah “mengasihi” dan perintah “membenci” akan selalu berada dalam situasi konflik dalam kehidupan kita, selalu kontradiktif, dan membawa kita berada dalam perbenturan dua titik ekstrim yang menuntut pilihan kita, tanpa ada kemungkinan mendamaikannya.
Semoga kita setia dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari, perkara biasa yang membuktikan kelayakan kita, untuk itulah kita dapat memperoleh perkara yang sukar (James E.Faust)