“Mas, kok tempenya tipis amat? Kemarin-kemarin masih tebel”, gurau saya saat mampir ke penjual gorengan di dekat rumah. “Wah, harga kedelai naik mas. Tidak mungkin naikin harga tempe goreng, konsumennya belum tentu mau beli”, keluh tukang goreng itu. “Trus gimana mas nyiasatinya?”, tanya saya. “Ya itu tadi mas. Saya modifikasi sedikitlah, yang penting rasanya masih oke. He-he-he”, jawab penjual gorengan itu sambil tertawa penuh kepahitan. Continue reading
SIGIT DARMAWAN
-
Postingan Terakhir
- Ketika Satire Menjadi Alarm Sosial: Catatan Pribadi Menonton Mens Rea
- Menutup Tahun, Membaca Dunia: Dua Bulan Perjalanan Trade War 2.0
- Bertahan Tanpa Kehilangan Jiwa: Kepemimpinan Misi di Tengah Disrupsi Organisasi Nir Laba
- Ketika Generasi Z Bergerak, Dunia Ikut Berubah
- Bukan Sekadar Akuisisi: Perebutan Mesin Cerita Warner Bros Discovery
- Perjalanan yang Tidak Pernah Saya Rencanakan, tetapi Saya Syukuri
- Human Capital di Era Trade War 2.0: Peran Manusia dalam Ketahanan Rantai Pasok Global
- Ketika Alam Menguji Bisnis: Menata Ulang Praktik Lingkungan Perusahaan
- Ketika Tumbler Jadi Cermin Bangsa: Mengapa Hal Sepele Bisa Menjadi Huru-hara?
- Trade War 2.0 dan Industri Otomotif: Dekade Paling Menentukan dalam 50 Tahun Terakhir
Statistik Pengunjung
- 75,104 hits
Postingan Yang Banyak Dibaca Hari Ini
Arsip
-
Join 14 other subscribers
-
Komentar Terakhir