Monthly Archives: September 2025

The New Lean: Rantai Pasok yang Rampak, Lincah, dan Berdaulat

Oleh: Sigit Darmawan

Selama puluhan tahun, perusahaan memuja satu mantra: lean. Kata itu identik dengan merampingkan proses, memangkas pemborosan, dan mengefisiensikan biaya. Di ruang rapat, lean supply chain menjadi jargon sakti. Prinsipnya tampak sederhana: semakin ramping rantai pasok, semakin kompetitif perusahaan.

Namun alam permainan berubah. Krisis chip, pandemi, perang Rusia–Ukraina, serta ketegangan antara Amerika dan Tiongkok memperlihatkan satu hal jelas — ramping saja tidak memadai. Rantai pasok yang terlalu kurus justru mudah rapuh. Maka muncul gagasan baru: The New Lean — rantai pasok yang tidak hanya kurus, melainkan juga rampak, lincah, dan berdaulat.

Continue reading

Predictive Government: Era Baru Mengelola Krisis

Oleh: Sigit Darmawan

“Masyarakat tidak langsung marah. Mereka memberi tanda. Hanya saja, sering kali tak terbaca.” Bagaimana membaca sinyal krisis di era digital? Di zaman digital, kemarahan publik tidak lagi meledak tiba-tiba. Ia muncul perlahan dari balik layar—lewat unggahan video, meme satir, hingga komentar yang menyebar dalam hitungan menit. Semuanya isyarat bahwa ada yang tidak beres. Namun, banyak pemangku kuasa masih terpaku pada pola lama: menunggu laporan resmi, bertumpu pada jalur birokrasi, dan baru bergerak setelah konflik meledak.

Contohnya nyata. Dalam lima hari demonstrasi bulan Agustus 2025 yang lalu, gelombang protes meluas di sejumlah kota di Indonesia. Isunya telah ramai dibahas tiga minggu sebelumnya di media sosial. Tagar penolakan muncul saban hari, video kritik dibagikan ribuan kali, dan keresahan publik begitu gamblang di ruang digital.

Continue reading

Api dari Nepal: Avishkar Raut dan Kebangkitan Generasi Z



Oleh: Sigit Darmawan

“Suara anak muda bisa menjadi bara kecil yang menyalakan api perubahan besar.”

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan; ia menemukan buktinya di Nepal, Maret 2025. Seorang pelajar SMA bernama Avishkar Raut berdiri di mimbar sekolahnya, menyampaikan pidato yang awalnya sederhana. Namun, rangkaian ucapannya yang menyala-nyala berubah menjadi suluh nasionalisme baru.

Video pidato itu meluas, memicu gelombang demonstrasi generasi muda, hingga akhirnya berperan dalam jatuhnya Perdana Menteri Nepal.

Continue reading

Pejabat Nir-Komunikasi: Saat Suara Rakyat Dibiarkan Menggema

Gambar dicuplik dari Buku Nurudin

Oleh: Sigit Darmawan

Saya mengamati salah satu kelemahan terbesar pejabat publik di negeri ini bukan hanya soal kebijakan yang keliru, tapi soal komunikasi yang mandek. Banyak pejabat baru bersuara ketika demonstrasi sudah meledak menjadi kerusuhan, namun diam seribu bahasa ketika keluhan rakyat masih bisa ditangani sejak dini.

Dalam era keterbukaan, nir-komunikasi bukan sekadar kekurangan gaya, melainkan kegagalan kepemimpinan.

Di tengah maraknya keluhan publik—dari harga kebutuhan pokok, kenaikan pajak, hingga kenaikan tunjangan anggota parlemen, sampai terjadinya demontrasi—pejabat sering kali memilih sikap diam. Tidak ada klarifikasi, tidak ada empati, tidak ada penjelasan.

Continue reading