Barbara Kellerman, dosen senior Harvard Kennedy School, dalam bukunya Followership: How Followers Are Creating Change and Changing Leaders (2008), mengatakan bahwa pengikut bukanlah sekadar penerima arahan, melainkan bagian integral dari dinamika kepemimpinan.
(Catatan Kecil dari Seminar Bisnis oleh Yongky Susilo, Consumer Insight Strategist)
Di tengah hiruk-pikuk perubahan teknologi, sosial, dan budaya, muncul satu generasi yang kerap menjadi bahan perbincangan: Gen Z. Generasi ini lahir di era digital, tumbuh besar dengan ponsel pintar, dan hidup dalam dunia yang selalu terkoneksi.
Generasi ini penuh kontradiksi—mereka bisa terlihat santai di luar, tetapi penuh keresahan di dalam. Jadi, bagaimana kita benar-benar memahami mereka?
I. Squid Game adalah fenomena global. Sejak pertama kali dirilis pada 7 September 2021 di Netflix, serial asal Korea Selatan ini telah menjadi serial Netflix paling populer sampai sekarang.
Film ini telah ditonton 142 juta rumah tangga dalam 4 minggu pertama, dan menghasilkan pendapatan sebesar $900 juta USD. Jauh dari biaya produksinya yang hanya $21 juta USD.
Musim kedua dari serial Squid Game yang ditayangkan 26 Desember 2024 juga menuai kesuksesan yang sama. Dan penggemarnya sedang menantikan serial musim ketiga sebagai serial terakhir di pertengahan tahun 2025
I. Ketika api melahap Los Angeles, asapnya bukan hanya membumbung ke langit, tetapi juga menyeruak ke dalam hati dan pikiran manusia. Tragedi ini lebih dari sekadar bencana alam; ia adalah panggung tempat manusia, alam, dan ilahi berhadapan dalam peristiwa yang penuh makna.
Dalam api yang masih membara, teologi bencana mengajak kita untuk bertanya: Apa yang hendak Dia sampaikan melalui bahasa alam yang terkadang terdengar bising dan menyakitkan?
Kebakaran besar di Los Angeles ini, menurut laporan otoritas setempat, bermula dari musim panas yang panjang dan kering, diperparah oleh angin kencang Santa Ana yang menyebarkan api dengan cepat.
“I will be your bridge over deep water if you trust in me“.
I. Sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Rev Claude Jeter, seorang penyanyi Gospel dari kwartet “Silverstone“, telah menginspirasi Paul Simon untuk menulis lagu “Bridge Over Troubled Water“.
Lagu ini adalah refleksi persahabatan Simon dan Jeter. Liriknya memotret nilai-nilai pengorbanan, kasih, dan kepedulian. Meski berangkat dari realitas keputusasaan manusia, lagu ini mengingatkan bahwa kita tidak diciptakan untuk menjalani hidup seorang diri. Kita butuh jembatan– sebuah penopang di tengah derasnya arus kehidupan.
Religiositas lagu ini telah menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tidak heran, lagu ini menjadi lagu populer sepanjang masa dan menyabet penghargaan 8 platinum.
Netflix baru saja meluncurkan sebuah film barunya yang berjudul Mary di penghujung tahun 2024. Saya berkesempatan menonton film ini beberapa hari lalu. Film ini disutradarai oleh D.J. Caruso dan ditulis oleh Timothy Michael Hayes. Dalam proses produksinya, film ini disebut melibatkan beberapa produser terkenal.
Film ini menggambarkan kisah Maria, ibu Yesus, dengan perspektif yang manusiawi, penuh perasaan, dan menawarkan pendekatan berbeda dari sekadar kisah Alkitab yang selama ini kita kenal.
Film Mary bukan hanya bicara tentang Maria sebagai sosok kudus yang sering dilukiskan dalam ikon-ikon gereja. Netflix mencoba untuk menghadirkan sebuah realitas kehidupan seorang perempuan muda di tengah tradisi Yahudi kuno. Dari sejak kelahiran sampai masa mudanya ketika panggilan Ilahi itu datang.
“The only sensible way to live in this world is without rules.” – Joker, The Dark Knight
Joker selalu muncul sebagai simbol kekacauan. Dia adalah antitesis dari keteraturan dan kedamaian. Seseorang yang bergerak tanpa rencana yang jelas, atau setidaknya tampak begitu.
Ironisnya, justru dari Joker, kita bisa belajar banyak tentang pentingnya kejelasan tujuan dalam dunia pelayanan.
Tawanya menggema di kegelapan kota Gotham. Mengapa Joker bertindak seperti itu? Jawabannya adalah kekosongan tujuan. Joker adalah cerminan seseorang yang terjebak dalam lingkaran keputusasaan. Dia melihat dunia sebagai tempat yang tidak masuk akal. Tanpa visi dan arah. Dia mengabaikan sistem dan tatanan, dan membiarkan kekacauan menjadi pemandu.
I. Dalam dunia pelayanan Kristen, relasi antargenerasi sering kali dipahami sebagai hubungan satu arah—yang tua mengajar, yang muda mendengar. Namun jika direnungkan kembali, peran generasi muda dan tua dalam karya Allah sejatinya bisa berjalan dua arah.
Konsep reverse mentoring, yakni ketika orang muda membimbing yang lebih tua, menawarkan pendekatan baru yang berlandaskan kasih dan semangat saling belajar. Dalam praktik ini, baik mentor muda maupun mentee yang lebih tua dipanggil untuk memiliki kerendahan hati.