e-Church? Gereja Dalam Pusaran Arus Dunia Digital (2)

Oleh: Sigit Darmawan

e-Relation Dan Penetrasi Gereja

Kebutuhan manusia yang hidup dalam jaman digital ini sangat berbeda dengan kebutuhan di jaman sebelumnya. Arus modernisasi dalam pola dan cara berkomunikasi yang begitu cepat, mengobah pola dan perilaku manusia yang serba cepat pula. Karena itu organisasi, termasuk gereja, yang lambat meresponi kebutuhan anggotanya akan semakin kewalahan dalam memenuhi apa yang diharapkan oleh mereka. Dan terjadilah gap dalam pelayanan organisasi kepada anggotanya.

Dalam dunia digital, keterpautan antara individu tercipta dalam sebuah pola interaksi melalui jejaring sosial yang menguat melalui kemajuan teknologi informasi ini. Jejaring ini melahirkan pertukaran informasi dan data yang secara cepat terjadi di antara masyarakat pengguna jejaring sosial, dan menciptakan hubungan-hubungan baru yang bisa positif maupun negatif. Pola komunikasi yang terbangun dalam dunia digital melalui jejaring sosial (milis, twitter, facebook, skype dan sebagainya) meskipun intens, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Interaksi yang tanpa sentuhan hati, keterbukaan yang “terbatas” karena tidak akan mampu mengungkapan perasaan terdalam individu, pencitraan yang maya atau palsu menjadi sebuah model atau pola relasi yang kering.

Continue reading

e-Church? Gereja Dalam Pusaran Arus Dunia Digital (3)

Oleh: Sigit Darmawan

E-Sermon Dan Pendeta Google

Kemajuan internet telah memudahkan manusia dalam mencari informasi apa saja yang diperlukan dalam mencari jawaban terhadap berbagai persoalan manusia. Mesin pencari informasi, seperti Google, telah menjadi penolong bagi manusia dalam upaya mencari tahu hal-hal yang baru, mengkonfirmasi hal-hal yang menjadi kebingungan manusia, mencari jalan keluar dalam persoalan-persoalan manusia. Termasuk jawaban akan persoalan spiritual manusia. Dan untuk urusan spiritual ini, “Pendeta Google” telah menjadi penasihat yang dihandalkan bagi penggunanya. Bagaimana tidak. Seseorang bisa mengetik di papan keyboard komputernya yang terhubung internet dengan sebuah pertanyaan, “tips mengatasi depresi”, dan dalam sekejab mesin pencari akan memberikan sekian ribu (bahkan mungkin jutaan) tautan yang bisa menjadi alternatif jawaban bagi orang tersebut. Jawaban itu bisa menguatkan orang tersebut, tetapi bisa menghancurkannya.

Continue reading

Craftsmanship

“Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel  bin Uri bin Hur,  dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah  , dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan,  dalam segala macam pekerjaan (craftsmanship)” (Keluaran 31:2-3)

Bezaleel adalah seorang lelaki Israel yang ditunjuk untuk mengarsiteki pembangunan Kemah Suci dan segala macam peralatannya. Bezaleel ditunjuk karena ia adalah tukang yang ahli dalam bahan bangunan. Ia juga piawai dalam seni dan ukir-mengukir kayu, logam, dan batu berharga. Dalam pelaksanaan pembangunan Kemah Suci, ia banyak mengajarkan kepiawaiannya itu kepada pekerja-pekerja lain.

Seorang Bezaleel memiliki kapasitas yang dibutuhkan dalam proyek pembangunan Kemah Suci, yaitu: keahlian, pengertian dan pengetahuan.  Tetapi yang paling penting adalah kemampuan untuk mengintegrasikan ketiga itu ke berbagai macam pekerjaan yang kompleks itu.

Tidak cukup seorang Bezaleel memiliki kualitas keahlian, tanpa didukung oleh pengetahuan dan hikmat dalam memahami kehendak Tuhan. Pekerjaan Kemah Suci itu harus dibuat tepat sesuai yang diperintahkan Tuhan kepadanya (Keluaran 31:11). Artinya pekerjaan dari Tuhan itu harus dilakukan dengan kualitas unggul dan penuh integritas sesuai yang dikehendaki Tuhan.

Bill Johnson dalam bukunya “Dreaming with God” menjelaskan istilah craftsman sebagai orang yang mengerjakan pekerjaan atau tugas yang diberikan Allah dengan kualitas unggul (excellence), penuh kreativitas, dan integritas.

Dalam pemahaman tersebut, maka craftsman adalah seorang yang memiliki “keahlian” (craftsmanship) dan membawa semangat keahlian (power of craftsmanship) itu dalam berbagai bidang yang digelutinya. Menurut Bill, di dalam aspek “keahlian” itu terkandung prinsip kreativitas dan kebaruan (inovasi).

****

Pelayanan alumni sejatinya adalah pelayanan untuk menghidupkan craftsmanship alumni melalui pergumulan spiritualitas dalam  menemukan titik vokasinya. Membangun kualitas keahlian (craftsmanship) yang mumpuni tidak sekedar tentang keahlian, ketrampilan dan pengetahuan, tetapi termasuk sikap dan karakter yang menyertainya.

Seorang alumni yang hidup sebagai craftsman adalah alumni yang mampu mengintegrasikan antara kualitas keahlian dengan kualitas iman. Prinsip hidup mencari kehendak Tuhan menjadi hal penting dan mendasar dalam hidup alumni.

Prinsip kebaruan selayaknya menjadi urat nadi hidup alumni. Sehingga seorang alumni selalu berinovasi dalam rangka perubahan dan pertumbuhan dirinya. Jika kehidupan seorang alumni mandeg dan stagnan, maka ia mulai melupakan jatidirinya sebagai seorang craftsman.

Dalam acara sebuah Kamp Nasional Alumni 2015 yang lalu dideklarasikan menifesto alumni. Dari 7 butir manifesto alumni, manifestó ke-6 berbicara tentang craftsmanship alumni. Manifesto butir ke-6 itu berbunyi “kami bertekad menjadi pribadi yang berkualitas, unggul, produktif, berkebaruan (berinovasi), beretika, bermental pemimpin yang melayani di setiap profesi kami”.

Jika spirit of craftsmanship ini hidup dalam diri setiap alumni, maka alumni akan menjadi pribadi-pribadi yang memberi pengaruh kuat bagi lingkungannya. Dan pengaruh itu akan mendorong perubahan dalam masyarakat dan bangsa.

Maka tantangan pelayanan alumni adalah bagaimana memperkuat pembinaan alumni agar spirit of craftsmanship itu terinternalisasi dalam kehidupan alumni. Pemuridan alumni adalah kunci untuk memperkuat hal itu. Karena itu adalah fondasi untuk menumbuhkan, memperkuat, dan mentransfer spirit of craftsmanship itu dalam hidup alumni.

****

Peter Drucker, seorang pakar manajemen terkemuka dunia, pernah mengatakan “Time is the scarcest resource: and unless it is managed, nothing else can be managed”. Dalam dunia yang penuh kompetisi ini, maka waktu adalah sumberdaya yang amat langka. Jika tidak mampu dikelola dengan baik, waktu (bisa dipahami sebagai kronos dan kairos) akan hilang.

Sebagai bangsa, kita sudah kehilangan banyak waktu untuk berbenah. Peningkatan indeks kompetisi global (GCI: Global Competitiveness Index) kita belum bergerak signifikan. Kita masih dibawah Singapura, Malaysia, dan Thailand, meskipun kita memiliki potensi sumberdaya manusia yang besar.

Revolusi mental yang diangkat oleh Presiden Jokowi, sejatinya adalah sebuah revolusi untuk mengelola waktu tersebut, agar bangsa Indonesia tidak kehilangan momentum untuk menjadi bangsa yang unggul. Waktu harus direbut dengan sebuah revolusi kesadaran tentang pentingnya membangun kesejalanan antara kualitas keahlian dan kualitas karakter bangsa.

Jadi revolusi mental ini adalah sebuah gerakan untuk mendorong spirit of craftsmanship kita sebagai bangsa Indonesia.  Budaya dan karakter unggul, kreatif, dan inovatif adalah jantung dari spirit of craftsmanship.  Ini lahir dari kombinasi dan integrasi antara ketrampilan (kompetensi), pengertian (hikmat atau wisdom), dan kedalaman akan pengetahuan.

Tugas menghadirkan craftsmanship adalah tugas kita bersama sebagai bangsa. Dan alumni sebagai bagian dari kaum intelektual di masyarakat, punya peran mendorong perubahan itu. Pelayanan alumni harus didorong agar memfasilitasi peran-peran alumni sebagai craftsman di berbagai bidang. Bukankah itu sebuah tantangan yang besar?

Ngangkang Dan Budaya Ora Ilok

Dalam budaya masyarakat tertentu memang ada semacam aturan kepatutan  tidak tertulis bahwa wanita tidak elok jika ngangkang ketika duduk, atau melakukan hal-hal lainnya yang sebenarnya bisa dilakukan dengan posisi ‘tidak ngangkang’. Artinya sebenarnya ada pengecualian jika berkaitan dengan keleluasaan dalam bergerak, khususnya untuk aktivitas-aktivitas yang memang membutuhkan keleluasaan itu.

Tradisi budaya yang bersangkut paut dengan etika bagaimana perempuan berperilaku itu hidup di masyarakat selamat ratusan tahun. Di tradisi jawa misalnya, ada semacam etika kesopanan yang tidak tertulis, bahwa wanita tidak boleh tertawa terbahak-bahak dan bersuara keras. Tradisi ini diajarkan turun temurun. Begitu banyaknya aturan yang bersangkut paut dengan etika bagi perempuan, maka di tradisi budaya jawa sebutan wanita dimaknai sebagai ‘wanito: wani ditoto’, atau perempuan yang bersedia diatur.

Dalam perpektif budaya jawa, tujuan etika bagi perempuan itu untuk  ‘menegakkan’ kehormatan bagi wanita. Ada berbagai tradisi budaya dan etika di nusantara ini yang ditujukan bagi kaum perempuan. Karena itu jika perempuan tidak berperilaku sesuai dengan etika budaya tersebut, dipandang masyarakat sebagai perilaku ‘ora ilok’ atau tidak elok. Meskipun sebenarnya budaya Jawa juga mengatur perilaku laki-laki. Continue reading

Peziarahan Iman

I.
Piscine Molitor  atau Pi berusaha mencari jati diri dan pewujudan Tuhan sejak masih belia. Pi belajar mendalami banyak agama dan selalu bertanya tentang keberadaan Tuhan. Namun Pi tidak juga memutuskan untuk menganut suatu agama. Ia meminta diri dibaptis, selalu berdoa sebelum makan, namun sekaligus juga melakukan sholat lima waktu. Ia terus melakukan pencarian akan kewujudan Tuhan itu dengan bertanya dan mencoba.

Peziarahan imannya menuntunnya kepada sebuah pengembaraan di laut selama 227 hari bersama seekor harimau Bengal yang bernama Richard Parker, ketika perahu yang ditumpanginya bersama keluarga tenggelam diterjang badai laut. Hanya tersisa dirinya dan Parker.

Perjuangannya bertahan di laut bersama Parker merefleksikan pengembaraan imannya. Ia tidak menyalahkan Tuhan atas musibah itu, tetapi bertahan hidup tanpa putus asa, membangun komunikasi dengan Parker untuk saling menghargai dalam kesulitan hidup itu. Ia terus membangun harapan (iman) dan berjuang untuk bertahan meski  kemungkinannya sangat kecil.

Pengembaraan iman dan petulangan hidup seorang anak India tersebut terefleksi dalam film “Life of Pi”, yang diangkat dari novel yang menjadi best seller karya Yann Martel. Pi menemukan jejak-jejak kehadiran Tuhan dalam pengembaraan hidupnya yang sedemikian sulit itu. Continue reading

Panggilan dan Kepahlawanan – Catatan Film Soegija

“Kadangkala memang kita tidak tahu harus melakukan apa”, ujar Mgr.Soegijapranata. Ia hanya memandang pasrah dan hanya bisa terpaku menyaksikan serdadu-serdadu Jepang membawa para pekerja gereja dan orang-orang yang berlindung didalamnya. Cuplikan film ‘Soegija’ itu sangat membekas di kepala saya. Ya, kadangkala dan ada saatnya memang manusia tidak tahu harus melakukan apapun ketika berada dalam situasi yang kritis.

Soegija hanya berusaha menjalani apa yang menjadi tanggung jawabnya. Menjaga iman jemaatnya sembari mengupayakan pertolongan kemanusiaan dalam perjuangan kemerdekaan itu. Namun jangan dikira sikap pasrah itu menunjukkan kelemahannya, karena di lain kesempatan ia berani menantang kepala serdadu Jepang yang meminta gedung gereja untuk dijadikan markas tentara Jepang. ‘Penggal kepala sayaterlebih dahulu’, katanya dengan suara yang sangat tegas dan sorot mata tajam.

Continue reading

Tanpa Pancasila, Kita Bukan Indonesia (Tentang Pilar Bangsa I)

Oleh : Riedno  G. Taliawo

“Menjadi diri sendiri”, adalah penyataan umum yang sering kita dengar. Selain itu, ada kata lainnya, yakni “penerimaan diri”. Dua ungkapan ini harus dilakukan, jika seseorang ingin aman dengan diri sendiri, dan mengembangkan potensi diri untuk maju.

Manusia adalah makhluk yang terlahir tidak sempurna dan berbeda-beda. Itu realitanya: ada keunikan. Ada orang terlahir dengan kualitas suara yang indah nan baik didengar. Ada yang hadir dengan potensi menghitung, menganalisa, memimpin, berkomunikasi, bertekun, dll. Dan ada pula yang terlahir dengan keistimewahan tubuh tertentu. Akan tetapi, realita hidup tidak hanya itu. Ada kondisi sebaliknya yang terjadi.

 Kondisi berbeda ini menjadi masalah tatkala disikapi dengan cara pandang “membandingkan”, dan bukan cara pandang “berbeda atau unik”. Cara pandang membandingkan melahirkan sikap minder bagi yang dikategorikan berkekurangan. Akibatnya, yang dianggap berkekurangan memaksa diri menjadi orang lain yang dinilai lebih baik. Sayangnya, kita tidak mungkin menjadi orang yang dianggap lebih baik itu. Mungkin sedikit terlihat sama, namun kualitas diri tetaplah berbeda. Sikap ingin menjadi orang lain, berpotensi menjadikan kita manusia tidak bersyukur, disamping menjadi serba tanggung. Tanggung, karena kita tidak memaksimalkan potensi unik pemberian Sang Khalik yang ada dalam diri kita. Kita lebih sibuk, dan dengan rasa iri, mencondongkan diri berkembang seperti orang lain yang kita anggap lebih baik itu.

Continue reading

Integritas Seorang Ani

Ani, panggilan akrab Sri Mulyani, menjadi pusat perhatian masyarakat dalam beberapa bulan terakhir ini. Sejak kasus Century dibahas dalam pansus DPR, Ani tersandera secara politis oleh parlemen yang menganggap Ani sebagai pejabat yang bertanggungjawab atas kebijakan talangan bank Centrury. Oleh parlemen kebijakan tersebut dianggap sebagai kebijakan yang bermasalah. Dan karenanya Ani harus menjalani proses pertangungjawaban secara politis dan hukum.

Publik mengenal Ani sebagai seorang professional yang diakui integritasnya, tegas dalam bersikap, dan seorang reformator birokrasi di depkeu. Integritas pribadinya membuat gentar orang-orang yang tidak suka kepentingannya diusik. Dan karenanya ada upaya untuk menyingkirkannya.

 Walaupun Ani belakangan mendapatkan dukungan dari publik, namun kekuatan dukungan tersebut belum mampu menopang “ketersingkiran”nya dari jabatannya. Cepat atau lambat, Ani akan tersingkir.

Continue reading