The Anxious Generation: Jonathan Haidt dan Generasi yang Gelisah

Oleh: Sigit Darmawan

(Telaah Kritis Buku Haidt)

I.
Buku The Anxious Generation karya Profesor Jonathan Haidt, adalah satu buku terlaris di New York Times sejak diterbitkan pada maret 2024. Haidt sendiri adalah seorang psikolog sosial dan pembicara TED.

Dalam bukunya, ia mengupas fenomena meningkatnya gangguan kecemasan dan depresi di kalangan remaja di Amerika. Banyak fakta yang tersaji tentang bagaimana generasi muda–khususnya Gen Z–terperangkap dalam siklus kecemasan yang semakin meningkat.

Buku ini mengeksplorasi dengan tajam tentang bagaimana teknologi, media sosial, dan budaya zaman modern telah menciptakan generasi cemas atau gelisah (anxious generation) —terutama bagi Gen Z.

Continue reading →

Korupsi: Kejahatan Tanpa Dosa?

Oleh: Sigit Darmawan

(Menggugat Vonis Ringan Koruptor)

I.
Korupsi adalah ironi terbesar di negeri ini. Di satu sisi, ia merugikan jutaan orang; di sisi lain, pelakunya sering terlihat nyaman dengan hukuman yang jauh dari efek jera. Mengapa koruptor masih dianggap “istimewa” dalam sistem hukum kita? Apakah kita sebagai bangsa sudah kalah sebelum berperang?

Profesor Robert Klitgaard, pakar korupsi, memperkenalkan “Equation of Corruption“, formula sederhana namun mendalam untuk memahami akar masalah korupsi:

Korupsi = Monopoli Kekuasaan + Diskresi Tanpa Akuntabilitas – Transparansi

Continue reading →

JEMBATAN

Oleh: Sigit Darmawan

“I will be your bridge over deep water if you trust in me“.

I.
Sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Rev Claude Jeter, seorang penyanyi Gospel dari kwartet “Silverstone“, telah menginspirasi Paul Simon untuk menulis lagu “Bridge Over Troubled Water“.

Lagu ini adalah refleksi persahabatan Simon dan Jeter. Liriknya memotret nilai-nilai pengorbanan, kasih, dan kepedulian. Meski berangkat dari realitas keputusasaan manusia, lagu ini mengingatkan bahwa kita tidak diciptakan untuk menjalani hidup seorang diri. Kita butuh jembatan– sebuah penopang di tengah derasnya arus kehidupan.

Religiositas lagu ini telah menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tidak heran, lagu ini menjadi lagu populer sepanjang masa dan menyabet penghargaan 8 platinum.

Continue reading →

“Menyongsong Dunia 2025: Dari Dominasi ke Multipolaritas”

Oleh:  Sigit Darmawan

(Catatan dari Global Trends 2025)

Tahun 2025, panggung besar dunia akan dipenuhi aktor-aktor baru. Dominasi Barat, terutama Amerika Serikat, mulai pudar. Dunia multipolar yang penuh dinamika sedang menjelang. Kekuasaan ekonomi, politik, dan sosial kini tersebar lebih luas, tidak hanya di tangan negara-negara maju, tetapi juga negara berkembang, aktor non-negara, hingga teknologi.

Itulah inti laporan Global Trends 2025: A Transformed World, yang diterbitkan oleh National Intelligence Council (NIC). Sebagai badan strategis di bawah Kantor Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, NIC bertugas memberikan kajian dan analisis mendalam untuk membantu pembuat kebijakan memahami tren besar dunia di masa depan.

Continue reading →

Mary, Sang Perempuan Iman: Refleksi dari Layar Netflix 2024

Oleh: Sigit Darmawan

(Catatan Kecil dari Film Mary)

Netflix baru saja meluncurkan sebuah film barunya yang berjudul Mary di penghujung tahun 2024. Saya berkesempatan menonton film ini beberapa hari lalu. Film ini disutradarai oleh D.J. Caruso dan ditulis oleh Timothy Michael Hayes. Dalam proses produksinya, film ini disebut melibatkan beberapa produser terkenal.

Film ini menggambarkan kisah Maria, ibu Yesus, dengan perspektif yang manusiawi, penuh perasaan, dan menawarkan pendekatan berbeda dari sekadar kisah Alkitab yang selama ini kita kenal.

Film Mary bukan hanya bicara tentang Maria sebagai sosok kudus yang sering dilukiskan dalam ikon-ikon gereja. Netflix mencoba untuk menghadirkan sebuah realitas kehidupan seorang perempuan muda di tengah tradisi Yahudi kuno. Dari sejak kelahiran sampai masa mudanya ketika panggilan Ilahi itu datang.

Continue reading →

Ketika Olok-olok Menjadi Luka di Tengah Kemiskinan

Oleh: Sigit Darmawan

(Tulisan ini sekaligus sebagai refleksi diri)

Seorang anak kecil duduk di trotoar, memeluk perut kosongnya sambil menatap ibunya yang berjualan di pinggir jalan. Sang ibu menjual sebungkus nasi atau segelas teh manis. Pemandangan ini mungkin terlalu biasa bagi kita. Tetapi di balik itu ada perjuangan yang tak pernah kita rasakan.

Lalu datanglah kita, yang hidup lebih nyaman, entah sebagai pejabat, tokoh, atau siapa saja yang merasa lebih tinggi derajatnya. Dengan santai kita melempar candaan.

Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, ketika seorang utusan khusus Presiden mengolok-olok penjual es teh. “Es tehmu masih banyak gak? Masih? Ya sana jual g*bl*k !” katanya, sambil tertawa. Penjual es teh itu hanya terdiam penuh kelu.

Continue reading →

Green Theology: Respon Kekristenan Terhadap Krisis Lingkungan

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika membahas teologi, kita kerap terjebak dalam labirin teori dan doktrin. Namun, teologi seharusnyalah nyata, membumi, dan relevan. Ia bukan hanya konsep di menara gading, tetapi pelita yang menuntun hidup kita, termasuk saat menghadapi salah satu tantangan terbesar zaman ini: krisis lingkungan.

Krisis lingkungan bukan sekadar soal cuaca ekstrem atau rusaknya ekosistem. Ini juga soal iman kita, soal tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Tuhan.

Indonesia, misalnya, menghadapi masalah besar seperti deforestasi, polusi plastik, dan krisis air. Ini bukan hanya masalah lokal, tetapi cerminan dosa kolektif manusia terhadap alam—keserakahan, ketamakan, dan pengabaian terhadap harmoni ciptaan.

Continue reading →

70 Wajah Torah: Sebuah Cermin Kehidupan untuk Dunia Modern

Oleh: Sigit Darmawan

(Catatan kecil yang tertinggal dari webinar tentang “Bethlehem atau Migdal Eder”)

70 Wajah Torah adalah salah satu konsep yang paling mendalam dalam tradisi Yahudi. Sebuah prinsip yang mengingatkan kita bahwa Firman Tuhan adalah sebuah permata dengan banyak sisi.

Setiap sudutnya memantulkan cahaya yang berbeda tergantung bagaimana kita melihatnya. Tetapi meskipun berbeda, setiap pantulan tetap berasal dari sumber yang sama.

Dalam masyarakat modern yang penuh keberagaman—di tempat kerja, gereja, atau bahkan di ruang makan keluarga—kebenaran sering kali terlihat berbeda tergantung dari sudut pandang siapa kita mendengarkannya. Dan 70 Wajah Torah akan menjadi lebih relevan dari sebelumnya.

Continue reading →