Category Archives: Refleksi

Ketika Tumbler Jadi Cermin Bangsa: Mengapa Hal Sepele Bisa Menjadi Huru-hara?

Oleh: Sigit B. Darmawan

Ada kalanya sebuah bangsa bercermin bukan melalui peristiwa besar, melainkan lewat hal-hal kecil yang tidak kita sangka. Beberapa hari ini kita disuguhi kisah sebuah tumbler Tuku yang tertinggal di kereta dan tiba-tiba menjelma menjadi drama nasional. Linimasa penuh sesak, komentar tak henti bermunculan, media ikut mengulas, seolah negeri sedang diguncang isu strategis—padahal yang menjadi pusat perhatian hanyalah botol minum.

Sebuah tumbler, dengan harga yang bahkan tidak setara upah harian sebagian pekerja, berubah menjadi panggung tempat emosi publik, cara berpikir, dan watak digital kita tampil tanpa tapisan. Di situlah letak menariknya: bukan peristiwanya yang penting, tetapi reaksi kita.

Continue reading

Api dari Nepal: Avishkar Raut dan Kebangkitan Generasi Z



Oleh: Sigit Darmawan

“Suara anak muda bisa menjadi bara kecil yang menyalakan api perubahan besar.”

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan; ia menemukan buktinya di Nepal, Maret 2025. Seorang pelajar SMA bernama Avishkar Raut berdiri di mimbar sekolahnya, menyampaikan pidato yang awalnya sederhana. Namun, rangkaian ucapannya yang menyala-nyala berubah menjadi suluh nasionalisme baru.

Video pidato itu meluas, memicu gelombang demonstrasi generasi muda, hingga akhirnya berperan dalam jatuhnya Perdana Menteri Nepal.

Continue reading

Keadilan atau Formalitas: Belajar dari Hakim Caprio



Oleh: Sigit Darmawan

I.
20 Agustus 2025 dunia hukum berduka. Frank Caprio, hakim kota kecil Providence, Rhode Island, meninggal pada usia 88 tahun setelah melawan kanker pankreas. Sosok sederhana ini dikenal lewat acara televisi Caught in Providence. Dari ruang sidang kecil, namanya mendunia.

Caught in Providence pertama kali tayang tahun 2000. Popularitasnya melonjak ketika klip-klip persidangannya di unggah ke youtube di 2015. Cuplikan-cuplikan video persidangannya yang viral telah dilihat jutaan orang di seluruh dunia. Caught in Providence resmi diangkat dalam jaringan sindikasi TV Nasional Amerika dan menjangkau jutaan orang setiap minggunya.

Continue reading

[Paradox AI] Generasi yang Berbicara dengan Mesin: Risiko Kesehatan Mental di Era AI

Oleh: Sigit Darmawan

I.
Dua pekan ini, linimasa Tiktok dipenuhi satu nama: Kendra Hilty.

Ia bukan selebritas, bukan tokoh publik. Namun di Tiktok jutaan orang sedang membicarakannya. Kisahnya membuat banyak orang memikirkan kembali batas antara manusia dan teknologi.

Kendra adalah seorang life coach sekaligus advokat bagi mereka yang hidup dengan ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder)—gangguan perkembangan otak yang membuat seseorang sulit fokus, hiperaktif, dan impulsif.

Continue reading

Melihat yang Kita Miliki: Pendekatan Baru Mengubah Organisasi Lewat Appreciative Inquiry

Oleh: Sigit Darmawan

Dua orang berdiri di ujung tebing. Yang satu menatap gunungan hasil kerja keras, tersenyum sambil berkata, “Lihat apa yang sudah kita capai!” (Asset Based).
Yang lain menunjuk ke seberang, ke lubang kosong, sambil mengeluh, “Kita belum punya ini dan itu.” (Deficit Focused)

I.
Dua sudut pandang berbeda. Dua cara mengelola perubahan. Dan hasilnya bisa sangat berbeda.

Jumat 13 Juni 2025 lalu saya menghadiri peluncuran buku “Manajemen Strategis: Model Roket ST” yang ditulis oleh kawan saya, Dr. Sigit Triyono, Sekum LAI di gedung LAI. Buku itu ditulis sebagai panduan bagaimana organisasi nirlaba menyusun peta jalan perubahan yang komprehensif, tetap bertahan, serta berkembang dalam berbagai tantangan jaman dan multi krisis.

Continue reading

Jesus Revolution: Kebangkitan Rohani atau Euforia Sesaat?

Oleh: Sigit Darmawan

Beberapa bulan terakhir, reel IG saya dipenuhi video anak-anak muda di kota-kota Eropa yang bernyanyi lagu spiritual di ruang-ruang publik: Roma, Paris, London, Dublin, Amsterdam. Mereka menggelar Jesus March. Berjalan sembari memuji Tuhan, berdoa, dan memberikan kesaksian iman mereka.

Fenomena ini sudah muncul di 5 tahun terakhir: Jesus Revolution(JR). Aktivitas yang mengusung semangat penginjilan terbuka, penyembahan terbuka, dan (sering) disertai “pertobatan” dan pembaptisan.

Continue reading

Creative Minority: Kekuatan Kecil yang Mengubah

Oleh: Sigit Darmawan

“The creative minority are the agents of change in any civilization, and it is they who give the culture its direction.”
— Arnold J. Toynbee, A Study of History

I..
Maret lalu, saya diminta berbicara di sebuah diskusi pembinaan staf dan alumni Perkantas Jawa Barat. Kami membahas tagar yang ramai di medsos: #IndonesiaGelap dan #KaburAjaDulu. Isunya adalah soal harapan dan realitas bangsa hari ini. Dari diskusi itu, saya ingin mengangkat salah satu tema kecil untuk dituliskan disini: creative minority (minoritas kreatif). Sebuah istilah yang diangkat oleh Arnold J. Toynbee dalam bukunya “A Study of History”.

Continue reading

The Last Supper: Menyelami Makna Pengkhianatan

Oleh: Sigit Darmawan

I.
Apa yang bisa kita bayangkan di malam yang hening, tiga belas orang duduk di sebuah ruangan dengan membawa beban masing-masing? Mereka tidak hanya berbagi roti dan anggur, tetapi juga kecemasan, pengkhianatan, janji, dan pengajaran yang tak sepenuhnya mereka pahami.

The Last Supper(2025) coba menangkap kembali salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Kekristenan. Disutradarai oleh Mauro Borrelli, film ini membawa suasana yang lebih intim dari Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya.

Continue reading