Category Archives: Refleksi

Kesetiaan Kepada Nurani

Ketika saya sedang membaca kembali cerita epos mahabarata-baratayudha, betapa tertegunnya saya ketika mendapati bahwa ada sisi-sisi kebaikan yang terlihat di dalam diri sebagian para kurawa. Namun kebaikan itu terbentur kepada skenario keserakahan mayoritas para Kurawa yang ingin menguasai kerajaan Hastinapura  dengan cara-cara yang tidak jujur, yang sejatinya bukan merupakan hak mereka.

Raden Yuyutsu adalah seorang Kurawa, anak Raja Drestarata, yang memiliki kepekaan nurani ketika kakaknya yang sulung, Duryudana sang Raja Hastinapura, bertindak culas kepada Pandawa dalam permainan dadu sehingga Pandawa terbuang dari kerajaan Hastinapura dan harus mengembara selama tiga belas tahun lamanya. Perasaannya terusik menyaksikan ketidakadilan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya kepada para Pandawa,  yang adalah saudara mereka juga. Continue reading

Adakah Kebaikan Dalam Diri Kurawa?

Jika kita mengenal cerita pewayangan, khususnya cerita Mahabarata dan Baratayudha, maka kita mengenal dua kelompok yang saling berseteru, berselisih, bersaing, dan akhirnya berperang dalam legenda perang besar di padang Kurusetra untuk memperebutkan kerajaan Hastinapura. Kedua kelompok manusia itu dikenal sebagai Kurawa dan Pandawa.

Pandawa selalu digambarkan sebagai kelompok ksatria berjumlah lima orang yang memiliki: budi pekerti , tatakrama, dan karakter yang luhur, serta berwatak ksatria, penuh tanggung jawab, tidak menindas dan tidak serakah. Walaupun dalam beberapa cerita pewayangan para ksatria Pandawa ini juga memiliki kelemahan dan keburukan–sehingga sering diingatkan oleh para Punakawan– namun cerita tentang kebaikan dan keluhuran budinya jauh lebih  kuat bergema dibanding kelemahannya.

Continue reading

Mind Set: Inti Pembelajaran Diri

“…whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is admirable—if anything is excellent or praiseworthy—think about such things” (Apostle Paul to Philippians)

Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan kita lakukan. Pola pikir kita ini akan mempengaruhi karakter, kebiasan (habits), perilaku dan sikap kita. Pola pikir ini sangat dipengaruhi oleh sistim kepercayaan atau sistim nilai yang kita miliki, nilai-nilai keluarga, pendidikan, dan lingkungan. Karena itu kita harus memastikan agar pola pikir kita hanya dibentuk dan dipengaruhi dengan nilai-nilai yang baik dan benar.

Sebuah transformasi (perubahan) pola pikir harus terjadi, jika kita ingin mengembangkan hidup yang berkualitas. Perubahan ini dimaksudkan supaya semua potensi, bakat, dan talenta kita bisa dikembangkan secara optimal, dan menghasilkan sebuah keluaran (output) dengan kualitas terbaik. Continue reading

Natal Dan Qurban

Bukan suatu kebetulan, jika hari raya Natal tahun ini berdekatan dengan hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban. Namun ada pesan yang perlu kita renungkan dengan kedekatan dua hari raya ini bagi kehidupan kita sebagai umat manusia beragama, khususnya di Indonesia. Dalam pandangan Islam, Idul Qurban adalah simbol pengorbanan dan ketaatan untuk pembebasan harkat manusia, ketika Nabi Ibrahim mewujudkan cinta kasihnya kepada Tuhan dengan ketaatan mengorbankan Ismail untuk diserahkan kepada Tuhan, yang kemudian digantikan dengan seekor domba. Continue reading

Mendamaikan Perintah Mengasihi dan Membenci

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka,”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (dikutip dari Injil Lukas 14:25-26). Continue reading

Mulailah Dengan Bertindak

Dalam “Perumpamaan Tentang Orang Samaria Yang Baik Hati”, terjadi perbincangan menarik tentang “siapakah sesama manusia” antara orang Farisi dengan Yesus. Perbincangan ini terjadi, ketika orang Farisi menanyakan tentang hal apakah yang bisa dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Yesuspun menjawab dengan mengacu kepada yang tertulis di kitab “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan kasihilah sesamamu manusia…”. Ketika orang Farisi mempersoalkan tentang “siapakah sesama manusia”, Yesus tidak memberikan jawaban langsung tentang definisi tersebut, tetapi memberikan sebuah perumpamaan yang menarik tentang orang Samaria yang baik hati (kisah lengkapnya bisa dilihat di kitab Injil Lukas 10: 25-37).

Bagi orang Farisi mempersoalkan “siapa sesama manusia” itu merupakan suatu hal penting dan perlu kejelasan. Tetapi tidak bagi Yesus. Kasih adalah kasih. Kasih itu tidak memandang manusia. Itu tidak perlu didefinisikan. Orang Samaria dalam perumpamaan tersebut adalah contoh orang yang tidak “mendefinisikan” atau memikirkan seperti apa dan siapa “sesama manusia” itu. Dia tidak berpikir dan berdebat berbagai teori tentang manusia. Tetapi yang dilihat oleh orang Samaria adalah kebutuhan manusia untuk dikasihi. Tidak peduli jika “mungkin” yang ditolong adalah musuhnya.

Di akhir perumpamaan Yesus bertanya kepada orang Farisi, siapakah diantara ketiga orang – orang Farisi, orang Lewi, dan orang Samaria – yang menunjukkan belas kasihan kepada sesama. Maka bisa dibayangkan raut muka orang Farisi yang malu dan tidak punya pilihan jawaban selain menunjuk kepada orang Samaria yang sudah menolong dan berbuat kebaikan tersebut. Malu, karena selama ini mereka berkutat banyak ke hal-hal yang bersifat teoritis, dan bukan praktis. Sesuatu perintah yang sedemikian jelas dan sederhana, tetapi ingin diperdebatkan secara panjang lebar. Tentu saja alasan memperdebatkan itu bukan karena ingin memahami perintah itu lebih dalam, tetapi karena ingin mempertahankan “budaya basa-basi”nya itu.  Apabila ditilik jauh kedalam,  motivasi yang sebenarnya adalah “keengganan untuk bertindak” karena konsepsi mereka tentang “siapa sesama itu” berbeda dengan perintah Yesus itu. Orang Farisi lebih peduli dan mempersoalkan tentang konsepsi sebuah perintah, dibanding mempersoalkan bagaimana segera bertindak. Pemahaman yang dalam terhadap sesuatu, tidak menjamin sebuah tindakan konkrit akan dilakukan. Yesus mengajarkan untuk memulai dengan melakukan suatu perintah itu yang sederhana itu, dan bukan mempersoalkannya.

Pelajaran penting dari perumpamaan ini adalah “mulailah dengan bertindak”. Seringkali kita tidak bersedia dan tidak mau bertindak, karena kita terlalu sibuk dengan “definisi” dan hal-hal teoritis yang justru menghambat tindakan kita. Kita menunda-nunda berbuat sesuatu yang konkrit, dengan alasan ingin mendapatkan kejelasan terhadap sesuatu. Ini tidak berarti kita mengabaikan berbagai pertimbangan dan rasio dalam memutuskan suatu tindakan. Tetapi jika hal itu menghambat kita dalam bertindak, maka mungkin memang kita perlu “mengesampingkan” terlebih dahulu berbagai perdebatan dan pergulatan pikiran yang menyita energi kita tersebut, dan “mulai bertindak”. Tentu saja, kita bertindak dalam batas-batas pengertian yang dipahami saat itu. 

Sejalan dengan tindakan tersebut, kita bisa belajar dan merenung-ulangkan semua proses dan pertimbangan, supaya ada perbaikan dalam tindakan selanjutnya. Jadi proses “memahami sesuatu” itu berjalan seiring dengan proses “bertindak”. Tetapi “mulai bertindak” adalah langkah awal untuk sebuah perubahan dan kemajuan hidup kita. Berani?

Kepahitan itu telah pergi

Sabtu siang, 3 Maret 2007

Ketika aku sedang bergairah dengan internet boot camp ku, tiba-tiba telepon genggam yang aku taruh di saku celana bergetar. “Wah, ada pesan masuk!”, batinku. Karena pikiran dan konsentrasi sedang tertuju kepada apa yang disampaikan oleh seorang pakar internet, maka pesan itu aku abaikan.

Dalam jeda acara, aku membaca pesan masuk, yang ternyata “Pak S telah meninggal dunia tadi siang. Ibu S histeris….”. Tertegun aku membaca pesan singkat itu, setengah tidak percaya. “Oh my God…”. Hanya itu komentarku. Aku teringat 2 hari lalu anak saya, tata, masih di sapa dengan ramah oleh pak S itu. Dia adalah satu-satunya tetanggaku yang dekat dengan anakku .

Aku juga kembali teringat akan percakapanku dengan pak S di pagi hari, beberapa bulan yang lalu. Ketika dengan wajah sedih pak S bercerita tentang persoalan hidupnya, persoalan keluarganya. Sesudah percakapan terakhir itu, aku jarang bertemu. Sesekali berpapasan, tanpa sempat untuk berbicang-bincang labih lanjut.

Dan, pak S itu telah pergi. Membawa kepahitan hidup yang selama ini menggelayutinya. Juga menggelayuti keluarganya. Aku tidak tahu apakah kepahitan telah berkurang di hari terakhirnya itu. Jika belum, mungkinkah kematian adalah jalan terbaik untuk memutuskan kepahitan itu? Ah, tentunya tidak. Tuhan masih sanggup mengubah hati manusia, betapapun kerasnya hati manusia. Tuhan bisa menyembuhkan luka hati yang paling parah sekalipun. Jadi selama manusia masih hidup, ia punya kesempatan untuk untuk memulihkan hubungan dengan orang lain yg telah hancur. Hanya jika Tuhan menyentuh hati dan nurani manusia.

Tercenung aku untuk sesaat di tengah gegap gempita sorak sorai peserta boot camp yang sedang dimotivasi oleh pembicara yg karismatis itu. Tercenung, oleh kesadaran bahwa aku memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang di dekatku. Ah, ternyata peristiwa ini memberikan pelajaran yang berharga untukku. Tuhan memberikan juga kesadaran ke hati dan pikiranku.

Aku tidak tahu, apakah pak S pergi dengan kepahitan yang sudah berkurang. Semoga jeritan histeris istri dan anaknya, memberikan tanda bahwa mereka sudah berdamai dengan kepahitan itu.

Sabtu malam, 3 Maret 2007

Bergegas aku ke rumah ibu S, sepulang dari boot camp yang berakhir sampai larut malam itu. Aku hanya bisa mengucapkan kesedihan atas kepergian pak S dan minta maaf tidak bisa membantu kerepotan pada saaat pemakaman sore hari itu.

Wajah ibu S yang memerah dan mata membengkak sudah cukup menyatakan kesedihannya yang mendalam. Anak lelakinya memeluk aku dan meminta aku memaafkan semua kejadian dalam keluarganya yang sudah mengganggu para tetangganya – Jujur aku memang pernah terganggu kalau pak dan Ibu S itu bertengkar. Suara pertengkaran itu bisa menembus dinding rumahku dan menimbulkan kerisauan yang amat dalam. Sempat terpikir olehku untuk pindah rumah, karena risau akan dampak pertengkaran mereka ke anak-anakku.

“Sudahlah…”. Hanya itu yang aku bisa katakan.

Aku memang tidak tahu apakah kepahitan itu telah pergi karena kematian itu. Ataukah kepahitan itu pergi, sesaat sebelum kematian itu. Hanya keluarga itu yang tahu. Aku hanya bisa berharap. Semoga terjadi yang kedua.

KEPAHITAN

Oleh: Sigit. B. Darmawan 

Rabu, 10 Januari 2007

Mendadak pagi ini aku teringat tetanggaku. Seorang bapak, yang berusia kurang lebih 50 tahun. Dia sudah beristri dan beranak dua. Aku tahu ada masalah keluarga yang sangat berat, yang dihadapinya. Sudah satu bulan ini aku tidak bertemu dengannya. Ah, apa khabarnya sekarang!

Aku teringat pertemuan dengannya saat bulan puasa tahun lalu. Di pagi hari saat aku bersiap untuk ke kantor, dia berjalan gontai kearahku. Wajahnya kelihatan murung. Tapi masih dia paksakan untuk tersenyum kepadaku. Aku menyapanya sejenak. Saat aku mulai akan masuk ke mobilku, tanpa terduga dia berbalik. Dengan wajah sedih, dia berkeluh kesah tentang dirinya, dan keluarganya. Betapa terlantarnya dia saat ini di tengah keluarganya sendiri. Istri dan anaknya sudah “mengusir” nya untuk tinggal di dalam rumah, sehingga dengan terpaksa dia harus tidur di depan rumahnya atau emperan rumah tetangga yang kosong.

Aku sudah menduga-duga sebelumnya. Karena dia sering bertengkar dengan istrinya, dengan suara yang sangat keras. Istrinyapun, dengan dibantu anaknya laki-laki, berteriak tidak kalah kerasnya. Tidak siang, tidak malam. Sebenarnya aku dan keluargaku sudah sangat terganggu dengan hal pertengkaran mereka. Demikian juga anak-anakku. Tapi apa mau dikata, suami istri itu kelihatannya sulit berdamai.

Pagi itu lelaki itu bercerita tentang tersingkirnya dia dari keluarganya, sejak dia terkena stroke sampai dia harus keluar dari pekerjaannya. Air matanya mulai berkaca-kaca. Dengan gemetar, dia membuka dompetnya. Dompet yang sudah sangat lusuh. Tidak banyak isinya. Tapi ada gambar lelaki muda yang sangat gagah dan tampan. “Ini adalah photo saya 5 tahun lalu”, katanya dengan menyisakan sedikit kebanggaan. Aku melihat sejenak foto itu, dan mencoba membandingkannya dengan yang sekarang. Betapa berbedanya! Raut wajah yang kelihatan tua, dengan kulit yang kecoklatan dan berkeriput. Betapa waktu 5 tahun sudah mengubah penampilannya secara drastis.

Lelaki itu bercerita betapa hidupnya sudah penuh dengan kepahitan terhadap istrinya. Konflik dalam keluarga yang sudah sedemikian parah telah menggerogoti tubuhnya, merusak penampilannya, dan akhirnya menjadi lelaki yang tanpa daya. Dicaci maki oleh istrinya, bahkan oleh anaknya sendiri. Mungkin saja lelaki itu juga sudah membuat kesalahan kepada keluarganya. Dan tidak segera memperbaikinya. Benih kepahitanpun tertanam.

Kepahitan itu sungguh merusak. Sumbernya bisa bermacam-macam. Bisa karena dikecewakan, disakiti, dihina, tidak dihargai. Dan ini bisa sengaja atau tidak disengaja. Sadar atau tidak sadar. Yang perlu kita lakukan adalah introspeksi, peka dengan reaksi orang, hati-hati dalam berkata dan bertindak, pupuk rasa menghargai, rendah hati untuk meminta maaf dan memaafkan.

Maaf. Itulah kunci untuk memulihkan kepahitan. Bersedia untuk memaafkan orang yang sudah menanam kepahitan dalam hidup kita. Dan bersedia untuk meminta maaf kepada orang lain, supaya tidak tumbuh kepahitan dalam diri orang lain karena tindakan kita.
Namun “empat huruf” itu ternyata tidak mudah dilakukan. Perlu kebesaran jiwa, kedalaman berpikir dan kerelaan hati untuk mengucapkan kata “maaf”. Berdamai dengan diri sendiri akan menjadi langkah awal untuk pengampunan kepada orang lain.

Ah! Lelaki itu sudah mengajarkan sesuatu kepadaku. Walaupun aku tidak mampu membantu persoalannya, tetapi setidak-tidaknya pemberian satu kaleng biskuit untuk berbuka puasanya mudah-mudahan meringankan kepahitan hidupnya. Dan tentu saja aku berdoa untuknya dan keluarganya. Tuhan bisa dan sanggup untuk mengubah hati manusia.