Category Archives: Refleksi

Natal Dan Qurban

Bukan suatu kebetulan, jika hari raya Natal tahun ini berdekatan dengan hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban. Namun ada pesan yang perlu kita renungkan dengan kedekatan dua hari raya ini bagi kehidupan kita sebagai umat manusia beragama, khususnya di Indonesia. Dalam pandangan Islam, Idul Qurban adalah simbol pengorbanan dan ketaatan untuk pembebasan harkat manusia, ketika Nabi Ibrahim mewujudkan cinta kasihnya kepada Tuhan dengan ketaatan mengorbankan Ismail untuk diserahkan kepada Tuhan, yang kemudian digantikan dengan seekor domba. Continue reading →

Mendamaikan Perintah Mengasihi dan Membenci

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka,”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (dikutip dari Injil Lukas 14:25-26). Continue reading →

Mulailah Dengan Bertindak

Dalam “Perumpamaan Tentang Orang Samaria Yang Baik Hati”, terjadi perbincangan menarik tentang “siapakah sesama manusia” antara orang Farisi dengan Yesus. Perbincangan ini terjadi, ketika orang Farisi menanyakan tentang hal apakah yang bisa dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Yesuspun menjawab dengan mengacu kepada yang tertulis di kitab “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan kasihilah sesamamu manusia…”. Ketika orang Farisi mempersoalkan tentang “siapakah sesama manusia”, Yesus tidak memberikan jawaban langsung tentang definisi tersebut, tetapi memberikan sebuah perumpamaan yang menarik tentang orang Samaria yang baik hati (kisah lengkapnya bisa dilihat di kitab Injil Lukas 10: 25-37).

Bagi orang Farisi mempersoalkan “siapa sesama manusia” itu merupakan suatu hal penting dan perlu kejelasan. Tetapi tidak bagi Yesus. Kasih adalah kasih. Kasih itu tidak memandang manusia. Itu tidak perlu didefinisikan. Orang Samaria dalam perumpamaan tersebut adalah contoh orang yang tidak “mendefinisikan” atau memikirkan seperti apa dan siapa “sesama manusia” itu. Dia tidak berpikir dan berdebat berbagai teori tentang manusia. Tetapi yang dilihat oleh orang Samaria adalah kebutuhan manusia untuk dikasihi. Tidak peduli jika “mungkin” yang ditolong adalah musuhnya.

Di akhir perumpamaan Yesus bertanya kepada orang Farisi, siapakah diantara ketiga orang – orang Farisi, orang Lewi, dan orang Samaria – yang menunjukkan belas kasihan kepada sesama. Maka bisa dibayangkan raut muka orang Farisi yang malu dan tidak punya pilihan jawaban selain menunjuk kepada orang Samaria yang sudah menolong dan berbuat kebaikan tersebut. Malu, karena selama ini mereka berkutat banyak ke hal-hal yang bersifat teoritis, dan bukan praktis. Sesuatu perintah yang sedemikian jelas dan sederhana, tetapi ingin diperdebatkan secara panjang lebar. Tentu saja alasan memperdebatkan itu bukan karena ingin memahami perintah itu lebih dalam, tetapi karena ingin mempertahankan “budaya basa-basi”nya itu.  Apabila ditilik jauh kedalam,  motivasi yang sebenarnya adalah “keengganan untuk bertindak” karena konsepsi mereka tentang “siapa sesama itu” berbeda dengan perintah Yesus itu. Orang Farisi lebih peduli dan mempersoalkan tentang konsepsi sebuah perintah, dibanding mempersoalkan bagaimana segera bertindak. Pemahaman yang dalam terhadap sesuatu, tidak menjamin sebuah tindakan konkrit akan dilakukan. Yesus mengajarkan untuk memulai dengan melakukan suatu perintah itu yang sederhana itu, dan bukan mempersoalkannya.

Pelajaran penting dari perumpamaan ini adalah “mulailah dengan bertindak”. Seringkali kita tidak bersedia dan tidak mau bertindak, karena kita terlalu sibuk dengan “definisi” dan hal-hal teoritis yang justru menghambat tindakan kita. Kita menunda-nunda berbuat sesuatu yang konkrit, dengan alasan ingin mendapatkan kejelasan terhadap sesuatu. Ini tidak berarti kita mengabaikan berbagai pertimbangan dan rasio dalam memutuskan suatu tindakan. Tetapi jika hal itu menghambat kita dalam bertindak, maka mungkin memang kita perlu “mengesampingkan” terlebih dahulu berbagai perdebatan dan pergulatan pikiran yang menyita energi kita tersebut, dan “mulai bertindak”. Tentu saja, kita bertindak dalam batas-batas pengertian yang dipahami saat itu. 

Sejalan dengan tindakan tersebut, kita bisa belajar dan merenung-ulangkan semua proses dan pertimbangan, supaya ada perbaikan dalam tindakan selanjutnya. Jadi proses “memahami sesuatu” itu berjalan seiring dengan proses “bertindak”. Tetapi “mulai bertindak” adalah langkah awal untuk sebuah perubahan dan kemajuan hidup kita. Berani?

Kepahitan itu telah pergi

Sabtu siang, 3 Maret 2007

Ketika aku sedang bergairah dengan internet boot camp ku, tiba-tiba telepon genggam yang aku taruh di saku celana bergetar. “Wah, ada pesan masuk!”, batinku. Karena pikiran dan konsentrasi sedang tertuju kepada apa yang disampaikan oleh seorang pakar internet, maka pesan itu aku abaikan.

Dalam jeda acara, aku membaca pesan masuk, yang ternyata “Pak S telah meninggal dunia tadi siang. Ibu S histeris….”. Tertegun aku membaca pesan singkat itu, setengah tidak percaya. “Oh my God…”. Hanya itu komentarku. Aku teringat 2 hari lalu anak saya, tata, masih di sapa dengan ramah oleh pak S itu. Dia adalah satu-satunya tetanggaku yang dekat dengan anakku .

Aku juga kembali teringat akan percakapanku dengan pak S di pagi hari, beberapa bulan yang lalu. Ketika dengan wajah sedih pak S bercerita tentang persoalan hidupnya, persoalan keluarganya. Sesudah percakapan terakhir itu, aku jarang bertemu. Sesekali berpapasan, tanpa sempat untuk berbicang-bincang labih lanjut.

Dan, pak S itu telah pergi. Membawa kepahitan hidup yang selama ini menggelayutinya. Juga menggelayuti keluarganya. Aku tidak tahu apakah kepahitan telah berkurang di hari terakhirnya itu. Jika belum, mungkinkah kematian adalah jalan terbaik untuk memutuskan kepahitan itu? Ah, tentunya tidak. Tuhan masih sanggup mengubah hati manusia, betapapun kerasnya hati manusia. Tuhan bisa menyembuhkan luka hati yang paling parah sekalipun. Jadi selama manusia masih hidup, ia punya kesempatan untuk untuk memulihkan hubungan dengan orang lain yg telah hancur. Hanya jika Tuhan menyentuh hati dan nurani manusia.

Tercenung aku untuk sesaat di tengah gegap gempita sorak sorai peserta boot camp yang sedang dimotivasi oleh pembicara yg karismatis itu. Tercenung, oleh kesadaran bahwa aku memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang di dekatku. Ah, ternyata peristiwa ini memberikan pelajaran yang berharga untukku. Tuhan memberikan juga kesadaran ke hati dan pikiranku.

Aku tidak tahu, apakah pak S pergi dengan kepahitan yang sudah berkurang. Semoga jeritan histeris istri dan anaknya, memberikan tanda bahwa mereka sudah berdamai dengan kepahitan itu.

Sabtu malam, 3 Maret 2007

Bergegas aku ke rumah ibu S, sepulang dari boot camp yang berakhir sampai larut malam itu. Aku hanya bisa mengucapkan kesedihan atas kepergian pak S dan minta maaf tidak bisa membantu kerepotan pada saaat pemakaman sore hari itu.

Wajah ibu S yang memerah dan mata membengkak sudah cukup menyatakan kesedihannya yang mendalam. Anak lelakinya memeluk aku dan meminta aku memaafkan semua kejadian dalam keluarganya yang sudah mengganggu para tetangganya – Jujur aku memang pernah terganggu kalau pak dan Ibu S itu bertengkar. Suara pertengkaran itu bisa menembus dinding rumahku dan menimbulkan kerisauan yang amat dalam. Sempat terpikir olehku untuk pindah rumah, karena risau akan dampak pertengkaran mereka ke anak-anakku.

“Sudahlah…”. Hanya itu yang aku bisa katakan.

Aku memang tidak tahu apakah kepahitan itu telah pergi karena kematian itu. Ataukah kepahitan itu pergi, sesaat sebelum kematian itu. Hanya keluarga itu yang tahu. Aku hanya bisa berharap. Semoga terjadi yang kedua.

KEPAHITAN

Oleh: Sigit. B. Darmawan 

Rabu, 10 Januari 2007

Mendadak pagi ini aku teringat tetanggaku. Seorang bapak, yang berusia kurang lebih 50 tahun. Dia sudah beristri dan beranak dua. Aku tahu ada masalah keluarga yang sangat berat, yang dihadapinya. Sudah satu bulan ini aku tidak bertemu dengannya. Ah, apa khabarnya sekarang!

Aku teringat pertemuan dengannya saat bulan puasa tahun lalu. Di pagi hari saat aku bersiap untuk ke kantor, dia berjalan gontai kearahku. Wajahnya kelihatan murung. Tapi masih dia paksakan untuk tersenyum kepadaku. Aku menyapanya sejenak. Saat aku mulai akan masuk ke mobilku, tanpa terduga dia berbalik. Dengan wajah sedih, dia berkeluh kesah tentang dirinya, dan keluarganya. Betapa terlantarnya dia saat ini di tengah keluarganya sendiri. Istri dan anaknya sudah “mengusir” nya untuk tinggal di dalam rumah, sehingga dengan terpaksa dia harus tidur di depan rumahnya atau emperan rumah tetangga yang kosong.

Aku sudah menduga-duga sebelumnya. Karena dia sering bertengkar dengan istrinya, dengan suara yang sangat keras. Istrinyapun, dengan dibantu anaknya laki-laki, berteriak tidak kalah kerasnya. Tidak siang, tidak malam. Sebenarnya aku dan keluargaku sudah sangat terganggu dengan hal pertengkaran mereka. Demikian juga anak-anakku. Tapi apa mau dikata, suami istri itu kelihatannya sulit berdamai.

Pagi itu lelaki itu bercerita tentang tersingkirnya dia dari keluarganya, sejak dia terkena stroke sampai dia harus keluar dari pekerjaannya. Air matanya mulai berkaca-kaca. Dengan gemetar, dia membuka dompetnya. Dompet yang sudah sangat lusuh. Tidak banyak isinya. Tapi ada gambar lelaki muda yang sangat gagah dan tampan. “Ini adalah photo saya 5 tahun lalu”, katanya dengan menyisakan sedikit kebanggaan. Aku melihat sejenak foto itu, dan mencoba membandingkannya dengan yang sekarang. Betapa berbedanya! Raut wajah yang kelihatan tua, dengan kulit yang kecoklatan dan berkeriput. Betapa waktu 5 tahun sudah mengubah penampilannya secara drastis.

Lelaki itu bercerita betapa hidupnya sudah penuh dengan kepahitan terhadap istrinya. Konflik dalam keluarga yang sudah sedemikian parah telah menggerogoti tubuhnya, merusak penampilannya, dan akhirnya menjadi lelaki yang tanpa daya. Dicaci maki oleh istrinya, bahkan oleh anaknya sendiri. Mungkin saja lelaki itu juga sudah membuat kesalahan kepada keluarganya. Dan tidak segera memperbaikinya. Benih kepahitanpun tertanam.

Kepahitan itu sungguh merusak. Sumbernya bisa bermacam-macam. Bisa karena dikecewakan, disakiti, dihina, tidak dihargai. Dan ini bisa sengaja atau tidak disengaja. Sadar atau tidak sadar. Yang perlu kita lakukan adalah introspeksi, peka dengan reaksi orang, hati-hati dalam berkata dan bertindak, pupuk rasa menghargai, rendah hati untuk meminta maaf dan memaafkan.

Maaf. Itulah kunci untuk memulihkan kepahitan. Bersedia untuk memaafkan orang yang sudah menanam kepahitan dalam hidup kita. Dan bersedia untuk meminta maaf kepada orang lain, supaya tidak tumbuh kepahitan dalam diri orang lain karena tindakan kita.
Namun “empat huruf” itu ternyata tidak mudah dilakukan. Perlu kebesaran jiwa, kedalaman berpikir dan kerelaan hati untuk mengucapkan kata “maaf”. Berdamai dengan diri sendiri akan menjadi langkah awal untuk pengampunan kepada orang lain.

Ah! Lelaki itu sudah mengajarkan sesuatu kepadaku. Walaupun aku tidak mampu membantu persoalannya, tetapi setidak-tidaknya pemberian satu kaleng biskuit untuk berbuka puasanya mudah-mudahan meringankan kepahitan hidupnya. Dan tentu saja aku berdoa untuknya dan keluarganya. Tuhan bisa dan sanggup untuk mengubah hati manusia. 

Tsunami, Air Mata, dan Ketegaran (Sebuah Refleksi Akhir Tahun)

“Kalau ibu mengeluarkan air mata, karena itulah salah satu kekuatan yang bisa membuat ibu menjadi tegar dan kuat menghadapi berbagai pergumulan hidup”, kata ibu saya beberapa hari yang lalu ketika saya berbincang-bincang santai dengan ibu saya. Kesempatan Natal tahun ini memang saya pergunakan untuk mengantar ibu saya kembali kerumah, setelah sekian lama menemani adik saya yang sedang dalam perawatan karena sakit di Jakarta.
“Itulah cara ibu mengatasi berbagai himpitan dan pergumulan hidup yang tidak habis-habisnya”, lanjut ibu saya sambil tersenyum. Saya terharu untuk beberapa saat mendengar penjelasan ibu saya. Selama ini saya sering melihat ibu menangis, apalagi kalau berbincang-bincang dengan saya. Tetapi baru kali ini saya mendapatkan penjelasan tentang arti tangisannya selama ini.

“Indonesia Menangis” itulah headline berita di sebuah stasiun Televisi swasta Indonesia ketika dalam “Breaking News”nya melaporkan bencana maha dashyat gempa bumi dan gelombang pasang (Tsunami) tanggal 26 Desember 2004 yang berpusat di Aceh, dan melanda 11 negara di kawasan Asia Selatan. Gempa dengan kekuatan 9.0 skala Richter dan gelombang pasang setinggi 5 m, diperkirakan menewaskan lebih dari 80.000 orang (BBC News 30 Desember 2004), dengan 45.000 korban berada di negara Indonesia. Tangisan merebak di penghujung akhir tahun ini akibat bencana yang tidak terduga, dan yang memang tidak mampu diduga oleh manusia tersebut. Dalam sekejab bencana itu
telah mengakibatkan kerugian yang luar biasa, penderitaan dan trauma bagi masyarakat yang menjadi korban, melumpuhkan aktivitas masyarakat dan pemerintahan, serta menimbulkan potensi penderitaan lainnya pasca gempa.
Jeritan masyarakat korban bencana tersebut terekam dalam berbagai media nasional dan internasional, mengugah perasaan hati dan rasa kemanusiaan kita yang paling dalam, membangkitkan rasa solidaritas dan kebersamaan antar sesama anak bangsa. Jeritan penuh kepiluan dan kegusaran “Kenapa ini mesti terjadi?”.

Tangisan bangsa ini sesungguhnya belumlah kering. Masyarakat belum pulih dari trauma gempa sebelumnya di Alor, NTT dan Nabire yang juga telah memporakporandakan kehidupan di daerah gempa. Bangsa ini tidak pernah berhenti didera berbagai penderitaan dan bencana. Tercatat sejak tahun 1998 telah terjadi 593 bencana alam dan banjir, yang mengakibatkan kerugian hampir 500 milyar dan korban jiwa hampir 2000 orang (Bali Post, 10 Ferbruari 2004). Dilihat dari jumlah korban dan kerugian, maka bencana Tsunami (Tsunami Disaster) tanggal 26 Desember 2004 kemarin merupakan bencana alam terbesar yang pernah dihadapi bangsa dengan tingkat kerugian, kerusakan, dan korban yang sedemikian besar.

Belum lagi bencana dan penderitaan lainnya yang diakibatkan oleh kesombongan dan keserakahan manusia akan kekuasaan, kedudukan, kehormatan dan ekonomi. Peristiwa Kudatuli 1997, kerusuhan mei 1998, konflik Poso 1998, Ambon berdarah 1999, konflik Sambas 1999, kerusuhan NTT 2000, adalah bencana dengan aktor manusia sebagai pengendalinya. Bencana jenis ini jauh lebih mengerikan karena mengakibatkan terkoyak-koyaknya hubungan antar masyarakat, karena dipenuhi perasaan saling curiga, dendam, dan keinginan untuk menghancurkan orang lain.

Kita memang perlu menangis, dan harus menangis. Supaya bangsa ini mendapatkan kekuatan dari tangisannya, supaya bangsa ini belajar dari tangisannya. Dengan menangis, pikiran dan hati kita diasah kembali untuk menyadari berbagai kesalahan dan ketidakmampuan kita dalam merespon tanda-tanda jaman. Melalui tangisan, bangsa ini bisa disadarkan dari keterpurukan dan kehinaannya sebagai bangsa, yang senantiasa mengabaikan keadilan dan hak-hak manusia. Hanya dengan tangisanlah, kita baru menyadari bahwa kita tidak memiliki kekuatan apapun, apabila diperhadapkan
dengan kekuatan dari Tuhan.

“Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari…(Nehemia 1:1)” merefleksikan situasi yang sama ketika Nehemia menyadari bencana yang sedang dihadapi bangsanya. Bencana yang sungguh dahsyat dihadapi oleh bangsa Israel yang berada dalam pembuangan tentang kondisi negeri Yerusalem. Kerusakan total di negeri Yerusalem akibat bencana peperangan oleh kerajaan Babelonia tahun 586 S.M. Negeri Yerusalem tinggal puing-puing reruntuhan. Dibutuhkan dana dan usaha yang sangat besar untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Nehemiapun menangis. Untuk sesaat Nehemia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, kecuali menangis dan bekabung. Terlalu berat beban dan penderitaan bangsanya, sehingga perlu kekuatan dan ketetapan hati untuk menghadapi situasi tersebut. Tangisan Nehemia memberikan pembaharuan, kesadaran, dan ketegaran bagi Nehemia dalam situasi tersebut. Tangisan Nehemia juga memberikan tempat kepada Tuhan untuk menyatakan otoritas dan kehendakNya. Setelah masa berkabung lewat, dengan penuh keteguhan dan ketegaran Nehemia mulai bekerja membangun puing-puing reruntuhan tembok Yerusalem.

Menangislah bangsaku. Tangisilah reruntuhan bangunan, dan bergelimpangannya mayat-mayat di berbagai tempat. Tangisilah orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya, yang tersapu gelombang maha dasyat itu. Koyakanlah baju kesombongan, kebanggaan, dan kekerdilan kita. Menangislah kepada DIA, Sang Pemilik Otoritas Kehidupan, agar kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak memiliki kuasa apapun. Biarlah tumbuh kesadaran akan berbagai kesalahan bangsa ini yang tidak menghargai berbagai kemajemukan masyarakat dan tidak memperhatikan keadilan diantara sesama anak bangsa.

Kedepan bangsa ini akan menghadapi masa-masa yang berat. Bukan saja karena 12 Trilliun biaya rehabilitasi infrastruktur pasca bencana Tsunami (Kompas 30 Desember 2004), tetapi juga bagaimana bangsa ini menata kembali puing-puing bencana yang mengakibatkan penderitaan rakyat di segala aspek kehidupan. Membangun kembali harmonisasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yang mulai menemukan “rasa solidaritas” nya dimasa bencana ini.
Membangun rasa saling menghargai dalam pluralitas sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Dengan tetap mengedepankan rasa kebersamaan, persatuan, dan kesatuan bangsa. Memang tidaklah mudah menatanya. Tetapi tangisan bencana Tsunami ini semoga mengajarkan kepada bangsa kita bagaimana menjalaninya.

Selamat datang tahun 2005

Kecian Deh Yu dan Empati Sosial (Sebuah Refleksi menjelang Natal)

“Kecian deh yu”, teriak anak saya yang baru berumur dua tahun lima bulan dalam suatu kesempatan. Untuk sesaat saya dibuat kaget dan terbengong dengan teriakan anak saya itu. Setiap minggu saya pasti dibuat terbengong dengan penguasaan kosa kata baru anak saya itu. Karena penasaran ingin tahu darimana anak saya mendapatkan kosa kata itu, saya menanyakan ke perawat anak saya. “Oh, itu dari anak-anak tetangga. Kemarin mereka saling mengolok-olok”, ujar perawat anak saya. Anak saya masih kesulitan untuk mengucapkan huruf “L”, sehingga berbunyi “Y”. Maka dalam suatu kesempatan ketika anak saya bilang ingin makan pecel “yeye”, tentu saja maksudnya pecel lele.

Continue reading →