I. China dikenal sebagai pusat manufaktur global (factory of the world), tempat jutaan pekerja memenuhi pabrik-pabrik raksasa, merakit produk dengan kecepatan luar biasa. Tapi itu sekarang berubah. Upah naik, tenaga kerja menyusut, persaingan semakin ketat. China memilih jalan paling radikal: menghilangkan manusia dari pabrik.
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) meluncurkan Coretax sebagai sistem inti administrasi perpajakan. Sistim ini untuk menyederhanakan proses, mempercepat layanan, dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Ini langkah penting menuju digitalisasi perpajakan.
Nilainya Rp1,7 triliun. Mulai dikerjakan sejak 2018, proyek ini melibatkan konsultan ternama, dari pengadaan, penyediaan teknologi, sampai konsultansi manajemen proyek. Sistem ini dirancang untuk integrasi total, dari pendaftaran hingga pelaporan pajak. Namun, saat peluncurannya di 2024, ada masalah besar.
Fitur penting seperti e-Faktur dan sertifikat digital belum berfungsi optimal. Server sering overload. Proses yang dijanjikan lebih cepat justru melambat. Pelaku usaha mengeluh, aktivitas bisnis terganggu, dan DJP berada di bawah sorotan tajam.
Kita (mungkin) sudah mendengar tentang Web 3.0, Generasi ketiga Internet. Sering disebut sebagai masa depan internet, bahkan masa depan bisnis. Apakah ini hanya sekadar kehebohan (hype), atau memang ada potensi nyata di sana?
Kita perlu melihat perjalanan internet. Web 1.0 adalah era sederhana. Pengguna hanya bisa membaca informasi—tak ada yang bisa dilakukan selain mengonsumsi. Internet menjadi ensiklopedia digital.
Era Web 2.0, membawa perubahan besar. Pengguna mulai bisa membuat konten, berinteraksi, dan berbagi. Facebook, Youtube, Instagram, e-commerce, blog tumbuh dan berkembang.
Kita sering berpikir teknologi itu harus terlihat, harus terasa canggih di depan mata. Layar besar atau suara yang serba otomatis. Tapi ada teknologi yang tak kasat mata. Teknologi kecerdasan yang bekerja diam-diam namun terasa dampaknya – Ambient Invisible Intelligence.
Mungkin teknologi yang kita kenal mungkin masih bersifat “menunggu perintah.” Kalau ingin menyalakan lampu, maka memencet saklar. Kalau mau mengubah, maka putar pengaturannya. Tapi kita berada di era kecerdasan baru yang beroperasi dalam senyap. Tak perlu disuruh, tak perlu diatur setiap saat. Teknologi ini tahu apa yang kita butuhkan, bahkan sebelum kita sadari.
Selama pandemi COVID-19, banyak mata tertuju ke Pfizer. Bukan hanya karena mereka berhasil memproduksi vaksin dalam waktu singkat, tetapi juga karena mereka mampu menggerakkan perusahaannya dengan cepat di tengah kebutuhan dunia yang mendesak. Tapi apa rahasianya? Salah satu jawabannya ada di teknologi “Digital Twin”.
Pfizer tidak hanya menjadi sorotan karena inovasi medisnya, tetapi juga karena kemampuannya memanfaatkan teknologi untuk mempercepat proses produksi dan menjaga kualitas yang sempurna. Dan itulah yang menarik.
Pfizer telah lama menggunakan teknologi Digital Twin untuk memastikan setiap proses berjalan efisien dan konsisten. Tapi, apa tantangan yang mereka hadapi? Bagaimana mereka mengatasinya? Dan apa dampaknya bagi kinerja mereka? Industri farmasi adalah salah satu yang paling kompleks dan teregulasi di dunia. Proses produksinya membutuhkan ketelitian. Jika salah satu proses saja salah langkah, bisa kacau semuanya.
Kreativitas adalah jiwa dari inovasi. Tanpa kreativitas, dunia akan terjebak dalam stagnasi. Namun, apa jadinya jika kreativitas tidak lagi hanya menjadi milik manusia? Apa jadinya jika mesin pun mampu menciptakan, berimajinasi, bahkan memperbarui dirinya sendiri? Inilah pertanyaan yang membawa kita ke tengah revolusi teknologi baru: regenerative AI.
Regenerative AI, atau kecerdasan buatan regeneratif, bukan sekadar lanjutan dari AI yang kita kenal. Ini adalah langkah besar dalam evolusi teknologi. AI tradisional dirancang untuk melakukan tugas-tugas spesifik berdasarkan data dan algoritma yang telah ditentukan.
Regenerative Artificial Intelligence adalah salah satu terobosan terbesar saat ini. Kecerdasan buatan yang mampu belajar, beradaptasi, dan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Tapi, di balik potensi luar biasa ini, ada konflik etis yang muncul dari teknologi ini.
Pertama, masalah hak cipta. Ketika AI menciptakan karya seni atau musik, siapa yang memiliki hak atas karya tersebut? Apakah pemrogram yang merancang AI, perusahaan yang memilikinya, atau AI itu sendiri? Ini adalah wilayah abu-abu yang memerlukan regulasi yang jelas dan adil.
Di Juni 2024, BBC melaporkan bahwa perusahaan rekaman terbesar di dunia, Sony Music dan Universal Music Group, menuntut dua perusahaan start-up AI, Suno dan Udio, atas dugaan pelanggaran hak cipta.
Saya selalu kagum dengan para inovator yang mampu menginspirasi perubahan. Salah satunya adalah Prof. Edia Rahayuningsih dari Universitas Gadjah Mada. Dalam perjalanan saya ke Yogyakarta Jumat 28 Juni 2024 lalu, saya sempat bertemu beliau di kantornya: Gamaindigo. Dalam pertemuan singkat selama 1.5 jam itu, saya mendapatkan penjelasan tentang pewarna alami (natural dyes) yang bisa menjadi jawaban atas tantangan industri tekstil saat ini.
Gamaindigo adalah hasil penelitian panjang Prof. Edia dan timnya di UGM. Pewarna ini berasal dari limbah kayu merbau yang melimpah ruah dan belum termanfaatkan di Indonesia. Dengan metode ekstraksi yang ramah lingkungan, pewarna alami Gamaindigo menawarkan warna yang menawan dan tahan lama.