Ketika Tumbler Jadi Cermin Bangsa: Mengapa Hal Sepele Bisa Menjadi Huru-hara?

Oleh: Sigit B. Darmawan

Ada kalanya sebuah bangsa bercermin bukan melalui peristiwa besar, melainkan lewat hal-hal kecil yang tidak kita sangka. Beberapa hari ini kita disuguhi kisah sebuah tumbler Tuku yang tertinggal di kereta dan tiba-tiba menjelma menjadi drama nasional. Linimasa penuh sesak, komentar tak henti bermunculan, media ikut mengulas, seolah negeri sedang diguncang isu strategis—padahal yang menjadi pusat perhatian hanyalah botol minum.

Sebuah tumbler, dengan harga yang bahkan tidak setara upah harian sebagian pekerja, berubah menjadi panggung tempat emosi publik, cara berpikir, dan watak digital kita tampil tanpa tapisan. Di situlah letak menariknya: bukan peristiwanya yang penting, tetapi reaksi kita.

Continue reading

Trade War 2.0 dan Industri Otomotif: Dekade Paling Menentukan dalam 50 Tahun Terakhir

Oleh Sigit Darmawan

Perang dagang generasi baru—yang belakangan dikenal sebagai Trade War 2.0—tidak lagi berdiri semata sebagai sengketa tarif antara dua kekuatan ekonomi. Bentuknya telah meluas menjadi pertarungan geopolitik, persaingan teknologi, hingga perebutan pusat produksi global yang memengaruhi hampir seluruh sektor industri. Dampaknya nyata, bergerak cepat, dan terasa hingga ke jantung rantai pasok dunia.

Di antara banyak industri yang terdampak, sektor otomotif menjadi salah satu yang paling merasakan guncangannya. Alasannya sederhana: industri otomotif masa kini bukan hanya merakit mobil. Ia merangkai ribuan komponen elektronik, sistem perangkat lunak, ekosistem energi baru, hingga jaringan logistik lintas benua yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan global. Sekali ada simpul yang terputus, seluruh mesin produksi dapat berhenti.

Continue reading

Kita Tidak Kekurangan Teknologi, Kita Kekurangan Kolaborasi

(Pelajaran dari Transisi Energi untuk Dunia Korporasi: Inovasi gagal bukan karena alat, tetapi karena ekosistem.)

Oleh: Sigit B. Darmawan

Bulan September & Oktober 2025 ini saya berkesempatan menjadi pengampu beragam kelas pelatihan tentang Transisi Energi di PLN Group yang difasilitasi LAPI SBM ITB. Saya menemukan banyak hal menarik yang muncul di ruang diskusi. Para peserta — para pemimpin menengah dari berbagai unit bisnis PLN— berbagi pengalaman tentang tantangan menerapkan teknologi baru, mengubah pola kerja, serta menggerakkan kolaborasi lintas fungsi yang kadangkala terhambat oleh ego sektoral. Dari berbagai percakapan itu saya menyimpulkan satu hal: “Transformasi bukan sekadar isu teknologi, melainkan isu kepemimpinan dan kolaborasi.”

Continue reading

Malaikat di Atas Jembatan

Oleh: Sigit Darmawan

“Barang siapa menyelamatkan satu nyawa, sama artinya ia menyelamatkan seluruh dunia.” — Talmud

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah dokumenter yang menggetarkan hati. Sebuah film sederhana yang berkisah tentang kepahlawanan dalam keseharian di kota Nanjing, China.

Kisah di film itu menyorot apa yang telah terjadi di Jembatan Nanjing yang membelah Sungai Yangtze. Kisah tentang ratusan orang yang datang ke jembatan ini setiap tahun bukan untuk menikmati pemandangan, melainkan untuk mengakhiri hidup mereka.

Continue reading

Dari Global Value Chain ke Sovereign Supply Chain

Oleh: Sigit Darmawan

Pernahkah Anda mendengar kisah satu kapal yang “tersedak” di Terusan Suez lalu membuat dunia ikut batuk-batuk? Tahun 2021, kapal Ever Given macet selama hampir sepekan. Akibatnya, lebih dari 12 persen perdagangan dunia tertahan. Dari mainan anak-anak sampai suku cadang pesawat, semua ikut tersendat (BBC, 2021).

Atau, pernahkah Anda membayangkan sebuah pabrik di Tiongkok yang berhenti beroperasi, lalu harga ponsel, laptop, hingga obat-obatan di berbagai negara ikut naik. Itu bukan cerita fiksi. Tahun 2022, penutupan pabrik Foxconn di Zhengzhou membuat pasokan iPhone global terganggu (Reuters, 2022). Dua peristiwa ini menjadi pengingat keras: rantai pasok global kita efisien, tapi juga rapuh.

Continue reading

The New Lean: Rantai Pasok yang Rampak, Lincah, dan Berdaulat

Oleh: Sigit Darmawan

Selama puluhan tahun, perusahaan memuja satu mantra: lean. Kata itu identik dengan merampingkan proses, memangkas pemborosan, dan mengefisiensikan biaya. Di ruang rapat, lean supply chain menjadi jargon sakti. Prinsipnya tampak sederhana: semakin ramping rantai pasok, semakin kompetitif perusahaan.

Namun alam permainan berubah. Krisis chip, pandemi, perang Rusia–Ukraina, serta ketegangan antara Amerika dan Tiongkok memperlihatkan satu hal jelas — ramping saja tidak memadai. Rantai pasok yang terlalu kurus justru mudah rapuh. Maka muncul gagasan baru: The New Lean — rantai pasok yang tidak hanya kurus, melainkan juga rampak, lincah, dan berdaulat.

Continue reading

Predictive Government: Era Baru Mengelola Krisis

Oleh: Sigit Darmawan

“Masyarakat tidak langsung marah. Mereka memberi tanda. Hanya saja, sering kali tak terbaca.” Bagaimana membaca sinyal krisis di era digital? Di zaman digital, kemarahan publik tidak lagi meledak tiba-tiba. Ia muncul perlahan dari balik layar—lewat unggahan video, meme satir, hingga komentar yang menyebar dalam hitungan menit. Semuanya isyarat bahwa ada yang tidak beres. Namun, banyak pemangku kuasa masih terpaku pada pola lama: menunggu laporan resmi, bertumpu pada jalur birokrasi, dan baru bergerak setelah konflik meledak.

Contohnya nyata. Dalam lima hari demonstrasi bulan Agustus 2025 yang lalu, gelombang protes meluas di sejumlah kota di Indonesia. Isunya telah ramai dibahas tiga minggu sebelumnya di media sosial. Tagar penolakan muncul saban hari, video kritik dibagikan ribuan kali, dan keresahan publik begitu gamblang di ruang digital.

Continue reading

Api dari Nepal: Avishkar Raut dan Kebangkitan Generasi Z



Oleh: Sigit Darmawan

“Suara anak muda bisa menjadi bara kecil yang menyalakan api perubahan besar.”

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan; ia menemukan buktinya di Nepal, Maret 2025. Seorang pelajar SMA bernama Avishkar Raut berdiri di mimbar sekolahnya, menyampaikan pidato yang awalnya sederhana. Namun, rangkaian ucapannya yang menyala-nyala berubah menjadi suluh nasionalisme baru.

Video pidato itu meluas, memicu gelombang demonstrasi generasi muda, hingga akhirnya berperan dalam jatuhnya Perdana Menteri Nepal.

Continue reading