Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 2 — Ketika Satu Orang Sakit, Seluruh Keluarga Ikut Berubah)

Oleh: Sigit Darmawan

Kesehatan mental tidak pernah hanya menjadi urusan satu orang.

Ketika ada satu anggota keluarga yang bergumul dengan kesehatan mental, yang ikut berubah bukan hanya orang tersebut. Suasana rumah berubah. Cara bicara berubah. Pola komunikasi berubah. Bahkan cara kita berdoa, berharap, dan memandang masa depan pun ikut berubah.

Dalam pengalaman saya memfasilitasi family connecting support group, saya belajar bahwa mendukung keluarga yang terdampak bukan hanya soal memahami diagnosis atau mencari pengobatan yang tepat. Ada bagian lain yang tidak kalah penting: bagaimana keluarga tidak berjalan sendirian.

Di titik inilah support group menjadi penting. Ia dapat menjadi ruang aman untuk saling mendengar, saling belajar, dan saling menguatkan.

Continue reading →

Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 1 — Diagnosis Bukan Identitas)

(Seri 1 — Diagnosis Bukan Identitas)

Oleh: Sigit Darmawan

Salah satu pesan paling penting yang saya tangkap dari Seminar “Family Dynamics & Mental Health”, 12 Juli 2026 lalu, adalah ini: pisahkan pribadi dari penyakitnya.

Seminar ini dikelola oleh Sahabat Bagi Jiwa (SBJ), salah satu komunitas Family Supporting Group bagi para caregiver, bersama Seeing with New Eyes (SWNE), komunitas yang peduli pada kesehatan mental keluarga.

Tema besarnya sangat relevan dengan banyak keluarga hari ini: bagaimana keluarga dapat lebih memahami, mendampingi, dan menguatkan anggota keluarga yang sedang bergumul dengan kesehatan mental.

Dan saya ingin berbagi beberapa catatan penting yang mungkin berguna bagi keluarga-keluarha Kristen dalam serial tulisan.

Continue reading →

Empat Besar Sudah Terbaca, Tetapi Siapa Juaranya?

(Apa yang Diajarkan Semifinal Piala Dunia 2026 tentang Data, Predictive Analytics, Kepemimpinan, dan Ketidakpastian)

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika saya menulis artikel Ketika Algoritma Memilih Juara pada awal dimulainya Piala Dunia 2026, saya mengajukan satu pertanyaan sederhana: sejauh mana data mampu membaca masa depan?

Menjelang semifinal, jawabannya mulai terlihat.

Empat tim yang tersisa adalah Spanyol, Prancis, Inggris, dan Argentina. Menariknya, keempat negara tersebut memang merupakan empat unggulan utama dalam simulasi Opta Analyst Supercomputer. Berdasarkan 25.000 simulasi, Opta menempatkan Spanyol sebagai favorit dengan peluang juara 16,1%, disusul Prancis (13%), Inggris (11,2%), dan Argentina (10,4%) (Opta Analyst, 2026).

Continue reading →

Pelajaran Cape Verde: Mengapa Organisasi Kecil Kini Semakin Sulit Dikalahkan

Oleh: Sigit B. Darmawan

Cape Verde kalah. Tetapi tidak tunduk.

Saya selalu tertarik pada cerita seperti ini. Bukan semata karena sepak bolanya, tetapi karena ada pelajaran di dalamnya. Dalam pengalaman mendampingi tim kecil yang ingin berkembang, saya sering melihat pola yang sama: yang kecil kerap lebih lapar, lebih dekat dengan masalah, dan lebih cepat bergerak. Mereka mungkin tidak selalu menang. Tetapi mereka sering membuat yang besar kehilangan kenyamanan.

Argentina menang 3-2 lewat perpanjangan waktu. Tetapi pertandingan itu meninggalkan catatan yang lebih panjang daripada sekadar skor. Cape Verde, negara kecil dan debutan Piala Dunia, membuat Argentina bekerja sampai batas saraf terakhirnya. Mereka dua kali bangkit setelah tertinggal dan baru menyerah setelah gol bunuh diri pada menit ke-111.

Continue reading →

Koperasi Desa Merah Putih dan Ritel Modern: Bertarung atau Berkolaborasi?

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mulai dibicarakan bersamaan dengan nama besar Indomaret dan Alfamart, kegelisahan masyarakat bisnis segera muncul.

Apakah koperasi desa akan berhadapan dengan ritel modern?
Apakah Indomaret dan Alfamart harus dibatasi agar koperasi desa tumbuh?
Ataukah justru keduanya dapat bekerja sama untuk memperkuat ekonomi desa?

Pertanyaan ini bukan hanya sekadar teknis. Soal izin toko, zonasi usaha, distribusi barang, dan persaingan harga. Tetapi di baliknya ada pertanyaan yang jauh lebih penting: ekonomi desa hendak dibangun dengan cara apa?
Apakah desa akan terus menjadi pasar bagi kekuatan ekonomi dari luar? Ataukah desa mulai menjadi pelaku yang memiliki daya tawar dalam rantai nilai nasional?

Di sinilah KDMP perlu sekali lagi disikapi dengan pikiran yang lebih jernih.

Continue reading →

Koperasi Desa Merah Putih: Gerakan Gotong Royong atau Proyek Komando?

Oleh: Sigit Darmawan

Saya pernah belajar koperasi bukan dari buku semata, melainkan dari pengalaman langsung menjadi pengurus sebuah koperasi serba usaha yang anggotanya lebih dari seribu orang beberapa tahun silam.

Pengalaman itu sederhana. Tidak besar dalam ukuran nasional. Tetapi cukup memberikan pembelajaran dalam cara saya memahami koperasi.

Dari luar, koperasi sering tampak mudah. Ada anggota. Ada iuran. Ada usaha. Ada pengurus. Ada rapat. Selesai.

Continue reading →

Siapa yang Menang dari Damai AS-Iran? Jawabannya: China

Oleh: Sigit Darmawan

Setiap perang selalu menyisakan pertanyaan klasik: siapa yang kalah, siapa yang menang?

Tetapi dalam perang modern, jawabannya jarang sederhana.

Kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang menembakkan rudal terakhir. Tidak selalu oleh siapa yang menandatangani kesepakatan damai. Tidak juga semata-mata oleh siapa yang paling keras berbicara tentang kedaulatan, keamanan, atau stabilitas kawasan.

Dalam konflik AS–Iran yang mengguncang Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026, kemenangan justru dibaca dari arah yang lebih tersembunyi: aliran kapal tanker, cadangan minyak, sistem pembayaran, dan kemampuan sebuah negara menjaga rantai pasok energinya saat dunia sedang panik.

Continue reading →

MBG dan Luka Kepercayaan Publik



Oleh: Sigit Darmawan

Saya ingin memulai tulisan ini dengan pengakuan yang sederhana.

Saya mendukung gagasan dasar Makan Bergizi Gratis.

Sulit bagi saya untuk menolak sebuah kebijakan yang ingin memastikan anak-anak Indonesia tidak belajar dalam keadaan lapar. Sulit bagi saya untuk tidak tersentuh oleh cita-cita bahwa ibu hamil, balita, dan anak sekolah dari keluarga rentan mendapat perhatian lebih serius dari negara.

Sebagai orang yang belakangan sering berdiri di ruang kelas, memfasilitasi berbagai pelatihan, dan melihat betapa besar pengaruh kesiapan fisik terhadap kesiapan berpikir, saya percaya satu hal: tidak ada pembelajaran yang kokoh di atas tubuh yang lapar.

Continue reading →