Piala Dunia 2026: Ketika Algoritma Sudah Memilih Juaranya

Two analysts discussing FIFA World Cup 2026 predictions using digital data and stadium model


(Piala Dunia 2026 dan Batas Kemampuan Data Analitik)

Oleh: Sigit Darmawan

Menjelang perhelatan Piala Dunia 2026 yang akan dimulai 12 Juni besok, muncul pertanyaan menarik: “Siapa yang dipilih algoritma untuk menjadi juara?”

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia bukan hanya panggung adu teknik, taktik, dan bakat individu. Ia juga menjadi arena pertarungan data, kecerdasan buatan, dan superkomputer.

Platform seperti Opta, StatsBomb, dan FBRef berlomba membaca peluang juara dunia masa depan. Ribuan pertandingan dianalisis. Jutaan data diproses. Puluhan ribu simulasi dijalankan.

Continue reading →

PMI, Rantai Pasok dan Pertaruhan Daya Saing

Container ships loaded with colorful cargo containers docked at an industrial shipping port at sunset
Container ships docked at a bustling port during a vibrant sunset

Oleh: Sigit Darmawan

Angka 50.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin tidak berarti apa-apa.

Namun bagi dunia manufaktur, angka 50 adalah garis batas yang menentukan apakah sebuah industri sedang bertumbuh atau mulai kehilangan tenaga. Di atas 50 berarti ekspansi. Di bawah 50 berarti kontraksi.

Karena itu ketika PMI (Purchasing Managers Index) manufaktur Indonesia berada tepat di angka 50,0 pada Mei 2026 setelah sempat jatuh ke 49,1 pada April 2026, perhatian kita seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah industri sedang tumbuh atau menyusut.

Continue reading →

Ketika Robot Mulai Menari di Panggung Manusia

Flying Bug Unitree Robotics


Oleh: Sigit Darmawan

Ada yang menarik dari panggung America’s Got Talent 2026. Bukan hanya penyanyi bersuara emas. Bukan hanya aksi akrobatik yang membuat penonton menahan napas.

Tetapi robot.

Sekelompok robot Unitree tampil bersama seorang performer bernama Flying Bug di panggung AGT Season 21. Simon Cowell menyebut penampilan tersebut sebagai sesuatu yang “insane” sekaligus “brilliant”. Empat juri memberikan empat “Yes” dan meloloskan mereka ke babak berikutnya.

Event AGT & BGT memang selalu menjadi favorit tontonan saya di beberapa tahun terakhir ini. Melihat keunikan dan keberagaman talenta dari berbagai negara dalam satu panggung.

Continue reading →

Ketika Algoritma Salah Membaca Juara

(Mengapa Data Gagal Menangkap Kebangkitan Arsenal?)

Oleh: Sigit Darmawan

Di awal Liga Primer 2025/2026, saya pernah menulis artikel berjudul “Data vs Intuisi: Pelajaran dari Premier League untuk Bisnis dan Organisasi“. Tulisan itu mencoba membaca persaingan liga melalui data analitik: xG (expected Goals), xGA (expected Goals Against), intensitas pressing, tingkat cedera, hingga efektivitas penyelesaian akhir. Rujukannya cukup kuat: FBRef, StatsBomb, Understat, dan Transfermarkt (2022–2025)—platforn data sepakbola digital analitik untuk statistik pemain dan klub.

Hasilnya terlihat meyakinkan.

Liverpool diproyeksikan tetap dominan. Manchester City dianggap pesaing utama. Arsenal dinilai kuat, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi kandidata juara. Chelsea masih dipandang sebagai proyek yang belum stabil.

Namun sepak bola selalu punya cara mempermalukan kesombongan manusia.

Continue reading →

Ketika Trump Terbang ke Beijing: Trade War Sudah Usai, Kini Mulai Supply Chain War

Oleh: Sigit Darmawan

Dulu, kunjungan Presiden sebuah negara ke negara lain selalu dibaca dengan kacamata diplomasi klasik: negosiasi dagang, isu keamanan, atau persaingan ideologi.

Hari ini, konteksnya sudah berubah drastis.

Ketika Donald Trump mendarat di Beijing pada 13–15 Mei 2026, dunia sebenarnya sedang menyaksikan format diplomasi yang berbeda. Menurut laporan resmi The White House serta liputan BBC News dan Reuters (2026), Trump tidak hanya datang membawa pejabat diplomatik atau negosiator perdagangan. Ia membawa delegasi elite teknologi Amerika.

Elon Musk hadir dengan misi yang sangat spesifik: mengamankan persetujuan regulator China agar sistem Full Self Driving milik Tesla dapat beroperasi lebih luas di pasar domestik China. Ini sangat penting karena Gigafactory Shanghai masih menjadi salah satu basis produksi global terbesar Tesla, sementara produsen kendaraan listrik lokal China bergerak sangat agresif.

Continue reading →

Dari AI ke ROI: Ketika Masa Depan Retail Indonesia Tidak Lagi Ditentukan oleh Toko, Tetapi oleh Algoritma

Oleh: Sigit Darmawan

Saya menghadiri sebuah forum eksekutif C-level yang menarik minggu lalu di Jakarta—diselenggarakan oleh RELEX Solutions, perusahaan Finland, di The Langham Jakarta. Event juga dihadiri oleh Dubes Findland untuk Indonesia.

Tema acaranya terdengar sangat “teknologis”: “From AI to ROI: Driving Profitability and Efficiency in Indonesian Retail.”

Namun justru ada satu slide sederhana yang paling menarik perhatian saya. Di layar tertulis: “What’s your biggest merchandising blind spot that keeps you up at night?”

Continue reading →

Ketika Plastik Menjadi Risiko Bisnis

(Mengapa lonjakan harga kemasan harus dibaca sebagai sinyal strategis, bukan sekadar gangguan biaya)

Oleh: Sigit Darmawan

Beberapa waktu lalu, di sela konsultansi merancang modul pelatihan supply chain untuk sebuah grup perusahaan FMCG, saya berbincang dengan seorang procurement manager. Topiknya sederhana: plastik.

Namun seperti banyak percakapan di dunia bisnis, yang tampak kecil sering kali menyimpan sinyal besar.

“Wah…Harga plastik sudah naik 2–3 kali lipat pak! Pasokan juga tidak pasti. Kuartal satu aman. Entah di kuartal dua ini. Kalau ini berlanjut terus, margin bisa tertekan 2–3 persen.”

Continue reading →

Leadership in Polycrisis Era: Memimpin di Dunia yang Tidak Lagi Tunggal

“Krisis hari ini tidak datang satu per satu. Ia datang bersamaan—dan saling memperkuat.”

Oleh: Sigit Darmawan

Dunia yang Tidak Lagi Sederhana

Dalam Trade War 2.0, saya menggambarkan bagaimana dunia tidak lagi bergerak dalam logika ekonomi semata. Perdagangan tidak lagi netral. Rantai pasok tidak lagi ditentukan oleh efisiensi, tetapi oleh kekuatan geopolitik, aliansi, dan kepentingan nasional.

Apa yang dahulu kita pahami sebagai globalisasi—arus barang yang bebas, biaya yang optimal, dan jaringan yang efisien—perlahan berubah menjadi sistem yang terfragmentasi. Negara memilih mitra. Perusahaan menata ulang rantai pasok. Risiko tidak lagi tersembunyi, tetapi menjadi bagian dari strategi.

Namun satu hal yang semakin jelas: Trade war bukan satu-satunya krisis.

Continue reading →