Selat Hormuz: Ketika Dunia Diguncang dari Sebuah Jalur Sempit

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, banyak orang melihatnya sebagai eskalasi konflik regional. Namun bagi saya, peristiwa itu lebih dari sekadar berita militer. Ia adalah alarm bagi sistem rantai pasok global.

Dalam Trade War 2.0: Navigasi Korporasi & Transformasi Rantai Pasok Global, saya menjelaskan bahwa masa depan rantai pasok tidak lagi ditentukan hanya oleh tarif dan kebijakan industri. Ia juga ditentukan oleh stabilitas jalur distribusi dan keamanan energi. Konflik di sekitar Selat Hormuz memperlihatkan tesis itu secara nyata.

Rudal mungkin ditembakkan jauh dari pusat bisnis dunia. Namun dampaknya bisa langsung terasa di laporan keuangan perusahaan global.

Continue reading

Menguji Narasi Trade War 2.0: Apa yang Terjadi Setelah Tarif Trump Dibatalkan?

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika saya membaca berita tentang Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan kebijakan tarif Donald Trump, saya tidak langsung bersorak. Saya justru bertanya: apakah ini benar-benar mengubah arah ekonomi global, atau sekadar koreksi hukum di tengah perubahan yang sudah telanjur berjalan?

Sebagian pelaku pasar melihatnya sebagai tanda meredanya perang dagang. Ada harapan globalisasi akan kembali seperti dua dekade lalu—lebih terbuka, lebih murah, lebih sederhana. Namun pengalaman saya berdiskusi dengan pelaku industri beberapa tahun terakhir membuat saya berhati-hati, bahkan skeptis.

Putusan itu penting. Ia menegaskan mekanisme pengawasan kekuasaan. Tetapi dari sudut pandang rantai pasok global, saya tidak melihatnya sebagai titik balik struktural. Dan di sinilah narasi Trade War 2.0 diuji.

Continue reading

Ketika Satire Menjadi Alarm Sosial: Catatan Pribadi Menonton Mens Rea

Oleh: Sigit Darmawan

Saya menonton Mens Rea bukan dengan niat mencari hiburan semata. Awalnya justru karena rasa ingin tahu. Mengapa begitu banyak orang ribut? Mengapa satu panggung komedi bisa memicu reaksi dan kontroversi yang sedemikian keras di beragam media sosial—dari tawa lepas sampai kemarahan terbuka?

Dalam beberapa bagian, saya tertawa. Refleks. Lalu, di beberapa bagian lain tanpa sadar, saya mulai diam. Tawa terasa tertahan. Bukan karena tidak lucu, tetapi karena terasa dekat. Terlalu dekat.

Continue reading

Menutup Tahun, Membaca Dunia: Dua Bulan Perjalanan Trade War 2.0

(Titik Senja Dieng. Selasa pagi. 30 Desember 2025.)

Dua bulan terakhir di penghujung 2025 terasa berbeda bagi saya. Beragam percakapan telah saya jalani. Sejak November hingga Desember, buku Trade War 2.0 tidak hanya berpindah dari satu tangan ke tangan lain, tetapi juga berpindah dari satu ruang pemikiran ke ruang pemikiran yang lain.

Saya berjumpa dengan pemimpin industri, pelaku bisnis, pengurus asosiasi, akademisi, birokrat, hingga para profesional dari beragam sektor—manufaktur, oil & gas, FMCG, otomotif, transportasi, asuransi, pembiayaan, ritel, layanan, pendidikan, energi, teknologi, organisasi nir laba, dan sebagainya. Dan sudah ratusan buku sampai di tangan mereka.

Continue reading

Bertahan Tanpa Kehilangan Jiwa: Kepemimpinan Misi di Tengah Disrupsi Organisasi Nir Laba

Gambar: builtincolorado.com

Oleh: Sigit Darmawan

Salemba. Senin siang. 22 Desember 2025

Dunia hari ini bergerak cepat. Terlalu cepat, bahkan. Disrupsi datang dari berbagai arah—ekonomi yang tidak stabil, teknologi yang berubah tanpa jeda, tekanan sosial yang kian kompleks, hingga geopolitik yang sulit diprediksi. Dalam situasi seperti ini, organisasi nir laba sering berada di posisi paling rapuh.

Mereka harus tetap relevan. Harus bertahan secara finansial. Harus adaptif. Namun pada saat yang sama, mereka tidak boleh kehilangan jati diri. Tidak boleh menjauh dari panggilan awal yang melahirkan organisasi itu sendiri.

Continue reading

Ketika Generasi Z Bergerak, Dunia Ikut Berubah

Gambar: dw.com

(Catatan dari Bulgaria dan suara anak muda lintas dunia)

Oleh: Sigit Darmawan

Dalam beberapa tahun terakhir, saya makin sering menemukan pola yang sama ketika membaca berita dunia. Negara berbeda. Budaya berbeda. Sejarah politik berbeda. Namun ada satu kesamaan yang terus berulang: ketika Generasi Z bergerak, peta kekuasaan ikut bergeser.

Perubahan itu tidak selalu datang dengan letupan besar. Tidak selalu dramatis. Tetapi dampaknya nyata.

Continue reading

Bukan Sekadar Akuisisi: Perebutan Mesin Cerita Warner Bros Discovery

Oleh: Sigit Darmawan

Kita sering mengira perang streaming itu soal hal sederhana. Soal harga langganan. Soal siapa punya serial paling banyak.

Padahal, drama perebutan Warner Bros Discovery (WBD) di akhir 2025 menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Yang sedang diperebutkan bukan cuma perusahaan. Bukan cuma katalog film. Yang diperebutkan adalah cerita—dan nilai yang dibawa cerita itu ke miliaran orang, termasuk ke ruang-ruang keluarga di Indonesia.

Saya tidak akan menjelaskan kompleksitas akuisi yang penuh intrik dan politis. Tetapi saya hanya ingin melihat perspektif lain tentang dampak dari proses akuisi yang sedang berlangsung saat ini.

Continue reading

Perjalanan yang Tidak Pernah Saya Rencanakan, tetapi Saya Syukuri

(Refleksi Penulisan Buku Trade War 2.0)

Ada satu kalimat yang sering terlintas ketika perjalanan ini dimulai: “Menulis bukan soal menemukan waktu, tetapi keberanian.” Keberanian untuk melihat dunia apa adanya, dan keberanian untuk menuturkannya dengan jujur.

Buku Trade War 2.0 lahir bukan dari meja kerja yang tenang, melainkan dari kegelisahan. Kegelisahan melihat bagaimana peta ekonomi dunia berubah begitu cepat. Satu kebijakan tarif di Washington dapat mengguncang lini produksi di Asia. Pergeseran geopolitik, perang chip, hingga fragmentasi rantai pasok global membuat banyak perusahaan berada dalam keadaan waspada.

Di berbagai forum dan ruang diskusi, saya mendengar pertanyaan serupa muncul berulang kali: “Apa arti perubahan ini bagi Indonesia?”

Continue reading