Bukan Sekadar Akuisisi: Perebutan Mesin Cerita Warner Bros Discovery

Oleh: Sigit Darmawan

Kita sering mengira perang streaming itu soal hal sederhana. Soal harga langganan. Soal siapa punya serial paling banyak.

Padahal, drama perebutan Warner Bros Discovery (WBD) di akhir 2025 menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Yang sedang diperebutkan bukan cuma perusahaan. Bukan cuma katalog film. Yang diperebutkan adalah cerita—dan nilai yang dibawa cerita itu ke miliaran orang, termasuk ke ruang-ruang keluarga di Indonesia.

Saya tidak akan menjelaskan kompleksitas akuisi yang penuh intrik dan politis. Tetapi saya hanya ingin melihat perspektif lain tentang dampak dari proses akuisi yang sedang berlangsung saat ini.

Continue reading →

Perjalanan yang Tidak Pernah Saya Rencanakan, tetapi Saya Syukuri

(Refleksi Penulisan Buku Trade War 2.0)

Ada satu kalimat yang sering terlintas ketika perjalanan ini dimulai: “Menulis bukan soal menemukan waktu, tetapi keberanian.” Keberanian untuk melihat dunia apa adanya, dan keberanian untuk menuturkannya dengan jujur.

Buku Trade War 2.0 lahir bukan dari meja kerja yang tenang, melainkan dari kegelisahan. Kegelisahan melihat bagaimana peta ekonomi dunia berubah begitu cepat. Satu kebijakan tarif di Washington dapat mengguncang lini produksi di Asia. Pergeseran geopolitik, perang chip, hingga fragmentasi rantai pasok global membuat banyak perusahaan berada dalam keadaan waspada.

Di berbagai forum dan ruang diskusi, saya mendengar pertanyaan serupa muncul berulang kali: “Apa arti perubahan ini bagi Indonesia?”

Continue reading →

Human Capital di Era Trade War 2.0: Peran Manusia dalam Ketahanan Rantai Pasok Global

Sumber Gambar: TheBreakdownBW

Oleh: Sigit Darmawan

Dalam Trade War 2.0 – Navigasi Korporasi dan Transformasi Rantai Pasok Global, salah satu gagasan yang sangat menonjol adalah bahwa perubahan besar dalam rantai pasok dunia tidak hanya digerakkan oleh teknologi, geopolitik, atau relokasi pabrik. Segala perubahan itu, pada akhirnya, bermuara pada manusia—pada kemampuan organisasi membaca perubahan, bersiap, merespons, dan bergerak bersama ke arah yang baru. Transformasi global selalu dimulai dari transformasi manusia. Karena itu, Human Capital berada di jantung seluruh pergeseran strategis yang dijelaskan dalam buku ini.

Continue reading →

Ketika Alam Menguji Bisnis: Menata Ulang Praktik Lingkungan Perusahaan

Oleh: Sigit Darmawan *)

Dunia usaha kini berada dalam lanskap yang jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Perubahan iklim, pencemaran, krisis air, dan kerusakan lahan tidak lagi sekadar berita, melainkan ancaman nyata yang memengaruhi kegiatan produksi, pasokan bahan baku, hingga reputasi merek. Perusahaan tidak lagi berdiri di atas pijakan yang mapan, tetapi di atas ekosistem yang rentan dan terus berubah.

Konsumen bertanya dari mana barang diproduksi dan bagaimana limbah dikelola. Investor menimbang risiko iklim di samping laporan keuangan. Karyawan mempertanyakan nilai keberlanjutan tempat mereka bekerja. Tekanan dari segala arah ini menuntut perusahaan menata ulang cara berpikir dan cara bertindak. Pernyataan “kami peduli lingkungan” tidak lagi cukup tanpa bukti dan arah yang jelas.

Continue reading →

Ketika Tumbler Jadi Cermin Bangsa: Mengapa Hal Sepele Bisa Menjadi Huru-hara?

Oleh: Sigit B. Darmawan

Ada kalanya sebuah bangsa bercermin bukan melalui peristiwa besar, melainkan lewat hal-hal kecil yang tidak kita sangka. Beberapa hari ini kita disuguhi kisah sebuah tumbler Tuku yang tertinggal di kereta dan tiba-tiba menjelma menjadi drama nasional. Linimasa penuh sesak, komentar tak henti bermunculan, media ikut mengulas, seolah negeri sedang diguncang isu strategis—padahal yang menjadi pusat perhatian hanyalah botol minum.

Sebuah tumbler, dengan harga yang bahkan tidak setara upah harian sebagian pekerja, berubah menjadi panggung tempat emosi publik, cara berpikir, dan watak digital kita tampil tanpa tapisan. Di situlah letak menariknya: bukan peristiwanya yang penting, tetapi reaksi kita.

Continue reading →

Trade War 2.0 dan Industri Otomotif: Dekade Paling Menentukan dalam 50 Tahun Terakhir

Oleh Sigit Darmawan

Perang dagang generasi baru—yang belakangan dikenal sebagai Trade War 2.0—tidak lagi berdiri semata sebagai sengketa tarif antara dua kekuatan ekonomi. Bentuknya telah meluas menjadi pertarungan geopolitik, persaingan teknologi, hingga perebutan pusat produksi global yang memengaruhi hampir seluruh sektor industri. Dampaknya nyata, bergerak cepat, dan terasa hingga ke jantung rantai pasok dunia.

Di antara banyak industri yang terdampak, sektor otomotif menjadi salah satu yang paling merasakan guncangannya. Alasannya sederhana: industri otomotif masa kini bukan hanya merakit mobil. Ia merangkai ribuan komponen elektronik, sistem perangkat lunak, ekosistem energi baru, hingga jaringan logistik lintas benua yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan global. Sekali ada simpul yang terputus, seluruh mesin produksi dapat berhenti.

Continue reading →

Kita Tidak Kekurangan Teknologi, Kita Kekurangan Kolaborasi

(Pelajaran dari Transisi Energi untuk Dunia Korporasi: Inovasi gagal bukan karena alat, tetapi karena ekosistem.)

Oleh: Sigit B. Darmawan

Bulan September & Oktober 2025 ini saya berkesempatan menjadi pengampu beragam kelas pelatihan tentang Transisi Energi di PLN Group yang difasilitasi LAPI SBM ITB. Saya menemukan banyak hal menarik yang muncul di ruang diskusi. Para peserta — para pemimpin menengah dari berbagai unit bisnis PLN— berbagi pengalaman tentang tantangan menerapkan teknologi baru, mengubah pola kerja, serta menggerakkan kolaborasi lintas fungsi yang kadangkala terhambat oleh ego sektoral. Dari berbagai percakapan itu saya menyimpulkan satu hal: “Transformasi bukan sekadar isu teknologi, melainkan isu kepemimpinan dan kolaborasi.”

Continue reading →

Malaikat di Atas Jembatan

Oleh: Sigit Darmawan

“Barang siapa menyelamatkan satu nyawa, sama artinya ia menyelamatkan seluruh dunia.” — Talmud

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah dokumenter yang menggetarkan hati. Sebuah film sederhana yang berkisah tentang kepahlawanan dalam keseharian di kota Nanjing, China.

Kisah di film itu menyorot apa yang telah terjadi di Jembatan Nanjing yang membelah Sungai Yangtze. Kisah tentang ratusan orang yang datang ke jembatan ini setiap tahun bukan untuk menikmati pemandangan, melainkan untuk mengakhiri hidup mereka.

Continue reading →