Menyikapi Krisis Global

 Pendahuluan

 “When written in Chinese, the word “crisis” is composed of two characters-one represents danger, and the other represents opportunity” (John Fitzgerald Kennedy, American 35th US President)

Krisis keuangan global yang sekarang kita hadapi ini dipicu oleh krisis financial sub prime mortgage di Amerika Serikat yang mengakibatkan runtuhnya berbagai perusahaan besar, seperti: Lehman, General Motor, Citicorp, Merryl Linch dan Bank of America

Krisis ini berkembang menjadi krisis global yang dampaknya terjadi tidak hanya di Amerika, tetapi juga di seluruh dunia. Dunia kita terhubung satu dengan lainnya, seperti mata rantai. Peristiwa di satu tempat akan berpengaruh kepada peristiwa  di tempat lain. Dan ada kalanya dampaknya jauh lebih bersar dibanding dengan tempat ketika krisis itu mulai terjadi.

Krisis keuangan 1998 yang dipicu dari jatuhnya mata uang di Thailand, berimbas kepada Indonesia. Dan negara kita menghadapi dampak terparah dari krisis tersebut. Bukan hanya di sektor ekonomi, tetapi juga kehidupan social, politik, dan hukum. Kerusuhan SARA, jatuhnya Suharto, pengangguran masif, ambruknya perbankan, pelanggaran HAM, dan sebagainya..

Krisis global yang  sekarang dihadapi oleh dunia, sudah terasa dampaknya.  Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan jumlah pengangguran di seluruh dunia akan bertambah 20 juta orang sepanjang tahun 2009 ini.. Di Indonesia, angka pengangguran diperkirakan meningkat menjadi 8.87 %.

Continue reading

Change or Die

Saya membaca sebuah buku yang menarik dari seorang penulis senior Malajah Fast Economy, Alan Deutschman, yang berbicara tentang proses perubahan dan bagaimana kita bisa melakukannya. Baik dalam konteks pribadi, organisasi, bisnis, dan masyarakat.

“Change or Die” mengulas tentang tiga kunci penting yang harus dilakukan agar perubahan bisa terjadi dalam individu dan organisasi. Ketiga kunci penting itu dinamakan ” 3 R : Relate, Repeat, Reframe”.

Ketiga kunci ini akan membantu kita untuk membuat perubahan-perubahan positif yang diperlukan baik bagi setiap individu , organisasi bisnis, komunitas, maupun sosial. Alan Deutschman menyatakan bahwa pada dasarnya setiap orang bisa dan mampu untuk melakukan perubahan-perubahan secara revolusioner.

Relate — berkaitan dengan upaya untuk membangun sebuah relasi baru, komunitas baru yang memungkinkan perubahan-perubahan yang sedang dilakukan bisa terjadi karena ada: dukungan, motivasi, dorongan, teguran, kedisiplinan, dan kebersamaan dari orang-orang yang menjadi bagian dari relasi atau komunitas baru tersebut. Artinya perubahan itu tidak mungkin dilakukan dalam relasi atau komunitas yang lama. Menciptakan relasi baru adalah langkah mendasar untuk memulai perubahan.

Repeat — adalah semangat untuk mengulang kebiasaan, perilaku, maupun ketrampilan yang baru secara kontinu dalam sebuah komunitas yang mendukung perubahan itu. Perubahan pada dasarnya adalah menciptakan kebiasaan baru, perilaku yang baru, memiliki ketrampilan yang baru, cara berpikir yang baru. Karena itu “repeat” adalam kunci untuk memastikan bahwa pengulangan yang konsisten dan kontinu akan mendorong perubahan yang revolusioner dalam setiap individu

Reframe — adalah membingkai ulang proses perubahan yang sudah dilakukan dengan pola berpikir dan bertindak dalam sebuah kerangka yang baru, yang berbeda dengan pola berpikir dan bertindak yang lama. Reframe (pembingkaian ulang) hanya terjadi jika kebiasaan baru, perilaku baru, dan ketrampilan yang baru mulai bisa dikuasai karena pengulangan yang dilakukan dalam relasi yang baru.

Kegagalan dalam melakukan 3 R ini, akan membawa sebuah proses kematian diri kita karena: kita tidak mampu mengembangkan diri secara utuh, terpenjara dalam sebuah pola pikir dan bertindak yang lama, tidak mampu melakukan perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan untuk kemajuan, tidak memiliki ketrampilan-ketrampilan baru yang diperlukan untuk memaksimalkan potensi diri kita dan sebagainya. Jadi semestinya tantangannya adalah bukan “Change or Die” tetapi “Change and Strive”.

Selamat Untuk Obama

Barrack Hussein Obama telah dilantik menjadi presiden Amerika Serikat yang ke-44, sekaligus presiden AS pertama dari keturunan Afro-Amerika.  Pelantikan Obama sebagai presiden merupakan simbol pengakuan akan kesetaraan ras dan hak-hak manusia yang menginspirasi seluruh komunitas international. Bahwa manusia tidak bisa dinilai dari warna kulit, agama, keyakinan, maupun suku, namun dari kemampuan dan potensi dirinya. Dan Obama membuktikan itu, sekaligus merealisasikan mimpi dari Martin Luther King akan kesetaraan ras yang selalu menjadi persoalan besar di Amerika Serikat dalam beberapa dekade.

Ekspektasi masyarakat International terhadap Obama sangat tinggi, karena janji perubahan yang diusungnya untuk: menciptakan sebuah tatanan dunia yang baru dengan mereposisi wajah diplomasi Amerika yang semakin tidak disukai di tataran kehidupan global karena kebijakan-kebijakannya, menjadi sebuah “New America” yang lebih bersahabat. Wajarlah dunia berharap, karena Obama adalah sebuah simbol yang mewakili keberagaman internasional. Dilahirkan dari pasangan Kenya dan Amerika, pernah tinggal di Asia, dan memiliki nama tengah berbau timur tengah “Hussein”. Karena itu pelantikannya sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 menyedot perhatian seluruh masyarakat dunia.

Slogan “Yes, We Can”  yang menjadi ikon perubahan yang diusungnya selama masa kampanye menjadi trendsetter dalam berbagai proses perubahan di segala bidang. Slogan ini memberikan inspirasi kepada masyarakat, bahwa segala sesuatu mungkin dilakukan, jika ada kebersamaan, kemauan, kerja keras, dan kepercayaan dimanapun dan di situasi apapun. Ya, Obama memang menjadi inspirator dunia saat ini. Selamat untuk Obama!

Kesetiaan Kepada Nurani

Ketika saya sedang membaca kembali cerita epos mahabarata-baratayudha, betapa tertegunnya saya ketika mendapati bahwa ada sisi-sisi kebaikan yang terlihat di dalam diri sebagian para kurawa. Namun kebaikan itu terbentur kepada skenario keserakahan mayoritas para Kurawa yang ingin menguasai kerajaan Hastinapura  dengan cara-cara yang tidak jujur, yang sejatinya bukan merupakan hak mereka.

Raden Yuyutsu adalah seorang Kurawa, anak Raja Drestarata, yang memiliki kepekaan nurani ketika kakaknya yang sulung, Duryudana sang Raja Hastinapura, bertindak culas kepada Pandawa dalam permainan dadu sehingga Pandawa terbuang dari kerajaan Hastinapura dan harus mengembara selama tiga belas tahun lamanya. Perasaannya terusik menyaksikan ketidakadilan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya kepada para Pandawa,  yang adalah saudara mereka juga. Continue reading

Adakah Kebaikan Dalam Diri Kurawa?

Jika kita mengenal cerita pewayangan, khususnya cerita Mahabarata dan Baratayudha, maka kita mengenal dua kelompok yang saling berseteru, berselisih, bersaing, dan akhirnya berperang dalam legenda perang besar di padang Kurusetra untuk memperebutkan kerajaan Hastinapura. Kedua kelompok manusia itu dikenal sebagai Kurawa dan Pandawa.

Pandawa selalu digambarkan sebagai kelompok ksatria berjumlah lima orang yang memiliki: budi pekerti , tatakrama, dan karakter yang luhur, serta berwatak ksatria, penuh tanggung jawab, tidak menindas dan tidak serakah. Walaupun dalam beberapa cerita pewayangan para ksatria Pandawa ini juga memiliki kelemahan dan keburukan–sehingga sering diingatkan oleh para Punakawan– namun cerita tentang kebaikan dan keluhuran budinya jauh lebih  kuat bergema dibanding kelemahannya.

Continue reading

Pidato Kemenangan Obama

Pidato kemenangan obama yang memberikan inspirasi tentang kejayaan, kemenangan, dan keberhasilan selalu diperoleh dari sebuah perjuangan panjang yang tanpa kenal lelah.

————————————————————————————————————————–

Hello, Chicago.

If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.

It’s the answer told by lines that stretched around schools and churches in numbers this nation has never seen, by people who waited three hours and four hours, many for the first time in their lives, because they believed that this time must be different, that their voices could be that difference.

It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled, Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a collection of red states and blue states. Continue reading

Pidato “Kekalahan” Mc Cain

Inilah pidato “kekalahan” (baca: kemenangan) Mc Cain yang sangat indah dan menyentuh hati. Kebesaran jiwa dan kenegarawanan yang ditunjukkannya semoga memberikan inspirasi kepada kita dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

——————————————————————————————————————-

Thank you. Thank you, my friends. Thank you for coming here on this beautiful Arizona evening.

My friends, we have – we have come to the end of a long journey. The American people have spoken, and they have spoken clearly.

A little while ago, I had the honor of calling Senator Barack Obama to congratulate him. Continue reading

Kemiskinan, Pemiskinan, Dan Peran Jemaat

Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari  yang paling hina ini,kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. (Matius 24:45)

Paradoks Kemiskinan

Dalam bukunya yang berjudul “Dibalik Kemiskinan dan Kemakmuran” (Beyond Poverty & Affluence), Bob Goudzwaard dan Harry de Lange mengemukakan beberapa paradoks menarik yang terjadi dalam pembangunan di dunia modern ini.

Pertama adalah paradoks kelangkaan. Pembangunan ekonomi sekarang ini merupakan paradoks antara kekayaan dan kelangkaan. Di tengah-tengah kekayaan ekonomi dunia terjadi kelangkaan yang diakibatkan oleh tidak terdistribusikannya kekayaan dan hasil-hasil proses ekonomi atau produksi secara adil dan merata. Ketika  produksi makanan melimpah di suatu tempat, di tempat lain terjadi kelangkaan bahan makanan dan kelaparan. Krisis bahan makanan dunia yang kita hadapi sekarang ini adalah sebuah gejala paradoksial pembangunan dunia. Continue reading