Data Analitik : Revolusi Diam-Diam di Industri dan Bisnis

Oleh: Sigit Darmawan

Liverpool telah mengumumkan juru taktik asal Belanda, Arne Slot, sebagai pengganti Jurgen Kloop. Di tangan Jurgen Klopp, Liverpool telah menjelma menjadi kesebelasan yang sangat disegani berkat permainan yang atraktif dan menyerang dengan filosofi gegenpressing . Gaya permainan yang diterapkan di Liverpool ini mampu menghasilkan tropi Liga Inggris, Liga Champion, dan Piala Dunia Antar Klub.

Keputusan Liverpool menunjuk Arne Slot dibantu dengan pemanfaatan teknologi dan data analitik. Liverpool FC dikenal sebagai salah satu klub yang menggunakan teknologi basis data analitik selain untuk mencari pelatih juga untuk meningkatkan kinerja tim.

Continue reading →

Starlink: Terobosan Baru di Industri Telekomunikasi

Oleh: Sigit Darmawan

Starlink, proyek ambisius yang dikembangkan oleh SpaceX, telah menjadi sorotan sebagai salah satu inovasi terbesar dalam industri telekomunikasi modern. Menggunakan konstelasi ribuan satelit di orbit rendah Bumi, Starlink bertujuan untuk menyediakan akses internet berkecepatan tinggi dan latensi rendah ke seluruh penjuru dunia, termasuk wilayah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur telekomunikasi tradisional.

Di era digital saat ini, akses internet yang cepat dan andal bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar. Namun, masih ada kesenjangan besar dalam ketersediaan layanan internet di berbagai belahan dunia.

Continue reading →

Gereja dan Isu Kesehatan Mental Keluarga

Oleh: Sigit Budi Darmawan *)

“What mental health needs is more sunlight, more candor, and more unashamed conversation.” – Glenn Close, American Actress

Gangguan Kesehatan Mental (mental illness) saat ini menjadi masalah kesehatan global yang secara signifikan  mempengaruhi orang-orang dari segala usia dan latar belakang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO – World Health Organization) dalam Mental Health Report 2022 memperkirakan bahwa lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia menderita gangguan kesehatan mental (GKM). Depresi dan kecemasan menjadi GKM yang paling umum. Di hampir semua negara, sekitar 1 dari 8 orang hidup dengan gangguan kesehatan mental. Secara global ada 20 percobaan bunuh diri untuk 1 kasus kematian dan menjadi penyebab utama kematian di kalangan anak-anak muda. Secara global 1 dari 7 anak remaja berusia 10-19 tahun menggalami gangguan kesehatan mental, namun sebagian besar masih belum dikenal dan tidak diobati. Masa remaja adalah masa yang unik dan formatif. Perubahan fisik, emosional, dan sosial, termasuk paparan kemiskinan, pelecehan, atau kekerasan, dapat membuat remaja rentan terhadap masalah kesehatan mental.

Continue reading →

e-Church? Gereja Dalam Pusaran Arus Dunia Digital (1)

Oleh: Sigit Darmawan

Perubahan dunia sedang berlangsung. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mengintegrasikan bumi dalam sebuah komunitas global yang saling terhubung satu dengan yang lainnya, tanpa batasan waktu dan jarak. Perkembangan teknologi informasi dan teknologi komunikasi telah menciptakan sebuah cara baru dalam kehidupan yang dikenal dengan e-life, yaitu sebuah kehidupan yang dipengaruhi ‘proses elektronik’ dari peralatan-peralatan media informasi dan komunikasi. Perubahan-perubahan ini telah membentuk sebuah masyarakat baru yang disebut sebagai Network Society. Masyarakat ini bercirikan multikultural dalam berbagai aktivitasnya. Proses globalisasi yang mentransformasikan kehidupan individu manusia dan komunitas masyarakat dunia ini, terus berlangsung secara cepat seiring dengan percepatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi itu.

Melalui teori evolusinya, Darwin pernah mengemukakan tentang “survival of the fittest”, maka di era digital yang ditandai dengan perubahan yang cepat dalam teknologi informasi dan komunikasi ini, maka berlakulah “survival of the fastest”. Hilbert dan Lopez, peneliti dari University of Southern California, mengidentifikasi perubahan teknologi informasi dan komunikasi saat ini dalam sebuah kecepatan eksponensial. Hanya diperlukan kurun waktu 14-34 bulan untuk terjadinya peningkatan kapasitas informasi dan telekomunikasi global sebanyak dua kali lipatnya.

Continue reading →

e-Church? Gereja Dalam Pusaran Arus Dunia Digital (2)

Oleh: Sigit Darmawan

e-Relation Dan Penetrasi Gereja

Kebutuhan manusia yang hidup dalam jaman digital ini sangat berbeda dengan kebutuhan di jaman sebelumnya. Arus modernisasi dalam pola dan cara berkomunikasi yang begitu cepat, mengobah pola dan perilaku manusia yang serba cepat pula. Karena itu organisasi, termasuk gereja, yang lambat meresponi kebutuhan anggotanya akan semakin kewalahan dalam memenuhi apa yang diharapkan oleh mereka. Dan terjadilah gap dalam pelayanan organisasi kepada anggotanya.

Dalam dunia digital, keterpautan antara individu tercipta dalam sebuah pola interaksi melalui jejaring sosial yang menguat melalui kemajuan teknologi informasi ini. Jejaring ini melahirkan pertukaran informasi dan data yang secara cepat terjadi di antara masyarakat pengguna jejaring sosial, dan menciptakan hubungan-hubungan baru yang bisa positif maupun negatif. Pola komunikasi yang terbangun dalam dunia digital melalui jejaring sosial (milis, twitter, facebook, skype dan sebagainya) meskipun intens, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Interaksi yang tanpa sentuhan hati, keterbukaan yang “terbatas” karena tidak akan mampu mengungkapan perasaan terdalam individu, pencitraan yang maya atau palsu menjadi sebuah model atau pola relasi yang kering.

Continue reading →

e-Church? Gereja Dalam Pusaran Arus Dunia Digital (3)

Oleh: Sigit Darmawan

E-Sermon Dan Pendeta Google

Kemajuan internet telah memudahkan manusia dalam mencari informasi apa saja yang diperlukan dalam mencari jawaban terhadap berbagai persoalan manusia. Mesin pencari informasi, seperti Google, telah menjadi penolong bagi manusia dalam upaya mencari tahu hal-hal yang baru, mengkonfirmasi hal-hal yang menjadi kebingungan manusia, mencari jalan keluar dalam persoalan-persoalan manusia. Termasuk jawaban akan persoalan spiritual manusia. Dan untuk urusan spiritual ini, “Pendeta Google” telah menjadi penasihat yang dihandalkan bagi penggunanya. Bagaimana tidak. Seseorang bisa mengetik di papan keyboard komputernya yang terhubung internet dengan sebuah pertanyaan, “tips mengatasi depresi”, dan dalam sekejab mesin pencari akan memberikan sekian ribu (bahkan mungkin jutaan) tautan yang bisa menjadi alternatif jawaban bagi orang tersebut. Jawaban itu bisa menguatkan orang tersebut, tetapi bisa menghancurkannya.

Continue reading →

Craftsmanship

“Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel  bin Uri bin Hur,  dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah  , dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan,  dalam segala macam pekerjaan (craftsmanship)” (Keluaran 31:2-3)

Bezaleel adalah seorang lelaki Israel yang ditunjuk untuk mengarsiteki pembangunan Kemah Suci dan segala macam peralatannya. Bezaleel ditunjuk karena ia adalah tukang yang ahli dalam bahan bangunan. Ia juga piawai dalam seni dan ukir-mengukir kayu, logam, dan batu berharga. Dalam pelaksanaan pembangunan Kemah Suci, ia banyak mengajarkan kepiawaiannya itu kepada pekerja-pekerja lain.

Seorang Bezaleel memiliki kapasitas yang dibutuhkan dalam proyek pembangunan Kemah Suci, yaitu: keahlian, pengertian dan pengetahuan.  Tetapi yang paling penting adalah kemampuan untuk mengintegrasikan ketiga itu ke berbagai macam pekerjaan yang kompleks itu.

Tidak cukup seorang Bezaleel memiliki kualitas keahlian, tanpa didukung oleh pengetahuan dan hikmat dalam memahami kehendak Tuhan. Pekerjaan Kemah Suci itu harus dibuat tepat sesuai yang diperintahkan Tuhan kepadanya (Keluaran 31:11). Artinya pekerjaan dari Tuhan itu harus dilakukan dengan kualitas unggul dan penuh integritas sesuai yang dikehendaki Tuhan.

Bill Johnson dalam bukunya “Dreaming with God” menjelaskan istilah craftsman sebagai orang yang mengerjakan pekerjaan atau tugas yang diberikan Allah dengan kualitas unggul (excellence), penuh kreativitas, dan integritas.

Dalam pemahaman tersebut, maka craftsman adalah seorang yang memiliki “keahlian” (craftsmanship) dan membawa semangat keahlian (power of craftsmanship) itu dalam berbagai bidang yang digelutinya. Menurut Bill, di dalam aspek “keahlian” itu terkandung prinsip kreativitas dan kebaruan (inovasi).

****

Pelayanan alumni sejatinya adalah pelayanan untuk menghidupkan craftsmanship alumni melalui pergumulan spiritualitas dalam  menemukan titik vokasinya. Membangun kualitas keahlian (craftsmanship) yang mumpuni tidak sekedar tentang keahlian, ketrampilan dan pengetahuan, tetapi termasuk sikap dan karakter yang menyertainya.

Seorang alumni yang hidup sebagai craftsman adalah alumni yang mampu mengintegrasikan antara kualitas keahlian dengan kualitas iman. Prinsip hidup mencari kehendak Tuhan menjadi hal penting dan mendasar dalam hidup alumni.

Prinsip kebaruan selayaknya menjadi urat nadi hidup alumni. Sehingga seorang alumni selalu berinovasi dalam rangka perubahan dan pertumbuhan dirinya. Jika kehidupan seorang alumni mandeg dan stagnan, maka ia mulai melupakan jatidirinya sebagai seorang craftsman.

Dalam acara sebuah Kamp Nasional Alumni 2015 yang lalu dideklarasikan menifesto alumni. Dari 7 butir manifesto alumni, manifestó ke-6 berbicara tentang craftsmanship alumni. Manifesto butir ke-6 itu berbunyi “kami bertekad menjadi pribadi yang berkualitas, unggul, produktif, berkebaruan (berinovasi), beretika, bermental pemimpin yang melayani di setiap profesi kami”.

Jika spirit of craftsmanship ini hidup dalam diri setiap alumni, maka alumni akan menjadi pribadi-pribadi yang memberi pengaruh kuat bagi lingkungannya. Dan pengaruh itu akan mendorong perubahan dalam masyarakat dan bangsa.

Maka tantangan pelayanan alumni adalah bagaimana memperkuat pembinaan alumni agar spirit of craftsmanship itu terinternalisasi dalam kehidupan alumni. Pemuridan alumni adalah kunci untuk memperkuat hal itu. Karena itu adalah fondasi untuk menumbuhkan, memperkuat, dan mentransfer spirit of craftsmanship itu dalam hidup alumni.

****

Peter Drucker, seorang pakar manajemen terkemuka dunia, pernah mengatakan “Time is the scarcest resource: and unless it is managed, nothing else can be managed”. Dalam dunia yang penuh kompetisi ini, maka waktu adalah sumberdaya yang amat langka. Jika tidak mampu dikelola dengan baik, waktu (bisa dipahami sebagai kronos dan kairos) akan hilang.

Sebagai bangsa, kita sudah kehilangan banyak waktu untuk berbenah. Peningkatan indeks kompetisi global (GCI: Global Competitiveness Index) kita belum bergerak signifikan. Kita masih dibawah Singapura, Malaysia, dan Thailand, meskipun kita memiliki potensi sumberdaya manusia yang besar.

Revolusi mental yang diangkat oleh Presiden Jokowi, sejatinya adalah sebuah revolusi untuk mengelola waktu tersebut, agar bangsa Indonesia tidak kehilangan momentum untuk menjadi bangsa yang unggul. Waktu harus direbut dengan sebuah revolusi kesadaran tentang pentingnya membangun kesejalanan antara kualitas keahlian dan kualitas karakter bangsa.

Jadi revolusi mental ini adalah sebuah gerakan untuk mendorong spirit of craftsmanship kita sebagai bangsa Indonesia.  Budaya dan karakter unggul, kreatif, dan inovatif adalah jantung dari spirit of craftsmanship.  Ini lahir dari kombinasi dan integrasi antara ketrampilan (kompetensi), pengertian (hikmat atau wisdom), dan kedalaman akan pengetahuan.

Tugas menghadirkan craftsmanship adalah tugas kita bersama sebagai bangsa. Dan alumni sebagai bagian dari kaum intelektual di masyarakat, punya peran mendorong perubahan itu. Pelayanan alumni harus didorong agar memfasilitasi peran-peran alumni sebagai craftsman di berbagai bidang. Bukankah itu sebuah tantangan yang besar?

Ngangkang Dan Budaya Ora Ilok

Dalam budaya masyarakat tertentu memang ada semacam aturan kepatutan  tidak tertulis bahwa wanita tidak elok jika ngangkang ketika duduk, atau melakukan hal-hal lainnya yang sebenarnya bisa dilakukan dengan posisi ‘tidak ngangkang’. Artinya sebenarnya ada pengecualian jika berkaitan dengan keleluasaan dalam bergerak, khususnya untuk aktivitas-aktivitas yang memang membutuhkan keleluasaan itu.

Tradisi budaya yang bersangkut paut dengan etika bagaimana perempuan berperilaku itu hidup di masyarakat selamat ratusan tahun. Di tradisi jawa misalnya, ada semacam etika kesopanan yang tidak tertulis, bahwa wanita tidak boleh tertawa terbahak-bahak dan bersuara keras. Tradisi ini diajarkan turun temurun. Begitu banyaknya aturan yang bersangkut paut dengan etika bagi perempuan, maka di tradisi budaya jawa sebutan wanita dimaknai sebagai ‘wanito: wani ditoto’, atau perempuan yang bersedia diatur.

Dalam perpektif budaya jawa, tujuan etika bagi perempuan itu untuk  ‘menegakkan’ kehormatan bagi wanita. Ada berbagai tradisi budaya dan etika di nusantara ini yang ditujukan bagi kaum perempuan. Karena itu jika perempuan tidak berperilaku sesuai dengan etika budaya tersebut, dipandang masyarakat sebagai perilaku ‘ora ilok’ atau tidak elok. Meskipun sebenarnya budaya Jawa juga mengatur perilaku laki-laki. Continue reading →