SKB 3 Menteri Tentang Ahmadiyah

Pemerintah akhirnya mengeluarkan SKB 3 Menteri tentang Ahmadiyah. Memang SKB ini tidak membubarkan Ahmadiyah, namun melarang semua kegiatan Ahmadiyah dengan ancaman pelanggaran hukum karena penodaan agama. Dengan SKB ini negara telah masuk dalam ruang privat yang seharusnya tidak diurusi oleh negara, dan menggunakan sebuah UU untuk membelenggu kebebasan berkeyakinan dan beragama masyarakat yang seharusnya dilindungi oleh negara.

Inti dari SKB 3 menteri yang ditandatangani oleh Menteri Dalam Negeri,Menteri Agama, dan Jaksa Agung tersebut adalah pelarangan semua bentuk kegiatan yang dilakukan oleh Ahmadiyah, dan larangan untuk tidak melakukan penodaan agama.  Sebuah keputusan yang berusaha mengakomodasi pihak-pihak yang bertikai tentang Ahmadiyah, namun tidak sejalan dengan semangat demokrasi yang menjunjung tinggi hak dan kebebasan warga dan memberikan perlindungan hukum secara adil bagi warganya. Continue reading

Tragedi Monas dan Membangun Demokrasi

Insiden penyerangan massa Laskar Islam dan FPI (Front Pembela Islam) terhadap aksi damai dari AKKBB (Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) di Monas tanggal 1 Juni 2008 yang lalu merupakan sebuah pencideraan terhadap pluralitas dan demokrasi yang sedang kita bangun. Tindakan kekerasan dalam negara demokrasi adalah sebuah tindakan yang bertentangan dengan semangat demokrasi yang menjunjung tinggi pluralitas, perbedaan pendapat, penghargaan kepada hak-hak warga negara.

Tragedi ini terjadi akibat kegamangan pemerintah dalam menyikapi kasus Ahmadiyah yang tidak kunjung diselesaikan, padahal persoalannya sudah sedemikian jelas. Negara tidak memiliki hak untuk mengatur ruang privat masyarakat dalam menentukan keyakinan beragamanya. Negara hanya perlu mengatur supaya ekspresi keyakinan dan kehidupan beragama masyarakat tidak melanggar hukum yang berlaku. Continue reading

Mind Set: Inti Pembelajaran Diri

“…whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is admirable—if anything is excellent or praiseworthy—think about such things” (Apostle Paul to Philippians)

Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan kita lakukan. Pola pikir kita ini akan mempengaruhi karakter, kebiasan (habits), perilaku dan sikap kita. Pola pikir ini sangat dipengaruhi oleh sistim kepercayaan atau sistim nilai yang kita miliki, nilai-nilai keluarga, pendidikan, dan lingkungan. Karena itu kita harus memastikan agar pola pikir kita hanya dibentuk dan dipengaruhi dengan nilai-nilai yang baik dan benar.

Sebuah transformasi (perubahan) pola pikir harus terjadi, jika kita ingin mengembangkan hidup yang berkualitas. Perubahan ini dimaksudkan supaya semua potensi, bakat, dan talenta kita bisa dikembangkan secara optimal, dan menghasilkan sebuah keluaran (output) dengan kualitas terbaik. Continue reading

Mengenai Perlindungan Hak-hak Konstitusional Warga Negara

Konferensi Pers
Mengenai Perlindungan Hak-hak Konstitusional Warga Negara
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Jakarta
Selasa, 22 April 2008

Menyikapi situasi terakhir atas Ahmadiyah, Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Jakarta merasa perlu untuk memberikan beberapa pernyataan dan klarifikasi mengenai hak-hak warga negara dan peran yang harus dilakukan oleh negara. Keputusan penyesatan dan rekomendasi pembubaran atas Ahmadiyah sangat mengancam jaminan hak-hak konstitusional warga Ahmadiyah. Setiap warga negara, apapun keyakinan dan agama yang dianut, mereka memiliki hak perlindungan dari negara, sebagaimana warga negara yang lain. Continue reading

Mempersoalkan (Lagi) UU ITE

Kontroversi segera merebak menyusul mulai diberlakukannya UU Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE) dan mengundang reaksi kontra dari masyarakat. UU ITE yang semula dimaksudkan untuk mengatur pemanfaatan teknologi informasi dan mencegah kejahatan dalam berbagai transaksi elektronik di internet, berkembang menjadi UU yang juga mengatur pembatasan akses ke situs-situs yang dianggap mengandung muatan yang melanggar “kesusilaan”.

Dan ketika film Fitna mengguncang berita di internet, pemerintah bereaksi dengan atas nama UU ITE memblokir situs YouTube dan situs-situs lainnya yang memasukkan film Fitna dalam kontennya. Keputusan pemblokiran akses pengguna internet ini terhadap situs-situs: YouTube, MySpace, Multiply, Metacafe, Rapidshare dan sebagainya dilakukan melalui surat keputusan menteri dan ditujukan kepada berbagai ISP (Internet Service Provider) dan NAP (Network Service Provider) di Indonesia Continue reading

Fitna dan Toleransi

Oleh: Sigit B. Darmawan 

Film dokumenter Fitna yang dibuat oleh seorang anggota parlemen Belanda, Geert Wilders telah membangkitkan kecaman luar biasa dari berbagai negara. Kecaman itu muncul karena film itu dinilai telah merendahkan agama Islam dan bersifat anti-Islam. Geert sendiri menjelaskan bahwa melalui film itu ia ingin menunjukkan elemen kekerasan dan fasis dalam iman agama Islam.

Beberapa negara sudah memboikot peredaran film tersebut, termasuk peredaran melalui internet. Bahkan Amerikapun membekukan sebuah situs yang digunakan untuk mengkampanyekan film Fitna tersebut,  untuk meredam kemarahan komunitas umat Islam dan mengurangi ketegangan hubungan antar komunitas Islam dan Barat Continue reading

Burned Alive – Tentang Kejahatan Atas Nama Kehormatan

Burned Alive adalah sebuah buku berisi kisah nyata yang mengguncangkan tentang seorang perempuan yang lolos dari pembunuhan atas nama kehormatan di suatu daerah di tepi Barat Palestina. Buku yang ditulis oleh Souad –bukan nama sebenarnya– ini menjadi national best seller dan sudah diterjemahkan kedalam 28 bahasa di 29 negara. Souad adalah perempuan yang berhasil diselamatkan dari sebuah pembunuhan berencana oleh keluarganya sendiri, setelah dirinya dianggap sebagai “charmuta” –julukan kepada perempuan dianggap telah melakukan hal yang memalukan keluarga — sehingga harus menerima vonis kematian untuk mengembalikan kehormatan keluarga dan seluruh desa. Continue reading

Enrique’s Journey

Enrique’s Journey adalah buku yang ditulis oleh Sonia Nazario, orang Argentina, yang menceritakan tentang kisah nyata petualangan seorang anak Amerika Latin diatas kereta api maut demi bersatu kembali dengan ibunya.

Sonia Nazario menuliskan kisah perjalanan yang menggetarkan ini dan meraih penghargaan Pulitzer tahun 2003. Dia melakukan perjalanan selama lebih dari 6 bulan seperti yang dilewati oleh anak anak latin itu. Termasuk ancaman bahaya yang mengintai mereka sepanjang Honduras, Meksiko dan AS.

Sonia mewancarai banyak imigran, para medis, pastor, biarawati, perwira polisi, petugas imigrasi untuk mendapatkan gambaran tentang perjalanan anak-anak amerika tengah itu, dan mengikuti jejak perjalanan berbahaya Enrique.

Bahaya dan ketakutan yang dijumpai Sonia itu bahkan membuatnya harus menjalani terapi berbulan-bulan supaya bisa tidur nyenyak lagi.

*

AS mengalami gelombang imigrasi terbesar dalam sejarahnya. Setiap tahun kira-kira 700.000 imigran memasuki AS secara ilegal. Dan sejak tahun 2000, kira-kira 1 juta imigran yang datang secara legal dan menjadi penduduk legal.

Gelombang imigran ke AS ini terbagi dua. Gelombang pertama, ketika para orang tua -pada umumnya para bapak yang disebut sebagai pekerja tamu Meksiko atau braceros — datang ke AS dan meninggalkan anak-anaknya bersama ibu mereka.

Gelombang imigran yang kedua adalah ketika terjadi peningkatan angka perceraian dan perpecahan keluarga di amerika latin. Hal ini menyebabkan banyak ibu tunggal tanpa sarana apapun untuk membesarkan anak-anaknya.

Tingkat pertumbuhan ibu-ibu tunggal di Amerika Latin ini setara dengan masa ketika semakin banyak wanita AS mulai bekerja di luar rumah. Dan karenanya ada kebutuhan yang besar akan pekerja sebagai pengasuh anak.

Gelombang imigrasi ibu-ibu tunggal Amerika Latin dalam jumlah besar terjadi tahun 1960 – 1970 an. Rata-rata para ibu pergi ke AS karena berharap bisa memberi anak-anaknya jalan keluar dari kemiskinan yang menggilas dan masuk dalam pertaruhan yang kejam.

Mereka pergi melalui jasa penyelundup untuk membawa mereka ke AS, dan menempuh perjalanan yang penuh bahaya ribuan mil sebelum sampai ke AS untuk bekerja sebagai tenaga kerja illegal.

Hari demi hari, para ibu melewatkan saat saat penting dalam kehidupan anak-anaknya. Dan ketidakhadirannya meninggalkan luka yang teramat dalam bagi anaknya. Banyak ibu-ibu Amerika Latin yang akhirnya tidak pernah bertemu dengan anak-anak mereka selama lebih dari belasan tahun.

Hal ini mendorong ribuan anak yang ditinggalkan ibunya sejak kecil itu pergi melakukan perjalanan yang sangat berbahaya di atas kereta barang. Hanya karena ingin bertemu ibunya.

*

Enrique adalah satu dari mereka yang terpisah dari ibunya ketika kecil, dan berhasrat melakukan perjalanan berbahaya tersebut hanya untuk bertemu dengan ibunya yang telah meninggalkannya karena mencari kerja di AS.

Enrique berasal dari pinggiran kota Tegucipalga, Honduras. Ibunya Lourdes meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil, Enrique 5 tahun dan Belky kakaknya 7 tahun, untuk bekerja di AS.

Kemiskinan membuat Lourdes memutuskan untuk mencari harapan ke AS. Harapan bisa menghasilkan uang, mengirimkan balik kerumah, dan kemudian membawa anak-anaknya untuk tinggal bersamanya kelak.

Ternyata ibunya tidak akan pernah kembali. Sebagai remaja yang masih belasan tahun, akhirnya Enrique bertolak ke AS seorang diri untuk mencari ibunya.

Dan Enrique akan menjadi salah satu dari kira-kira 48.000 anak yang memasuki AS dari Amerika Tengah dan Meksiko setiap tahun, secara ilegal dan tanpa orang tuanya.

Perjalanan Enrique melintasi 13 dari 31 negara bagian Meksiko dan menempuh jarak lebih dari 1600 mil, separuhnya di atap kereta api yang mereka sebut sebagai Al Train De La Muerte atau Kereta Api Maut.

Banyak anak-anak yang akhirnya ditangkap oleh Patroli perbatasan AS-Meksiko, dan di tampung di tempat penampungan dan gereja di meksiko. Sedangkan yang lainnya ditahan oleh INS (Dinas Keimigrasian dan Naturalisasi AS) di tempat penahanan di California dan Texas

Hampir 75 persen anak-anak – yang tertangkap dan berada di tempat penahanan imigran anak di texas- ingin mencari ibunya. Anak-anak ini membawa foto ketika dalam pelukan ibunya. Banyak juga yang pergi menempuh bahaya hanya sekedar mencari tahu apakah ibunya masih mencintainya atau tidak.

Perjalanan yang keras, illegal, dan berbahaya bagi anak-anak amerika tengah tersebut terjadi di sepanjang meksiko. Separuh dari mereka mendapatkan bantuan dari penyelundup dengan membayar sejumlah uang, separuhnya lagi melakukan perjalanan sendiri.

Sepanjang perjalanan mereka dihantui oleh ancaman pemerasan, pemukulan, pemerkosaan bahkan pembunuhan. Mereka kedinginan, kelaparan selama berhari-hari, dan tidak berdaya. Diburu seperti binatang oleh polisi-polisi korup, diperas dan diperdaya oleh para bandit dan anggota geng.

Mereka berangkat tanpa uang atau dengan sedikit uang, dengan menumpang kereta barang berpegangan di sisi kanan kiri atau di atap kereta. Untuk menghindari polisi dan otoritas imigrasi meksiko, mereka melompat dan berlarian dari gerbong satu ke gerbong lain yang sedang melaju kencang, dan tidak jarang banyak yang terperosok jatuh dan kehilangan anggota tubuhnya.

Semua perjalanan berbahaya ini rela dilakukan oleh mereka karena rasa rindu akan ibunya yang telah meninggalkannya ketika mereka masih kecil. Menemukan ibu mereka bagaikan pencarian akan “cawan suci”.

*

Enrique akhirnya berhasil memasuki AS dan bertemu kembali dengan ibunya. Setelah berulang kali mencoba, tertangkap, dan dikembalikan ke daerah asalnya. Dan setelah ia melakukan lebih dari 30 perjalanan dengan kereta api.

Namun pertemuan dengan ibunya tidak serta merta menyelesaikan seluruh masalah kehidupannya. Ribuan anak-anak yang berhasil bertemu dengan ibunya di AS mengalami goncangan psikologis, karena mereka menghadapi pertempuran emosional yang tidak mudah terdamaikan.

Goresan luka emosional membuat hubungan dengan orang tuanya menjadi sulit untuk diperbaiki. Banyak anak-anak ketika bertemu dengan ibunya sering mempersalahkan ibunya yang berbohong, tidak mencintai mereka, dan meninggalkannya.

Sebagian besar mereka menuntut ibunya untuk mengaku salah dan meminta maaf karena meninggalkan mereka. Sementara para ibu memikul kepedihan, karena meninggalkan anak-anaknya, dan bekerja keras untuk mengirim uang. Dan menuntut rasa hormat dari anak-anaknya atas pengorbanan mereka.

Banyak yang kerusakan hubungan ini berlanjut selama sisa hidup mereka, dan tidak bisa diperbaiki. Namun ada juga yang berhasil memperbaiki hubungan mereka dengan ibunya, walaupun memakan waktu bertahun-tahun.

Harapan untuk memiliki keluarga yang bahagia ketika bersatunya anak dan ibu, ternyata justru berkebalikan. Para keluarga menghadapi saling penolakan dan pertengkaran yang terus-menerus yang semakin sulit, sekalipun telah bersama.

Hanya 1 dari 10 anak imigran itu yang akhirnya bisa menerima orang tuanya dan mengesampingkan kebencian yang dirasakannya kepada orang tua mereka.

Mereka yang bertahan hidup, seperti Enrique, mencoba menutupi masalah dengan ibunya, dan memfokuskan perhatian kepada apa yang baik bagi masa depan mereka dan bekerja untuk memastikan cinta mereka kepada ibunya mengatasi kebencian yang juga mereka rasakan di dalam.

Imigrasi memang meninggalkan suka dan duka bagi negara yang ditinggalkan maupun yang didatangi. Eksodus imingran ke negara maju memang menjadi katup pelarian bagi negara-negara dengan masalah ekonomi yang besar, seperti Honduras dan Meksiko.

Aliran pekerja keluar telah mencegah pengangguran meningkat lebih tinggi, meningkatnya aliran uang tunai yang membentuk 15 % dari PDB perekonomian negara, meningkatnya ketrampilan pekerja yang kembali.

Namun akibat imigrasi adalah kehancuran keluarga. Perpisahan anak dan orang tua mempunyai konsekuensi negatif yang abadi.

“Ayah, ibu. Anak-anakmu membutuhkanmu. Tinggalah disini, ada peluang untuk maju. Temukanlah peluang itu ! ”

Bunyi sebuah iklan layanan masyarakat yang diluncurkan di Honduras tahun 2002 ketika negara itu tengah menghadapi kerusakan yang diakibatkan oleh perpisahan keluarga tersebut.