Menggugat Sekolah Unggulan 89 Milyar

Pemda DKI sedang membangun sekolah unggulan berfasilitas mewah senilai 89 milyar dengan dana APBD DKI Jakarta Sekolah tersebut direncanakan untuk dibangun di kawasan seluas 3.75 ha di cipayung. Sekolah yang rencananya memiliki fasilitas peralatan olah raga, mini stadion, kolam renang, laboratorium, dan ruang astronomi tersebut diperuntukan untuk anak-anak dengan intelegensia (IQ) tinggi. Salah satu alasan yang dikemukakan oleh Sutiyoso, calon presiden 2009, ini adalah Indonesia kekurangan sumber daya manusia yang unggul dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura. Continue reading →

Mendamaikan Perintah Mengasihi dan Membenci

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka,”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (dikutip dari Injil Lukas 14:25-26). Continue reading →

Antara PSSI, Nurdin Halid, dan Nilai Bangsa

Nurdin Halid, selaku ketua PSSI,  pernah mencanangkan target lolos di Olimpiade 2012 dan Piala Dunia 2014. Sebuah target yang prestisius, mengingat kondisi sepakbola indonesia yang terpuruk saat ini.  Membangun suatu kesebelasan nasional yang tangguh sungguh tidak mudah, komplek, dan perlu proses. Di dalam proses itu terkandung nilai-nilai yang menjadi semangat, ciri khas, dan identitas suatu bangsa. Karena itu kemajuan olah raga di suatu negara amat dekat dengan nilai-nilai yang menjadi acuan dalam mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Continue reading →

Tentang Perda Ketertiban Jakarta dan kemiskinan

Gubernur dan DPRD DKI Jakarta sudah menyetujui Perda Revisi tentang Ketertiban Masyarakat yang dianggap kontroversial oleh masyarakat. Tanggapan terhadap perda ini pun sangat beragam. Beberapa butir aturan dalam perda tersebut diantaranya: melarang masyarakat untuk memberi “derma” kepada pengemis jalanan dan larangan untuk membeli barang di pedagang kaki lima. Dalam larangan tersebut, juga termasuk sanksi bagi masyarakat yang melanggar perda tersebut. Continue reading →

Tentang Layanan Publik

Layanan publik di intitusi atau badan usaha pemerintah ternyata belum mengalami perubahan yang signifikan. Jargon penerapan “good corporate governance” belum terasa dampaknya di badan usaha milik negara. Setidaknya itulah pengalaman saya minggu lalu, ketika mengurus ke kantor pln di cabang pondokgede. Saya bermaksud menaikkan daya listrik pln, dan karena ingin mendapatkan pengalaman tentang urusan ini, saya mengurus sendiri semua proses administrasinya. Continue reading →

Tumpangan bagi wanita Yahudi

Oleh: Anonim 

Konon pada masa-masa anti kulit berwarna di Eropa, banyak restoran  Dan hotel yang tidak mau menerima orang keturanan Yahudi untuk makan atau menginap.

Pada suatu hari seorang wanita keturuan yahudi yang telah menjadi  Katolik ditolak saat akan menginap di satu hotel dalam perjalanannya. Pemilik hotel dengan sinis menolak. “Kami tidak menerima Yahudi, katanya.

“Saya memang keturunan Yahudi tetapi sudah Katolik, jawab wanita tersebut.

“Kalau begitu apakah anda tahu mengenai Yesus?, tanya pemilik hotel.

“Ya” saya tahu jawab wanita itu. “Coba ceritakan sedikit, biar saya percaya” sambung pemilik hotel.

Dengan semangat 45, wanita Yahudi itu bercerita mengenai Yesus: ” Yesus lahir di Betlehem daerah Yudea, ibunya Maria dan bapaknya Roh Kudus, IA lahir di kandang domba yang hina, karena orang-orang seperti andalah  yang tidak mau memberikan tumpangan bagi seorang wanita Yahudi”.

Tempatnya Zakeus

Oleh: anonim 

Seorang Majelis yang tidak pernah aktif melayani di gereja, secara mendadak ditunjuk untuk memimpin ibadah pada hari Minggu berhubung karena pak Pendeta sedang tidak berada di tempat.

Dalam keadaan bingung dan tidak persiapan apapun dia ingat cerita dalam Lukas 19 mengenai Zakheus. Acara ibadah berlangsung cukup baik, sampai pada saat renungan, pak Majelis mulai cerita mengenai Zakheus, begini:

“Yesus tiba di kota Yerikho dan orang banyak ingin melihat Yesus, termasuk seorang pemungut cukai yang pendek badannya. Nama pemungut cukai itu adalah Lazarus!”.

(Jemaat semua pada bingung dan mulai bisik-bisik, karena mereka tahu bahwa sebenarnya yang dimaksud dalam cerita tersebut  adalah Zakheus-pemungut cukai bukan Lazarus. Majelis lain yang tahu akan kekeliruan ini mendekati mimbar dan membisikan kepada kepada majelis tersebut, bahwa sebenarnya bukan Lazarus, tetapi Zakheus).

Namun Mejelis tersebut tetap meneruskan  bercerita. “Karena tubuhnya yang pendek dan banyak orang yang ingin melihat Yesus, maka Lazarus memanjat ke atas sebatang pohon Ara supaya ia dapat melihat Yesus.

Kemudian saat Yesus lewat di bawah pohon Ara dan memandang ke atas, Yesus berkata “Hai Lazarus, turunlah dari   turunlah dari pohon Ara itu , karena itu bukan tempatmu, itu tempatnya Zakeus””

Mulailah Dengan Bertindak

Dalam “Perumpamaan Tentang Orang Samaria Yang Baik Hati”, terjadi perbincangan menarik tentang “siapakah sesama manusia” antara orang Farisi dengan Yesus. Perbincangan ini terjadi, ketika orang Farisi menanyakan tentang hal apakah yang bisa dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Yesuspun menjawab dengan mengacu kepada yang tertulis di kitab “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan kasihilah sesamamu manusia…”. Ketika orang Farisi mempersoalkan tentang “siapakah sesama manusia”, Yesus tidak memberikan jawaban langsung tentang definisi tersebut, tetapi memberikan sebuah perumpamaan yang menarik tentang orang Samaria yang baik hati (kisah lengkapnya bisa dilihat di kitab Injil Lukas 10: 25-37).

Bagi orang Farisi mempersoalkan “siapa sesama manusia” itu merupakan suatu hal penting dan perlu kejelasan. Tetapi tidak bagi Yesus. Kasih adalah kasih. Kasih itu tidak memandang manusia. Itu tidak perlu didefinisikan. Orang Samaria dalam perumpamaan tersebut adalah contoh orang yang tidak “mendefinisikan” atau memikirkan seperti apa dan siapa “sesama manusia” itu. Dia tidak berpikir dan berdebat berbagai teori tentang manusia. Tetapi yang dilihat oleh orang Samaria adalah kebutuhan manusia untuk dikasihi. Tidak peduli jika “mungkin” yang ditolong adalah musuhnya.

Di akhir perumpamaan Yesus bertanya kepada orang Farisi, siapakah diantara ketiga orang – orang Farisi, orang Lewi, dan orang Samaria – yang menunjukkan belas kasihan kepada sesama. Maka bisa dibayangkan raut muka orang Farisi yang malu dan tidak punya pilihan jawaban selain menunjuk kepada orang Samaria yang sudah menolong dan berbuat kebaikan tersebut. Malu, karena selama ini mereka berkutat banyak ke hal-hal yang bersifat teoritis, dan bukan praktis. Sesuatu perintah yang sedemikian jelas dan sederhana, tetapi ingin diperdebatkan secara panjang lebar. Tentu saja alasan memperdebatkan itu bukan karena ingin memahami perintah itu lebih dalam, tetapi karena ingin mempertahankan “budaya basa-basi”nya itu.  Apabila ditilik jauh kedalam,  motivasi yang sebenarnya adalah “keengganan untuk bertindak” karena konsepsi mereka tentang “siapa sesama itu” berbeda dengan perintah Yesus itu. Orang Farisi lebih peduli dan mempersoalkan tentang konsepsi sebuah perintah, dibanding mempersoalkan bagaimana segera bertindak. Pemahaman yang dalam terhadap sesuatu, tidak menjamin sebuah tindakan konkrit akan dilakukan. Yesus mengajarkan untuk memulai dengan melakukan suatu perintah itu yang sederhana itu, dan bukan mempersoalkannya.

Pelajaran penting dari perumpamaan ini adalah “mulailah dengan bertindak”. Seringkali kita tidak bersedia dan tidak mau bertindak, karena kita terlalu sibuk dengan “definisi” dan hal-hal teoritis yang justru menghambat tindakan kita. Kita menunda-nunda berbuat sesuatu yang konkrit, dengan alasan ingin mendapatkan kejelasan terhadap sesuatu. Ini tidak berarti kita mengabaikan berbagai pertimbangan dan rasio dalam memutuskan suatu tindakan. Tetapi jika hal itu menghambat kita dalam bertindak, maka mungkin memang kita perlu “mengesampingkan” terlebih dahulu berbagai perdebatan dan pergulatan pikiran yang menyita energi kita tersebut, dan “mulai bertindak”. Tentu saja, kita bertindak dalam batas-batas pengertian yang dipahami saat itu. 

Sejalan dengan tindakan tersebut, kita bisa belajar dan merenung-ulangkan semua proses dan pertimbangan, supaya ada perbaikan dalam tindakan selanjutnya. Jadi proses “memahami sesuatu” itu berjalan seiring dengan proses “bertindak”. Tetapi “mulai bertindak” adalah langkah awal untuk sebuah perubahan dan kemajuan hidup kita. Berani?